Benarkah Raden Patah Orang Tionghoa? Masjid Agung Demak. (simas.kemenag.go.id)

PENERBITAN buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara karya Slamet Muljana pada 1968 membuat geger. Dalam buku tersebut Muljana, doktor bidang sejarah dan filologi Universitas Louvain, Belgia, menerakan sebagian Wali Songo dan Raden Patah berdarah Tionghoa.

Simpulan itu didapat setelah meneliti sumber-sumber sejarah tradisional berupa Serat Kandha, Babad Tanah Jawi, dan Laporan Residen Poortman mengenai Naskah Kronik Cina asal Klenteng Sam Po Kong.

Raden Patah, menurut Muljana, merupakan putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit dengan Putri Tiongkok, anak Kyai Batong (Tan Go Hwat). Patah memiliki nama Tionghoa, Jin Bun, lahir di Palembang pada 1455.

Jin Bun kemudian tersohor dengan Raden Patah kemudian bertandang ke Jawa pada 1474. Dengan bantuan para Wali Songo, lanjut Muljanan, Patah mendirikan kerajaan Demak. Di saat kondisi hubungan Majapahit dengan kerajaan-kerjaan pesisir goyah, Demak menyerang dan Patah berperang melawan ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya.

Demak berhasil menaklukan Majapahit. Kemenangan Demak mengakhiri eksisntensi kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Jawa.

Simpulan Muljana mengenai asal-usul Raden Patah menuai kritik tajam. Para sejarawan menyoroti sumber-sumber utama pada buku tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tidak autoritatif.

Dalam sebuah wawancara khusus di harian Sinar Harapan, 11 Oktober 1971, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Sejarawan UGM, mementahkan simpulan Slamet Muljana dengan mengatakan tidak pernah ada Residen Semarang bernama Poortman. Hingga kini, sumber tulang punggung narasi besar Slamet Muljana, Naskah Kronik Cina asal Klenteng Sam Po Kong, tidak pernah ditemukan.

Lantaran menuai kontroversi, Jaksa Agung Republik Indonesia mengerluarkan putusan No. 043/DA/6/1971, tertanggal 26 Juni 1971, melarang peredaran buku Slamet Muljana di seluruh Indonesia karena dapat mengganggu ketertiban umum. Larangan tersebut sejatinya memiliki kerangka sosial berkait sedang meningginya sentimen anti-China usai peristiwa 1965.

Bukan hal mudah menelusuri sosok Raden Patah secara utuh. Tome Pires, duta Portugis untuk Malaka mengujungi Jawa pada abad 16, menuliskan pengalaman mengujungi Jawa dan berjumpa seorang penguasa muslim bernama Badruddin atau Pate Rodin atau Kamaruddin pada Suma Oriental. Mungkinkah Pate Rodin identik dengan Raden Patah sebagai pendiri Demak?

Pandangan berbeda disampaikan HJ de Graaff, Indoloog asal Belanda dan MC Ricklef dalam buku Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: antara historis dan mitos, mengungkapkan pendiri Demak merupakan seorang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko Po, ayah Badruddin atau Kamaruddin atau Pate Rodin.

Sementara, menurut laporan Antonio Pigafetta pada First Voyage Round The World, penguasa Demak pertama bernama Pate Unus.

Masih diperlukan riset mendalam mengenai sosok Raden Patah agar sosoknya tak lagi berbalut mitos begitu tebal. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH