Benarkah Perceraian Orang Tua Mempengaruhi Kehidupan Rumah Tangga Anaknya Kelak? Benarkah anak-anak akan mengalami hal yang sama bila orangtuanya bercerai? (Foto: Pixabay/Counseling)

PERNIKAHAN merupakan sebuah komitmen untuk menghabiskan waktu bersama pasangan seumur hidup. Di perjalanannya, beberapa pasangan memutuskan untuk mengakhiri pernikahan karena berbagai sebab.

Perceraian tak hanya melukai sepasang suami istri tetapi juga anak. Tak hanya dapat melukai, perceraian kedua orang tua akan membayangi dan mempengaruhi kehidupan anak hingga dewasa.

Sebuah penelitian di Lund University Swedia dan Virginia Commonwealth Unveristy, Amerika mengatakan bahwa perceraian bisa diturunkan ke anak. Mereka menyebutkan bahwa faktor genetika mempengaruhi anak dari keluarga broken home untuk melakukan hal yang sama saat dewasa.

Para peneliti di Virginia Commonwealth University mengungkapkan bahwa anak perempuan dari orang tua yang bercerai memiliki peluang bercerai 60% lebih besar daripada orang tua yang tidak bercerai.

Sementara untuk anak laki-laki berpeluang 30% lebih besar. Hal tersebut tidak berlaku pada anak-anak adopsi yang memiliki orang tua angkat bercerai.

cerai
Masalah yang timbul sangat mempengaruhi anak-anak? (Foto: pexel)

Dr. Jessica Salvatore, asisten profesor psikologi di Virginia Commonwealt mengatakan bahwa tumbuh bersama orang tua bercerai dapat melemahkan komitmen. Hal tersebut membuat anak-anak tersebut sulit membangun komitmen yang dibutuhkan dalam pernikahan. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh memilih untuk bercerai ketika masalah muncul di awal kehidupan pernikahan.

Namun, hal tersebut dibantah oleh psikolog, Rena Masri. "Kalau orang tua bercerai, anaknya yang sudah menikah belum tentu memiliki persepsi tentang pernikahan yang sama dengan orang tuanya," jelasnya.

Menurutnya, bukan faktor genetik yang mempengaruhi komitmen seseorang dalam pernikahan melainkan faktor lingkungan. "Seseorang akan meniru bagaimana cara lingkungan menyelesaikan masalah," ucapnya.

Dari lingkungan, anak akan melihat bagaimana orang tua menyelesaikan konflik dengan pasangannya yaitu dengan bercerai.

Tak hanya perceraian, pertengkaran orang tua yang anak lihat juga akan mempengaruhi perilaku anak dengan pasangan. Misalnya, masalah sepele akan berakhir dengan percekcokan, masalah kecil terlalu dibesar-besarkan, atau tidak menyelesaikan masalah. Melihat hal semacam itu, anak memiliki kecenderungan untuk mencontoh.

"Orang tua yang berantem sedikit, sedikit bilang cerai, anak akan melihat bahwa cerai merupakan suatu pilihan jalan keluar walaupun masalahnya tidak begitu besar," ucapnya.

Hubungan antar kedua orang tua pun dapat mempengaruhi anak dalam melihat sebuah pernikahan. Jika perceraian orang tua diawali dengan konflik berkepanjangan. Bisa jadi dapat membuat anak stres dan melihat pernikahan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan. Tetapi jika orang tua bercerai baik-baik anak dapat melihat pernikahan itu sesuatu yang menyenangkan.

cerai

Orangtua yang bercerai namun masih berhubungan baik akan membuat anak-anak lebih nyaman. (Foto: Pixabay/Tumisu)

Ia menilai, anak-anak dengan orang tua bercerai tak selalu melemahkan komitmen. Orang tua yang bercerai secara baik-baik dan tak saling menyerang satu sama lain membuat psikologi seorang anak lebih matang.

Orang tua yang kompak dalam mendidik anak meskipun telah berpisah akan membangun karakter anak.

Untuk menghindari kandasnya mahligai pernikahan, dibutuhkan usaha dan dukungan dari orang tua sehingga anak tetap mampu berpikir jernih. "Kalau ada anggota keluarga yang bercerai, anak harus dibimbing. Supaya anak bisa memandang secara netral dan mendapatkan masukan dan contoh positif dari orang lain," paparnya.

Perceraian kedua orang tua kerap kali membayangi anak. Mereka cenderung ragu ketika ingin menikah karena takut kalau perceraian orang tua mengakibatkan ia akan mengalami hal yg sama. "Sebaiknya anak mencari pertolongan ahli atau bisa melakukan premarital counseling. Supaya anak lebih siap dan lebih bisa melihat ke depan dengan optimis tentang pernikahan," himbaunya.

Pasangan juga dapat menjadi therapy healing yang baik bagi mereka. Dukungan yang ditunjukkan pasangan dapat membantu mereka melihat pernikahan dengan optimis dan bisa membantu mereka untuk mempelajari cara-cara menghadapi konflik dalam pernikahan. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH