PERGANTIAN tahun biasanya diiringi dengan optimisme. Namun, sebagian ekonom justru memperkirakan tahun 2023 bakal jadi tahun yang sulit.
"Tahun baru akan menjadi lebih sulit daripada tahun yang kita tinggalkan," kata Kristalina Georgieva, direktur pelaksana IMF dalam program berita Minggu pagi CBS Face the Nation pada Minggu (1/1).
Untuk sebagian besar ekonomi global, 2023 akan menjadi tahun yang sulit karena mesin utama pertumbuhan global, AS, Eropa, dan Tiongkok mengalami aktivitas yang melemah.
Dalam situasi sekarang ketika seluruh negeri terhubung satu sama lain, kegoyahan ekonomi suatu negeri akan berpengaruh pula pada negeri lainnya. Situasi ini pun menimbulkan ketidakpastian. Ujungnya, bisnis serba melambat.
Baca juga:
Lebih Mudah dan Terjamin, Asuransi Tertanam Diminati Pemilik Properti

Nah, bagaimana situasi tak pasti dunia berpengaruh kepada pasar properti di Indonesia? Menurut Zaza Paramita, Business Corporate Sales Divisi Penjualan BNI DigiGriya, masyarakat harus punya langkah cermat dalam memilih properti di tengah situasi tak pasti tahun 2023.
“Pertama perlu memilih properti dari developer ternama yang sudah memiliki reputasi baik khususnya di dunia properti. Selain itu, juga bisa mencari bank yang bisa memberikan fasilitas KPR sesuai dengan profil kita masing-masing,” kata Zaza seperti disiarkan keterangan pers Pinhome yang dikutip Antara (4/1).
Zaza juga menyarankan masyarakat mencari properti di lokasi yang strategis sehingga bisa memberikan akses mudah jika ingin berpergian.
Terkait jenis properti atau hunian yang cocok dijadikan investasi di tahun 2023, Zaza menyebut hunian primer dan sekunder punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
"Keuntungnnya, kalau misalkan masyarakat membeli properti primary, pasti kalian mendapatkan bangunan yang serba baru, sehingga bangunan masih dalam bentuk prima dan mengikuti tren yang ada saat ini," ungkap Zaza.
Baca juga:
Strategi Gravel Jembatani Kepentingan Tukang dan Konsumen Properti

Selain itu, pengembang juga memiliki banyak pilihan properti yang bisa menjadi opsi bagi masyarakat. Namun, ada juga efek turunannya, yakni mengharuskan inden. "Lingkungannya juga biasanya masih dalam penataan,” terang Zaza.
Berkebalikan dengan hunian primary, hunian secondary justru sudah siap huni dan lingkungannya sudah ada sehingga ada sarana transportasi publik serta fasilitas lainnya.
"Tapi downside-nya biasanya perlu perbaikan ekstra saat membeli rumah secondary. Selain itu, cara bayar rumah secondary tidak sefleksibel properti primary, di mana memerlukan DP minimal 20 persen dan DP-nya tidak bisa dicicil seperti rumah primary,” tutur Dio, Digital Sales Tim Divisi Penjualan BNI DigiGriya.
Head of Business and Development di Pinhome, Albert Karwelo, melihat bahwa konsumen sebenarnya memiliki golden opportunity saat resesi. Harga properti dan bunga kemungkinan bakal lebih rendah. Namun, mereka harus memiliki dana persiapan lebih awal sehingga beroleh blessing in disguise dari masa resesi. (dru)
Baca juga: