Belasan Siswa SD Kena Hukum Karena Tak Bayar Iuran Beli Kipas Angin Ilustrasi

MerahPutih.com - Sejumlah orangtua murid di salah satu sekolah dasar (SD) favorit di Medan belakangan ini resah dengan berbagai pungutan yang dinilai membebankan mereka.

Pasalnya, kebijakan yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan Medan dan Kepala Sekolah Dasar tersebutsudah turut mengganggu proses pendidikan. Terutama soal banyaknya kutipan dengan berbagai modus. Kebijakan itu dirasa sangat merugikan dan sangat meresahkan.

Modusnya selama ini tertutup rapi karena di sekolah favorit itukan umumnya anak-anak dari orang tua yang tergolong mampu. "Tapi bagi kami orangtua yang penghasilannya pas-pasan, sudah sangat memberatkan” ungkap salah satu orangtua siswa yang minta namanya dirahasiakan kepada wartawan, Sabtu (19/8).

Menurutnya, diantara kutipan yang mengarah kepada pungutan liar (pungli) itu seperti kebijakan mewajibkan membayar Rp 100 ribu per siswa untuk membeli kipas angin dengan alasan kelas panas. “Padahal setiap tahun tiap kelas sudah pernah beli kipas angin dengan uang sumbangan murid, ada juga yang ber-AC. Pertanyaannya tiap ajaran baru hilang kemana?” ucapnya kesal.

Bahkan hari ini, sebagai hukuman bagi siswa yang tidak membayar uang itu, untuk di kelas IV ada sebanyak 16 siswa yang dihukum berdiri di depan kelas. "Para guru tidak mau mendengar alasan apapun. Yang penting bayar” sebutnya.

Kemudian, lanjut sumber, ada juga kebijakan mewajibkan membayar Rp 10 ribu per siswa setiap bulannya untuk biaya perawatan kelas. “Memang dana BOS yang mengalir ke sekolah kemana penggunaannya?” ujar sumber.

Selanjutnya, menyangkut pembangunan kantin baru hingga membuat berkurangnya luas halaman sekolah.

Alhasil, untuk upacara di hari Senin terpaksa digelar dalam dua shift. Padahal kantin lama masih beraktifitas. “Ini yang kami curigai adanya permainan untuk mencari keuntungan. Kami juga menduga Kepsek dan Kepala Dinas Pendidikan Medan sangat tahu soal ini” tukasnya.

Sejauh ini, upaya konfirmasi yang dilakukan sejumlah wartawan kepada Kepala SD itu belum membuahkan hasil. (sal)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH