Belanda Melanggar Perjanjian Linggarjati, Soedirman Memerintahkan Para Pejuang Menggempur (14) Jenderal Soedirman memberikan amant perjuangan kepada pejuang Indonesia untuk menggempur Belanda. (Foto: Tjrokropranolo pada Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak di Indonesia.

PASUKAN Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati. Mereka menerobos garis demarkasi. Menangkapi para pemuda. Menembaki rumah penduduk.

“Belanda memulai aksi militer secara sepihak, tanpa mengumumkan perang kepada Republik,” imbuh Tjokropranolo, pengawal Jendral Soedirman pada Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak di Indonesia.

Di Kopeng, Salatiga, Jawa Tengah, pasukan Belanda menangkap para pemuda tak bersenjata petugas Palang Merah nan masih berumur sekira 15 tahun. Termasuk, salah satunya, adik Tjokropranolo, bernama Djoko Pramono.

Mereka menjadi tahanan Belanda. Dimasukan penjara Mlaten, Semarang, kemudian dipindah di penjara Pekalongan, hingga Nusakambangan, Cilacap. Sekira 1.000 orang tercatat menjadi tawanan Belanda.

Suasana semakin panas. Para Tentara Nasional Indonesia, di bawah komando Panglima Besar Jenderal Soedirman siap angkat senjata. Tapi jalur negosiasi sedang ditempuh.

Perdana Menteri AK Gani menemui Schermerhorn pada 20 Juli 1947, mengusulkan untuk berunding sekali lagi. Bila perundingan gagal, maka pihak ketiga ditunjuk sebagai penengah.

Di tengah usaha diplomasi, tanpa basa-basi Perdana Menteri Belanda louis Beel memberi pidato berisi pemberian kekuasaan kepada van Mook untuk melakukan aksi militer dengan alasan karena pihak RI tidak mematuhi Perjanjian Linggarjati untuk membuat pemerintahan bersama.

Belanda lantas memblokir sambungan telepon antara Jakarta dan Yogyakarta pada 20 Juli 1947. Mereka pun menangkap sejumlah tokoh, di antaranya Walikota Soewiryo dan AK Gani. Keduanya ditahan di Pegangsaan Timur nomor 56.

Jenderal Soedirman meradang. Lewat siaran RRI, sang panglima besar memberikan amanat kepada seluruh pejuang untuk membalas aksi Belanda.

“Sekarang tiba saatnya bagi segenap lapisan rakyat Indonesia untuk menunaikan sumpahnya terhadap Tuhan dan Ibu Pertiwi, menjalankan dengan sesungguh-sungguhnya semboyan semboyan cinta kemerdekaan,” kata Soedirman.

Mendengar perintah pucuk pimpinan TNI, seluruh prajurit dan rakyat terbangun untuk bersatu padu menggempur pasukan Belanda.

Serbuan pertama Belanda secara mendadak membuat pasukan republik kocar-kacir ke pedalaman membuat basis pertahanan baru. “Belanda nyatanya hanya bisa menguasai kota-kota besar dan jalan-jalan raya saja. Di luar itu, hampir seluruh wilayah dikuasai TNI dan laskar perjuangan serta rakyat kita,” papar Tjokropranolo.

Pihak republik menyerang balik. Angkatan Udara RI dengan hanya menggunakan dua pesawat biasa disebut jenis Cureng peninggalan Jepang, membombardir pertahanan Belanda, di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga.

Belanda membalas serang. Perbantuan pasukan mampu mengobrak-abrik pertahanan pihak republik. Pasukan Belanda dari jarak jauh menggunakan mortir sembari didukung pertahanan linier.

Bukan makin surut, justru semangat juang pihak RI terus bergolak. Meski persenjataan kalah canggih, para pejuang menggunakan taktik kucing-kucingan.

“Maka pasukan kita hanya dapat melakukan pembalasan dengan taktik gerilya, serbu dan menyingkir. Sebelum Belanda sempat membalas, pasukan kita telah kembali ke basis masing-masing di pedalaman, hingga terjadi semacam kucing-kucingan,” ungkap Tjokropranolo. Pertempuran kemudian berpindah di atas meja perundingan.

Aksi militer Belanda kemudian dibahas dalam sidang PBB. Pada sidang Dewan Keamanan PBB, 1-2 Agustus 1947, memutuskan agar pihak Belanda dan Indonesia menghentikan tembak-menembak dan memulai kembali perundingan. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho