Belajar Saling Memahami dari Penyandang Tuli Surya Sahetapy (belakang-kiri) dan Laura Lesmana Wijaya (belakang-kanan). (MP/Aldi Fadlillah)

BAGI Surya, menyebarkan bahasa isyarat agar diterima semua kalangan sangat penting. Hal itu juga dapat membuat rasa percaya diri bagi penyandang tuli. Selama ini, banyak kasus penyandang tuli baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, dipaksa untuk bisa berbicara. Padahal, kemampuan berbicara pada penyandang tuli tidak bisa dipaksakan.

Surya bersama teman-teman Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pubisinsindo) gencar menyosialisasikan bahasa isyarat. Tidak hanya untuk penyandang tuli, tapi juga semua masyarakat Indonesia bukan penyandang tuli. Bahasa isyarat juga bisa menyatukan bangsa Indonesia sama halnya seperti bahasa Indonesia. Bahasa isyarat setara dengan bahasa Indonesia.

"Kalau bisa berbicara boleh itu bagus. Tapi tidak bisa berbicara juga tidak apa-apa," kata Surya dengan bahasa verbal dengan gerak tangan yang atraktif.

Surya Sahetapy. (MP/Aldi Fadlillah)
Surya Sahetapy. (MP/Aldi Fadlillah)

Kalau tidak bisa bahasa verbal, ada alternatif lain yaitu bahasa isyarat. Bahasa isyarat ini yang harus dipelajari. Pembelajaran bahasa isyarat tak lepas dari pemahaman pentingnya bahasa tersebut bagi orang-orang bukan penyandang tuli. Maksudnya, dukungan keluarga dan masyarakat pasti sangat membantu.

"Selama ini orang selalu bertanya, apa itu? Bahasa apa itu? Bahasa Tarzan?" kata Surya tentang persepsi umum bahasa isyarat. Padahal, bahasa isyarat merupakan bahasa universal. Orang-orang bukan penyandang tuli juga butuh bahasa isyarat.

Bahasa isyarat misalnya bisa diterapkan saat menyelam karena bahasa verbal tak bisa digunakan. Selain itu, di tempat-tempat berisik. "Bahkan bahasa isyarat bisa membuat awet muda," kata Surya sambil tertawa. Bahasa isyarat lebih ekspresif dengan memainkan mimik muka dan gestur yang tak membosankan.

Bahasa isyarat merupakan salah satu jalan untuk saling memahami. Antara penyandang tuli dengan masyarakat bukan penyandang tuli. Permasalahan utama yaitu bagaimana orang-orang dengan pendengaran dapat memahami penyandang tuli. Bagaimana gerak bibir bisa dibaca karena tidak terlalu cepat, bagaimana segala akses informasi dapat ditangkap, teks-teks di fasilitas umum dapat diakses, sampai bagaimana orang-orang berkomunikasi dengan penyandang tuli saat pertama kali bertemu.

Ia mencotohkan. Suatu hari, seorang orang tua memukul anaknya yang penyandang tuli ketika mengetahui Surya yang disabilitas tuli ternyata bisa bahasa verbal. "Itu Surya bisa bicara," kata Surya menirukan kembali perkataan orang tua itu kepada anaknya. Itu menandakan masih ada orang tua yang memaksakan bahasa verbal kepada anaknya yang penyandang tuli, tanpa melihat ada alternatif lain yaitu bahasa isyarat untuk berkomunikasi.

Tak hanya Surya Sahetapy. Laki-laki kelahiran Jakarta, 21 Desember 1994 ini kemudian memperkenalkan rekan sesama aktivis tuli. Dia adalah Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pubisindo) Laura Lesmana Wijaya.

Surya Sahetapy (kiri) dan Laura Lesmana Wijaya. (MP/Aldi Fadlillah)
Surya Sahetapy (kiri) dan Laura Lesmana Wijaya. (MP/Aldi Fadlillah)

"Tanya dia," kata Surya sambil mempersilakan Laura saat merahputih.com menanyakan bagaimana sulit dan mudahnya memahami bahasa isyarat bagi bukan penyandang tuli.

Laura merupakan jebolan linguistik dari Chinese University of Hong Kong. Dia juga memperjuangkan bagaimana bahasa isyarat dapat dipelajari oleh semua orang. Saat ini, Pubisindo telah merampungkan materi kelas bahasa isyarat level 1-3. Butuh riset yang lama merampungkan setiap level. Sementara kelas bahasa isyarat butuh level 1-6.

Merahputih.com kemudian diajak untuk mamahami bahasa isyarat. Di ruangan tidak boleh ada yang bersuara. Semua dilakukan dengan bahasa isyarat.

Laura meminta sebuah buku catatan dan pulpen. Semua tak ada yang berbicara. Dia lalu menuliskan namanya, "LAURA". Kemudian dia menunjukkan tulisan itu dengan menggerakkan tangan kanan seperti gerakan mencoret di telapak tangan kiri. Kemudian dia menempelkan telapak tangan kanannya ke dada. Lalu gerakan jempol tangan menempel ke dagu. Setelah itu kertas diberikan ke yang lain.

Satu orang kemudian menuliskan nama di bagian kertas lainnya. Sambil terus berkomunikasi dengan Laura. Tulisan nama belum digilirkan ke yang lain sampai benar-benar mengerti apa yang disampaikan melalui bahasa isyarat yang ditirukan Laura. Nama saya Laura (dengan gerakan tangan menulis ditelapak, lalu menujuk diri dengan telapak), lalu siapa nama kamu? (sambil gerakan jempol tangan kanan di dagu dengan dorongan ke depan). Tak ada suara dalam ruangan. Semua berkomunikasi dengan hening. Hanya menyampaikan maksud melalui gerakan tangan, gestur, dan mimik wajah.

Dengan tanpa suara, Laura mengajak semua orang memahami tentang dunianya, dunia penyandang tuli. Dari sana, semua orang dapat memahami bagaimana bahasa isyarat menjadi bahasa bersama yang dapat menyampaikan maksud satu sama lain. Bahasa isyarat merupakan pilihan yang sama dengan bahasa Indonesia.

Laura Lesmana Wijaya. (MP/Aldi Fadlillah)
Laura Lesmana Wijaya. (MP/Aldi Fadlillah)

Laura menceritakan, perjuangan Indonesia ramah terhadap penyandang disabilitas tuli masih panjang. Salah satunya membumikan bahasa isyarat. Hal itu jauh seperti dilakukan di negara lain, contonnya Amerika. Amerika telah memperjuangkan pemakaian bahasa isyarat secara meluas 50 tahun lebih. Sementara di Indonesia baru 10 tahun belakangan.

Selain bahasa isyarat, komunikasi bisa dijalin dengan bahasa tulis. Itu juga yang diperjuangkan Pusbisindo untuk penggunaan bahasa teks pada film-film dan acara-acara televisi dan fasilitas-fasilitas publik.

"Tanyakan kepada mereka komunikasi dengan cara apa, lisan (gerak bibir), tulisan, atau isyarat," kata Laura tentang bagaimana seharusnya komunikasi pertama ketika bertemu dengan penyandang tulis. Selama ini, banyak orang takut berkomunikasi dengan penyandang tuli. Di banyak negara maju, masyarakat luas telah memahami bagaimana harus berkomunikasi dengan para penyandang tuli. Contohnya di restoran atau bandara, petugas sudah tahu bagaimana berkomunikasi dengan penyandang tuli supaya mendapatkan pelayanan yang sama. Dengan gerak bibir, bahasa isyarat, atau mereka harus lari ke belakang untuk mengambil secarik kertas untuk menyampaikan bahasa tulis.

Laura kini bisa berkomunikasi isyarat dalam tujuh bahasa, yaitu Indonesia, Amerika, Inggris, Sri Lanka, Hong Kong, Jepang, dan Korea. Kemampuan berbahasa itu dia pelajari dari penyandang tuli berbagai negara itu saat satu asrama di universitas. Begitu pun di Indonesia, setiap daerah memiliki bahasa isyarat yang berbeda-beda satu sama lain. Memahami bahasa isyarat berarti memahami orang lain. Seperti kata Surya, bahasa isyarat dapat ditangkap 100 persen yang berarti menghilangkan miss communication. (zul)

Baca juga artikel terkait: Surya Sahetapy Ingin Indonesia Ramah Disabilitas

Kredit : zulfikar


Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH