Belajar dari Bagus, Milenial Ber-IPK 2,7 Sukses Jadi Ilmuwan di Inggris Bagus Putra Muljadi. Foto: Facebook

MerahPutih.com - Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang terbilang rata-rata yakni 2,7 saat lulus sarjana, Bagus Putra Muljadi membuktikan bahwa nilai bukan segalanya. Anak muda milenial itu sukses melanglangbuana dan kini membuktikan diri menjadi ilmuwan kelas dunia di Inggris.

Semasa kuliah, Bagus terbilang biasa-biasa saja. Lulus kuliah tidak secepat teman-temannya di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) tanpa meraih predikat cumlaude atau lulus dengan pujian.

Dengan ketekunan dan kerja keras, Bagus membuktikan nilai bukan segalanya. Toh buktinya, selepas menamatkan sarjana, dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana dan meraih gelar master dan doktornya pada bidang mekanika terapan di National Taiwan University (NTU).

bagus dosen
Bagus Putra Muljadi saat menjadi pembicara di acara Hardiknas 2018. Foto:Facebook

Bagus memang merupakan ilmuwan Tanah Air yang tak biasa. Berusia muda dan kini sudah menjadi Asisten Profesor di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia Universitas Nottingham, Nottingham, Inggris. "Saya merupakan salah satu profesor termuda di departmen saya di Nottingham," ujar dia, saat ditemui di Bandung, Jawa Barat.

Bukan hal yang mudah bagi Bagus untuk menapak karier internasional. Dia harus menempuh jalan yang berliku dan tentu saja memerlukan ketekunan. Selepas dari NTU, karir akademiknya pun melesat.

Bagus melanjutkan post doctoral scholar (post doctoral) pada program studi Matematika Institut de Mathmatiques de Toulouse, Perancis. Hingga kemudian melanjutkan kembali post doctoral-nya pada program studi ilmu bumi dan teknik Imperial College London.

Empat Kali Pindah Jurusan

Universitas Nottingham, Nottingham, Inggris
Kampus Universitas Nottingham, Nottingham, Inggris. Foto: SUN Education Group

Tak hanya muda dan berprestasi internasional, Bagus juga mematahkan anggapan linearitas dalam akademik adalah segalanya. Dia membuktikannya sendiri, setelah lulus pada prodi teknik mesin kemudian melanjutkan pascasarjana pada bidang mekanika terapan. Selanjutnya "post doctoral" di bidang ilmu bumi dan matematika.

Menurut Bagus, ilmu pengetahuan sudah seharusnya tidak disekat dengan batasan-batasan yang disebut dengan linearitas. Justru dengan apa yang dilakukannya tersebut, membuat penelitian yang dilakukannya menjadi beragam.

Pindah jurusan sampai empat kali yang dilakukan Bagus tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya. Selain riset yang menjadi beragam, juga memiliki rekan penelitian yang juga beragam karena dari berbagai bidang studi.

Namun hal itu bukan tanpa risiko, Bagus menceritakan pada saat awal mengambil "post doctoral" di bidang matematika rasanya seperti pada tahun pertama kuliah doktor.

"Saya mulai dari awal (belajar lagi dari awal), makanya banyak orang tidak mau ambil risiko, karena biasanya begitu udah dapat gelar doktor, umur kamu sudah 28 tahun atau 30 tahunan bahkan ada yang lebih dan sudah berkeluarga. Mengambil risiko seperti itu pada usia demikian sangat berat," tutur lelaki kelahiran Jakarta, 1 Maret 1983 itu.

Berujung Manis

bagus dosen
Bagus Putra Muljadi saat mengajar di kelas. Foto:Facebook

Keberanian mengambil risiko dan berjibaku menghasilkan karya ilmiah di berbagai bidang yang tidak linear malah membuatnya bisa menjadi posisi akademis seperti asisten profesor di Inggris.

"Nonlinear justru membantu kita untuk mendapatkan posisi-posisi permanen, apalagi di Inggris karena hal itu membuat kita jadi unik, dan kalau menurut saya memang ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak disekat-sekat. Justru itulah yang saya jawab waktu ditanyakan pada saat wawancara , karena jurnal yang saya memiliki cenderung di bidang matematika bahkan ada dibidang ilmu bumi," papar pria dengan dua anak itu, dilansir Antara.

Sebagai dosen muda yang sudah berkancah di dunia internasional, apa yang menurut Bagus yang harus dimiliki para dosen? Jawabnya adalah pikiran yang terbuka dan mau bekerja sama.

"Semua proyek pada masa depan seperti ketahanan pangan maupun energi, tidak bisa diselesaikan jika masih ada sekat-sekat (ilmu pengetahuan) yang kaku seperti sekarang. Dosen 'zaman now' harus terbiasa dengan konsep kolaborasi interdisiplin, itu yang penting," saran Bagus. (*)



Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH