Bela Jokowi, Menteri Muhadjir: Pembangunan Tanpa Infrastruktur Ibarat Salat Tanpa Wudhu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (Foto:Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.Com - Salah satu kritik terbesar kepada rezim Jokowi yakni kegunaan infrastruktur yang dibangun secara masif bagi masyarakat banyak. Biaya jumbo dibalik proyek-proyek infrastruktur membiang utang yang kian membengkak.

Terhadap kritik tajam atas pembangunan infrastruktur, Menteri Pendidikan dan Kebudyaan Muhadjir Effendy mempunyai pembelaan tersendiri. Menteri Muhadjir menganalogikan pembangunan infrastruktur dengan salat dan wudhu.

Bagi Muhadjir Effendy, pembangunan tanpa infrastruktur ibarat salat tanpa wudhu. Tidak ada negara maju tanpa infrastruktur.

"Negara kita baru memiliki sekitar 40 persen prasyarat infrastruktur untuk menjadi negara maju. Jadi tugas kita saat ini adalah memanfaatkan segala potensi yang tersedia untuk menjadi negara berkemajuan," kata Muhadjir dalam Sarasehan Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di UMM Dome di Malang, Kamis (7/2).

Mantan Rektor UMM itu mengakui memang tidak hanya infrastruktur yang menjadi prasyarat menjadi negara maju, tetapi juga harus ditopang dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan bermoral. Penanaman pendidikan etika sangat penting sebelum pendidikan formal.

Proyek Infrastruktur pemerintah
Salah satu pembangunan infrastruktur garapan pemerintah (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

"Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi yang bertanggungjawab untuk mengawal pembentukan karakter masyarakat Indonesia. Dapat kita lihat dari napak tilas tokoh-tokoh Muhammadiyah, bagaimana membangun negara dengan watak dasar Muhammadiyah," jelas Muhadjir Effendy yang juga Wakil Ketua Badan Pembina Harian UMM.

Ia mencontohkan, peran Ir Djuanda pencetus Deklarasi Djuanda yang hingga saat ini dirasakan oleh negara kepulauan ini. Djuanda sebagai tokoh Muhammadiyah yang melakukan klaim wawasan Nusantara bahwa seluruh daratan dan lautan Indonesia merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Jika kita lacak petilasan-petilasan, Muhammadiyah sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa kita mempunyai andil yang bermakna dengan semangat kasih sayang versi Muhammadiyah untuk membangun NKRI. Dan sekarang tugas kita untuk melanjutkannya," terangnya.

Sebab, lanjut Muhadjir sebagaimana dilansir Antara Indonesia lahir sudah menjadi negara yang besar, baik dari segi kualitas maupun kuantitas sumber dayanya. Hal ini dapat dibuktikan dari warisan terbesar di dunia, yaitu luas wilayah dan jumlah penduduk di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan alam dan budaya yang beraneka ragam.

"Warisan termahal dari Republik Indonesia adalah persaudaraan, persatuan, kesatuan. Jadi, kita harus menghindari potensi perpecahan. Menjaga warisan tersebut merupakan kuncinya," kata Menteri P & K.

Jika sebelumnya Indonesia sebagai negara yang besar, kata Muhadjir, sudah sepatutnya saat ini menjadi negara yang maju.

"Negara yang besar merupakan prasyarat menjadi negara yang maju. Untuk menjadi negara yang maju salah satunya harus didukung dengan infrastruktur," tambah Menteri Muhadjir.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: KPK Imbau Penganiaya Penyelidiknya Segera Serahkan Diri ke Polisi



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH