Begini Sejarah Jomlo Susah Jodoh Sampai Bikin Merah Kuping Pemerintah! Perempuan Jawa di masa lalu sedang berpose di teras rumah. (Foto: KITLV)

MAU jomlo seumur hayat di masa kini tak jadi soal. Paling-paling kudu kuat cibiran tetangga. Apalagi harus mempan menghadapi pertanyaan super garing di pertemuan keluarga tentang urusan menikah. Hidup menjomlo di era digital bukan lagi dianggap sebuah kutukan, melainkan keputusan personal seseorang.

Baca juga:

Ketangguhan Seorang Jomlo Menghadapi Pandangan Miring Banyak Orang

Jangankan pemerintah, keluarga saja sudah tidak sepatutnya turut campur keputusan seseorang di dalam asmara. Mau jomlo bahkan tidak menikah biarlah menjadi keputusan penting dan harus dihormati.

Namun, di masa lalu, status jomlo di usia produktif justru membuat merah kuping pemerintah. Pada permulaan 1808, pemerintah kolonial Belanda merumuskan sebuah perintah kepada para bupati dengan tugas utama mengawasi orang-orang jomlo atau lajang.

jomlo
Tak masalah menjadi jomlo di masa kini. (Foto: Unsplash-Noah Silliman)

Pada uraian perintah tersebut, dalam Plakaatboek,XV, P. 1808, disebutkan agar perhatian para bupati ditujukan kepada kaum pribumi dan rakyat jelata supaya tidak lagi hidup menyendiri. “Semua pria dan wanita mudah yang sudah bisa menikah harus segera menikah dan dengan demikian akan mencegah terjadinya kemalasan, hidup menggelandang, dan kenakalan lainnya serta mendorong pertambahan penduduk secara tetap”, dikutip Peter Boomgard pada Anak Jajahan Belanda: Sejarah Sosial dan Ekonomi Jawa 1795-1880.

Baca juga:

Gegayaan Pakai Gelang Festival, Sederhana Tapi Fashionable

Kejomloan jelas diterjemahkan pemerintah sebagai masalah ekonomi. Pemerintah menggariskan, seturut Boomgaard, hanya pasangan menikah bisa membentuk satuan ekonomis dan mampu mencukupi kebutuhan. Mereka menjadi motor penggerak semua kewajiban sosial, ekonomi, dan politik terhadap komunitas lokal dan negara.

Sebaliknya, lanjut Boomgaard, kaum jomlo, duda, dan janda tidak dianggap sebagai satuan sosial dan ekonomi nan utuh dan lengkap. Di daerah-daerah dengan sistem kepemilikan tanah umum, tidak memperkenankan golongan tersebut menjadi pemilik tanah.

jomlo
Mencintai diri sendiri jauh lebih penting. (Foto: Unsplash-Mayur Gala)

Lagi pula, pada sekira tahun 1900 orang Jawa menganggap hidup membujang atau jomlo pada usia tertentu sebagai kekeliruan atau menyimpang kodrat. “Tidak dapat disangkal bahwa di Jawa hampir semua orang menikah. Tidak ada adat kebiasaan atau lembaga yang melarang pernikahan,” tulis Boomgaard.

Tak heran bila status menikah senantiasa didorong penguasa Jawa maupun penguasa Belanda. Jelaslah, baik komunitas desa dan negara menganggap pernikahan sebagai hal penting mewujudkan tatanan masyarakat harmonis dan produktif.

Sementara, negara sangat tertarik dengan status pernikahan karena membuat warga memiliki penghasilan sehingga bisa membayar pajak kepada negara. (*)

Baca Juga:

Kenapa Sih Kamu Susah Dekat dengan Orang Lain?

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Lokasi Wisata Yogyakarta Ditutup Sementara Hingga 2 Juli
Travel
Lokasi Wisata Yogyakarta Ditutup Sementara Hingga 2 Juli

Lokasi wisata yang ditutup antara lain ...

Tari Barong, Pertunjukan Mistis ala Negeri Aing
Tradisi
Tari Barong, Pertunjukan Mistis ala Negeri Aing

Biarpun terkesan arkaik, hal-hal mistis itu justru jadi hal menarik di negeri aing.

Bukannya Bikin Gemetar Pihak Inggris, Tank Arek Suroboyo Malah Ganggu Bung Karno
Indonesiaku
Bukannya Bikin Gemetar Pihak Inggris, Tank Arek Suroboyo Malah Ganggu Bung Karno

Mereka sebelumnya telah bersepakat menghentikan tembak-menembak

Nasi Kapau Juragan, Nikmatnya Kuliner Khas Nagari Kapau yang Melegenda
Kuliner
Nasi Kapau Juragan, Nikmatnya Kuliner Khas Nagari Kapau yang Melegenda

Kelezatan kuliner khas Bukittinggi bisa kita nikamti di Nasi Kapau Juragan Bintaro, Tangerang Selatan.

Kelenteng Bersejarah di Jabodetabek yang Layak Kamu Kunjungi
Travel
Kelenteng Bersejarah di Jabodetabek yang Layak Kamu Kunjungi

Tentunya dengan tetap menghormati tradisi Tionghoa dan protokol kesehatan yang berlaku selama pandemi.

Bubur Merah Putih Sambut Kelahiran Bayi
Kuliner
Bubur Merah Putih Sambut Kelahiran Bayi

Bubur merah putih juga disebut dengan bubur sengkolo.

Karbo Ketemu Karbo, Kebiasaan Makan Orang Indonesia
Kuliner
Karbo Ketemu Karbo, Kebiasaan Makan Orang Indonesia

Tentunya makanan ini dijauhkan oleh orang-orang yang lagi diet. soalnya dalam satu piring terdapat kandungan karbohidrat bertemu dengan karbohidrat lainnya

Menparekraf harap Desa Wisata dapat jadi Lokomotif Kebangkitan Parekraf
Travel
Menparekraf harap Desa Wisata dapat jadi Lokomotif Kebangkitan Parekraf

Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 merupakan salah satu cara untuk memulihkan perekonomian Indonesia.

Take Away Nasi Padang, Dijamin Lebih Kenyang
Kuliner
Take Away Nasi Padang, Dijamin Lebih Kenyang

Berawal dari restoran Padang yang banyak dikungjungi kaum elit pada masanya.

Menghitung Hari Baik dan Nahas pada Masyarakat Baduy
Tradisi
Menghitung Hari Baik dan Nahas pada Masyarakat Baduy

Baduy punya dua alat penting untuk menghitung hari baik dan nahas.