Nasib Lokomotif Pengangkut Sukarno Setelah Dua Tahun Tak Terurus Lokomotif kuno saat tiba di Stasiun Purwosari beberapa tahun lalu. (MP/Raditya)

LOKOMOTIF hitam bernomor D52099 itu masih tampak gagah meski di bagian atapnya berkarat. Ia mematung selama lebih kurang dua tahun di stasiun Purwosari, Solo. Saban hari terkena terik matahari dan terkadang bermandi air hujan.

Sejak dipindahtangankan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pada November 2016 lalu, lokomotif nan semula berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut direncanakan bakal diperbaiki di Balai Yasa, Yogyakarta.

"Sabtu besok akan dibawa ke Balai Yasa. Kita hanya ketempatan saja. Kalau penanganannya langsung dari aset kantor pusat, karena ini termasuk heritage. Sehingga perlu penanganan khusus," kata Executive Vice President Balai Yasa Yogyakarta, Hasyim Suwondo kepada merahputih.com.

Balai Yasa Yogyakarta, menurut Hasyim, memiliki peralatan mumpuni untuk merestorasi lokomotif tersebut. Cukup lengkap. "Sehingga jika membutuhkan peralatan tidak perlu mencari ke mana-mana," ungkap Hasyim.

Lokomotif D52099 semula didatangkan ke Solo untuk pengembangan wisata Kota Bengawan. Khususnya, sebagai cadangan kereta uap Jaladara. Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo berharap agar lokomotif tersebut segera diperbaiki untuk memanjakan wisatawan ke sejumlah lokasi bersejarah di kota Solo. Apalagi, Lokomotif D52099 memiliki nilai historis begitu kuat.

Lokomotif kuno saat tiba di Stasiun Purwosari beberapa tahun lalu. (MP/Raditya)

Sukarno-Hatta Menuju Yogyakarta

Belum genap setahun merdeka, keadaan Indonesia kembali mencekam. Ancaman itu datang dari tentara kolonial Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA). Kegentingan tersebut terjadi tepat Tahun Baru 1946. Penguasaan atas Indonesia menjadi incaran Belanda untuk kali kedua.

Dalam kondisi darurat itu, ibu kota negara mesti dipindahkan. Dari Jakarta menuju Yogyakarta. Begitulah kata Bung Karno seperti yang ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. "Tidak ada seorang pun dari saudara boleh membawa harta benda. Aku juga tidak," kata Sukarno, Rabu, 2 Januari 1946, di Jakarta.

Tak mau menunggu lama. Para tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta mulai merancang strategi bagaimana menuju Yogyakarta dengan aman. Munculah ide pemberangkatan menggunakan jalur darat, khususnya menggunakan Kereta Api Luar Biasa (KLB).

Persiapan dan Pengamanan Kereta

Di Dipo Manggarai, rangkaian kereta dipersiapkan. Salah seorang pemimpin KLB, Anwir dengan telaten memeriksa rangkaian. Sekitar empat kereta, termasuk kereta bagian poliklinik disusun. Presiden Sukarno bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta berada di dua kereta paling belakang.

Soedarjo, dalam buku Aku Ingat, menjelaskan demi menjaga keamanan Presiden beserta rombongan, pemberangkatan dimulai dari belakang rumah Bung Karno di Pegangsaaan Timur tepat pukul 18.00 WIB.

Kereta Poliklinik dalam rangkaian KLB. (MP/Noer Ardiansjah)

"Rangkaian dikeluarkan dari bengkel oleh Ali Noer dan kawan-kawan Angkatan Muda Kereta Api 17.15 dan pukul 17.30 dilangsir ke belakang rumah Bung Karno," kata Soedarjo.

Sebanyak 15 belas pasukan khusus disiapkan untuk mengawal Sang Proklamator. Sukarno berpesan agar para pengawal tidak membawa barang apa pun dalam proses pemindahan. "Yang agak mencolok dalam KLB dua buah mobil kepresidenan, merek Buick 7 seat cat hitam dan merek de Soto cat kuning."

Langsiran kereta api dari Manggarai ke Pegangsaan pada waktu itu memang lazim dilakukan. Mangil Martowidjojo, dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno, mengatakan para pengawal mengatur pemberangkatan dengan sebaik mungkin. "Agar seolah-olah tidak ada tanda-tanda bahwa Bung Karno dan rombongan akan meninggalkan Jakarta," tulisnya.

Rombongan mulai berangkat dari Pegangsaaan dengan hati was-was. "Bernapas saja harus sangat hati-hati," ungkap Sukarno. Lantaran serdadu KNIL di sekitar serdadu Belanda masih begitu kuat dan garang.

Setelah semua rombongan berada dalam KLB, kata Mangil, semua pengawal dipersilakan masuk ke dalam kereta. "Waktu itu keadaan di dalam KLB gelap sekali. Lampu-lampu sengaja tidak dinyalakan," tulisnya.

Sesampainya di Stasiun Manggarai, KLB berhenti sejenak. Tak juga tenang. Tentara besutan Belanda banyak berkeliaran. Setiap kereta diperhatikan. Dipelototi.

Beruntungnya, kereta yang ditempati para tokoh bangsa diabaikan NICA dan KNIL. "Seandainya kami ketahuan, seluruh negara dapat dihancurkan dengan satu granat," katanya.

Rombongan Selamat Sampai Yogyakarta

Tak lama berselang, KLB kembali berangkat. Kereta melaju dan berbelok melintasi arah Stasiun Jatinegara. Kemudian menuju Stasiun Klender dengan kecepatan ditambah hingga mencapai 25 km per jam.

Soedarjo dalam buku yang sama mengaku tak menyangka atas apa yang telah terjadi. Keberangkatan rombongan dari Pegangsaan tidak diketahui patroli-patroli Belanda. "Lewat Stasiun Klender, Anwir mengizinkan masinis melaju dengan kecepatan sampai 90 km per jam," tulis Soedarjo.

Kereta Api Luar Biasa (KLB). (MP/Noer Ardiansjah)

Selama 15 jam perjalanan, pengawalan serta pengamanan diperketat. Jumat, 4 Januari 1946, sekitar pukul 9.00 WIB rombongan sampai di Yogyakarta dengan selamat.

Presiden sempat tinggal sementara di kawasan Pura Pakualaman sebelum akhirnya tinggal di istana bekas Gubernur Belanda di selatan Malioboro.

Sejak 4 Januari 1946, dimulailah peran Yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia. Meski demikian, tak juga boleh dilupakan peran KLB yang begitu gagah mengantarkan para tokoh bangsa. (*) Artikel Radit (Solo) & Noer Ardiansjah.


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH