Begini Kerasnya Tahapan Tes "Minggu Neraka" Kopassus! Koppasus (Rizki Fitrianto/MP)

BEROLEH baret merah dan brevet komando kebanggan korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mungkin menjadi impian setiap prajurit. Selain bangga bisa mengabdi pada salah satu pasukan elit terbaik di dunia, juga akan ditempa menjadi prajurit dengan kemampuan di atas rata-rata. Tentu saja latihannya tak sembarang.

Mula-mula para prajurit harus melalui Tahap Basis, berupa keterampilan dasar, seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, dan navigasi darat. Semua itu dilakukan di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung.

Seusai tamat Tahap Basis, prajurit akan berlatih Tahapan Hutan Gunung untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan, anti penjejakan, dan survival di tengah hutan. Latiha tersebut berlangsung di hutan kawasan Citatah, Bandung. Tahapan tersebut kemudian diakhiri dengan berjalan kaki Situ Lembang-Cilacap dengan membawa amunisi, tambang peluncur, dan perlengkapan perorangan.

Sesampai di Cilacap, prajurit akan beroleh latihan cukup berat berupa Tahap Rawa Laut atau kemampuan berinfiltrasi melalui rawa laut. "Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, tak heran bila disebut Hell Week atau Minggu Neraka," tulis Mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo pada buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan.

Selama seminggu, prajurit beroleh materi Navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet. Para calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

Mereka dilepas pagi hari tanpa bekal, dan harus sampai di suatu titik pada pukul 10 malam. Prajurit harus menghindari segala rintangan alam maupun tembakan musuh selama tahap Pelolosan. Kalau tertangkap, sang prajurit akan mendapat interogasi dan siksaan selaik perang sungguhan. ia tak boleh membocorkan informasi meski beroleh siksaan fisik selam tiga hari.

“Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa, namun para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi,” tulis Pramono Edhie.

Begitu berat syarat dan tes menjadi Kopassus sehingga tak sembarang prajurit mampu mencapai beberapa nilai standar, seperti standar fisik 61, tes psikologis prajurit bernilai 70, dan kemampuan menembak dan berenang tanpa henti sejauh 2000 meter.

“Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando,” tutupnya.


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH