Begini Etika Menanggapi Curhatan Pendengar Radio ala Iwa K Iwa K penyiar harus dapat menghibur pendengarnya yang sedih.. (Foto: instagram.com/iwaktherockfish)

TANGGAPAN penyiar radio memberikan kesan mendalam bagi pendengar. Apalagi penyiarnya asyik, segmen curhat di radio bisa menjadi primadona terutama di kalangan anak muda. Di sana kamu bisa berinteraksi langsung dengan penyiar, lewat sambungan telepon, mencurahkan segala keluh kesah tetang asmara atau pertemanan ke udara.

Penyiar radio sekaligus rapper asal Bandung Iwa K menceritakan, sesi curhat di radio telah ada sejak 1980-an. Sesi ini berisi keluh kesah pendengar, berharap meluangkan kegelisahan hati, dan mendapat tanggapan positif. Untuk memberi tanggapan yang tepat, diperlukan kesadaran tentang penting memahami etika penyiaran. Terutama, etika memberi respons terhadap curhatan pendengar.

Baca Juga:

Kokohnya Radio di Tengah Hantaman Era Digital

Pakar komunikasi mengungkapkan, "Radio is a portable friend". Kemampuan menempatkan diri sebagai teman yang baik dalam mendengarkan curhatan pendengar. Pentingnya memilah informasi yang layak dan tidak untuk dibicarakan saat siaran, baik penyiar pemula hingga profesional.

Iwa K memiliki prinsip etika berbahasa di radio tersendiri. Berikut ini beberapa etika menanggapi curhatan pendengar menurut penyiar Iwa K.


1. Menempatkan diri sebagai teman

(trivia 1) Penyiar radio harus menempatkan diri sebagai teman yang baik saat sesi curhat dengan pendengar (Foto instagram iwaktherockfish)
Penyiar radio harus menempatkan diri sebagai teman yang baik saat sesi curhat dengan pendengar. (Foto: instagram.com/iwaktherockfish)

Penyiar radio yang baik harus bisa memosisikan diri dengan tepat. Disesuaikan dengan situasi dan kepentingan tertentu. Tak hanya itu, untuk jadi penyiar yang baik harus bisa menciptakan suasana yang menenangkan bagi pendengar. Terlebih, setiap profesi menuntut pekerja untuk profesional dan berbakat.

Mahir dalam berkomunikasi sekaligus mendengarkan bisa menciptakan rasa nyaman. Hal inilah yang membuat pendengar merangkap jadi penggemar. Rasa nyaman meski hanya melalui gelombang suara.

Saat memberikan tanggapan, penyiar Iwa K menempatkan diri sebagai teman saat segmen curhat. Pendengar yang berbicara, penyiar jadi "teman" yang menyimak curhatan. Dibentuk sebagai penyiar sekaligus pendengar yang setia.

2. Berpikir kritis dan aktif

(Trivia 2) Jadi penyiar radio dengan pemikiran kritis (foto Instagram iwaktherockfish)
Jadi penyiar radio harus berpikir kritis. (Foto: Instagram iwaktherockfish)

Dalam hal ini, tanggapan penyiar memengaruhi penilaian pendengar. Terlebih saat segmen curhat. Suasana hati pendengar yang sensitif memerlukan respons yang tepat. Pemikiran kritis dan cepat tanggap jadi karakteristik penyiar radio. Mengingat keterbatasan durasi pada tiap segmennya. Tentunya, kepuasan pendengar memotivasi semangat penyiar.

Umumnya, pendengar yang curhat memerlukan solusi atau saran. Tak perlu jadi manusia yang serba tahu. "Cukup bertukar pikiran sesuai pengalaman sebagai option bagi pendengar. Terpenting, beri support untuk keluar dari permasalahannya," ungkap Iwa K kepada merahputih.com lewat pesan pendek.

Baca Juga:

Perjuangan Penyiar Radio Mengabarkan Proklamasi, Nyaris Mati Ditebas Samurai


3. Harus menghibur

(Trivia 3) Penyiar radio harus mampu menghibur pendengar (Foto instagram iwaktherockfish)
Penyiar radio harus mampu menghibur pendengar. (Foto: instagram.com/iwaktherockfish)

Penyiar radio memiliki karakteristik yang unik. Salah satunya, ditunjukan dari kepribadian yang humoris, terdengar menyenangkan.

Tak heran penyiar serupa dengan pelawak. Hiburan yang dihadirkan penyiar radio mampu menciptakan suasana yang lebih akrab dengan pendengar. Apalagi, saat segmen curhatan pendengar. Meski curhatan pendengar cenderung bersedih, penyiar tetap harus menghibur. Diselipkan saat situasi yang memungkinkan.

Selipan hiburan ini dilakukan penyiar Iwa K saat menghadapi pendengar yang terlalu terbawa perasaan. Entah sedih, marah, kerinduan mendalam, atau rasa tertekan. Biasanya, pria kelahiran Bandung, 25 Oktober 1970 ini akan mencairkan suasana dengan candaan kecil. Sehingga tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.


4. Etika memotong pembicaraan

(Trivia 4) Etika memotong pembicaraan dengan pendengar disesuaikan situasi, alur cerita dan durasi (Foto unsplash luke chesser)
Etika memotong pembicaraan dengan pendengar disesuaikan situasi, alur cerita, dan durasi. (Foto: unsplash/luke chesser)

Waktu adalah batasan yang selalu dimiliki oleh penyiar. Untuk itu penyiar dituntut untuk dapat memilah informasi yang baik dan berguna bagi pendengarnya. Umumnya, durasi mengudara hanya sekitar lima menit. Pendengar yang terlalu nyaman akan lupa waktu dan berlarut lama. Untuk itu, penting bagi penyiar radio untuk memberi batasan kepada pendengar. Salah satunya, memotong pembicaraan.

Bagi penyiar Iwa K, memotong pembicaraan dengan pendengar bukan permasalahan. "Etis aja kok. Tergantung situasi, kondisi dan flow curhatnya. Kalau ceritanya panjang tetapi menginspirasi, dibiarkan saja dan sebaliknya," tambah Iwa K.


5. Positive vibes

(Trivia 5) Memberikan dukungan positif yang berkesan (Foto pixabay heterosapiens)
Penyiar harus memberikan dukungan positif yang berkesan. (Foto: Pixabay/heterosapiens)

Jadi, penyiar sekaligus pendengar tetap menyebarkan positive vibes. Memberikan dukungan yang bersifat positif secara moral. Kebanyakan pendengar yang curhat berkaitan dengan emosional. Maka dari itu, berikan dukungan, pujian, atau ungkapan mutiara seperti quote.

Biasanya, ungkapan menarik akan memberi kesan untuk pendengar yang mengalami kisah serupa. Setiap kata yang terucap akan memberikan makna berbeda-beda, bisa baik ataupun buruk. Ingat kata Iwa K, "Hal terpenting yaitu beri support untuk keluar dari permasalahannya." (dys)

Baca Juga:

'Radio Gaga', Proyeksi Queen lewat Lagu untuk Radio


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH