Cara Peranakan Tionghoa Semarang Menjaga Toleransi dan Keberagaman Selama Ramadan Buka bersama kaum dhuafa digelar Confusius Wisdom, Semarang. (Foto: Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

KAMIS sore, 31 Mei 2018, semburat lembayung menaungi langit kawasan Pecinan di Gang Pinggir, Kranggan, Semarang Tengah, Kota Semarang. Cahaya berpendaran menerpa tubuh lelaki sepuh di sebuah gedung tua. Ia bangkit dari duduk ketika orang-orang berlalu-lalang.

Sembari menukar senyum, Djunaedi (77), lelaki sepuh keturunan Tionghoa itu mengajak sesiapa di hadapannya untuk berbuka puasa bersama. "Takut makanannya haram. Karena itu, saya berdiri di sini sambil memberitahukan mereka bahwa makanan ini halal," ungkapnya.

Djunaedi (77). (Foto: merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Ia tak ingin muluk-muluk. Di sisa di hidupnya, Djunaedi ingin bermanfaat bagi orang lain dan menyemai nilai-nilai kebaikan antarsesama.

"Saya senang kalau mereka mau makan di sini. Saya mengharapkan banyak orang yang bisa menikmati makanan dari sini. Sebab, makanan di sini dari orang dan harus dikembalikan lagi kepada masyarakat yang membutuhkan," tandasnya.

Buka Puasa Bersama Pemuda Konghucu

Dalam usaha merajut kebinekaan bangsa, para pemuda Konghucu Semarang atau Confusius Wisdom memanfaatkan Ramadan ini dengan menggelar buka bersama kaum dhuafa.

Ketua Confusius Wisdom Agung Kurniawan mengatakan tradisi berbuka puasa bersama, kerap dilakukan umat muslim, sangat baik pula dilakukan umat lainnya untuk saling berbagi .

"Bisa berbagi kepada sesama merupakan kebahagiaan tersendiri. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa," kata Agung (25) kepada merahputih.com di gedung Rasa Dharma di Gang Pinggir, Kranggan, Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (31/5).

Buka bersama kaum dhuafa digelar Confusius Wisdom, Semarang. (Foto: Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata itu menjelaskan para pemuda khususnya mereka berkemampuan ekonomi cukup mesti menjadi penggerak melakukan kebaikan. Berbagai kepada sesama, lanjut Agung, merupakan tugas kaum muda. Tak perlu lagi menunggu dan malah abai terhadap isu kemanusiaan. "Harus bisa gerak. Lakukan dulu sebisa mungkin," katanya.

Berbagi makan bersama memang tak hanya dilakukan pada saat Ramadan. Mereka acap menggelar makan bersama kepada orang-orang nan membutuhkan sejak April 2016. "Kalau pada hari biasa itu dibuka setiap Selasa dari jam 11 siang sampai makanannya habis. Ini semua gratis bagi kaum dhuafa. Siapa pun boleh makan di Kantin Kebajikan.

Melalui Kantin Kebaijkan, berbagi kebaikan bisa tersalurkan, meski hanya sebatas berbagi makanan. "Untuk saat ini, makanannya masih sayur dan telur. Saya berharap ke depannya akan tambah lagi lauknya. Doakan saja, Mas," katanya. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH