Harga BBM Nonsubsidi Naik, Gerindra: Jokowi Panik Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono (Foto: MP/Fadhli)

MerahPutih.Com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono menilai kenaikan beberapa jenis bahan bakar minyak non subsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sebagai bentuk kepanikan pemerintahan Joko Widodo.

Arief menduga kenaikan harga itu karena dampak dari harga minyak mentah yang mendekati 100 dollar AS per barrel serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang hampir tembus Rp.16.000 per dollar AS.

"Kangmas Joko Widodo Makin panik naikin harga BBM non subsidi," kata Arief saat dikonfirmasi, Rabu (10/10).

Berdasarkan press rilis di situs resmi Pertamina, www.pertamina.com, sejak pukul 11.00 WIB tadi, harga Pertamax naik menjadi Rp.10.400, Pertamax Turbo Rp. 12.250, Dexlite Rp. 10.500, Pertamina Dex Rp. 11.850.

"Ya kalau mau nolak juga engga bisa. Kan itu keputusan Pemerintah yang sudah panik karena Kurs rupiah sedang menuju ke 16 ribu per USD," imbuh dia.

Arief mengkritik pernyataan-Jokowi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan yang selama ini kerap menyatakan bahwa keadaan ekonomi Indonesia dalam kondisi baik.

SBPU
Ilustrasi (MP/Rizki Fitrianto)

"Pemerintah (katanya) bisa menjaga Inflasi dan ekonomi pada kwartal kedua masih tumbuh 5,27 persen," jelas dia.

Dengan kenaikan harga BBM non subsidi ini, kata Arief, pemerintah tidak mempunyai alasan lagi untuk membantah semua analisa berbagai ahli ekonomi tentang kondisi ekonomi Indonesia yang kian terpuruk.

"Karena krisis ekonomi dan krisis kepercayaan terhadap omongan mereka," tegasnya.

Menurutnya, krisis ekonomi sudah di depan mata. Pasalnya, kenaikan BBM non subsidi otomatis akan menyebabkan harga barang dan jasa ikut naik. Hal tersebut diperparah dengan biaya operasional perusahaan yang akan melambung tinggi.

"Nilai Inflasi akan liar alias akan naik tinggi dan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2018 akan di bawah 5 persen," jelas dia.

Dengan kondisi seperti itu, Arief memprediksi Bank Indonesia akan kembali menaikan suku bunga karena imbas dari kenaikan harga BBM non subsidi.

"Nah kalau sudah begitu siap-siap terjadi kredit macet di perbankan Indonesia dan siap siap yang punya duit di bank berhati-hati karena kemungkinan bisa terjadi bank pada collapse alias BBO (bank beku operasi)," ungkapnya.

Kemudian, lanjut Arief, akan terjadi PHK besar-besaran terhadap buruh. Sebab, banyak perusahaan yang tutup akibat tidak mampu membayar gaji karyawan.

"Nah apalagi jika harga minyak dunia menyentuh level 100 dollar AS per barrel dipastikan, harga BBM tidak adalagi yang di subsidi karena anggaran negara saja sudah defisit parah. Akhir kata dengan naiknya harga minyak dunia juga akan berdampak pada harga gas dan batu bara. Ya akhirnya berdampak harga LPG dan tarif listrik akan naik," pungkasnya.(Pon)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Hadiah Bagi Pelapor Korupsi Dituding Pencitraan, Hasto: Sejak Awal Sudah Dilakukan Jokowi

Kredit : ponco


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH