Bawa Bekal vs Jajan, Manakah yang Lebih Eksis? Membawa bekal memberi kamu banyak keuntungan. (foto: monster.com)

DI era beli makan tinggal pencet, membawa bekal terasa enggak penting ya. Buat apa repot memasak, mengemas bekal, lalu membawa kotak makan kalau bisa memesan makan lewat abang ojek daring. Ya kan?

Namun jangan salah, membawa bekal ternyata jadi bagian penting dari pemenuhan gizi kamu lo. Saking pentingnya, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Badan POM menginisiasi Hari Bawa Bekal Nasional sejak 2013. Latar belakangnya sih, adanya temuan bahwa hampir 50% jajanan dan makanan yang dijual di pasaran enggak memenuhi standar gizi dan kebersihan.

Niatnya sih, membawa bekal enggak cuma dilakukan sehari di tanggal 12 April. Bagusnya, membawa bekal jadi bagian dari gaya hidup bagi kaum urban yang terkenal doyan eksis dan sibuk. Okelah, kamu bisa eksis dengan makan di restoran. Bisa unggah foto-foto makanan yang unik, enak, dan bikin ngiler. Pakai tagar #foodporn pula.

Padahal nih, dengan unggah bekal keren ala bento atau masakan kamu sendiri, kamu bisa lebih eksis. Teman-teman kamu bakal terpesona dengan kebisaan memasakmu. Kalau sudah begitu, pujian akan mengalir untuk bekal eksismu.

Tapi, eh tapi, apa iya membawa bekal cuma buat adu eksis?

1. Membawa Bekal Berpotensi Menghemat Uangmu

piggy bank
Uang yang dihemat dari membawa bekal luamyan lo. (foto: pixabay/luxtrom)

Apa benar bawa bekal bisa menghemat uang? Berapa banyak?

Sebelum mengetahui penghematan yang bisa kamu dapat dari membawa bekal, kamu harus tahu dulu strategi perencanaan keuangan. Financial planner Prita Ghozie membagikan ilmunya ketika dihubungi Merahputih.com. "Perencanaan keuangan sangat penting karena berpotensi menjadikan hidup di masa depan lebih sejahtera," tegasnya.

Perempuan yang kini menjadi CEO untuk ZAP Financial ini menyarakan melakukan bujeting sederhana dengan membagi 50% penghasilan untuk biaya hidup, 30% untuk dana darurat investasi serta tabungan, dan 20% untuk gaya hidup. "Biasanya perhitungan ini berlaku untuk lajang atau mereka yang berpenghasilan masih minim," jelasnya.

Sementara itu, untuk kamu yang sudah berpenghasilan lebih besar, Prita menyarankan untuk menggunakan alokasi yang lebih tersebar, semisal 5% zakat & sosial, 10% dana darurat, 60% untuk biaya hidup dan cicilan, 15% untuk tabungan dan investasi, dan 10% untuk gaya hidup.

Dengan perencanaan keuangan sedemikian rupa, kamu akan lebih terarah dalam pengeluaran. Meskipun demikian, Prita tidak memungkiri bahwa membawa bekal dari rumah bisa menghemat pengeluaran kamu. "Biasanya ada penghematannya. Karena masak di rumah biasanya lebih murah ketimbang membeli. Namun, ini berlaku untuk masak yang dilakukan untuk satu keluarga ya," jelasnya.

Ia lalu memberi ilustrasi seberapa rupiah yang bisa kamu simpan dari membawa bekal. "Misalkan biasanya makan siang habis Rp50 ribu-Rp75 ribu per hari, kamu mungkin bisa dapat lebih dari sekitar Rp1 juta sebulan," jelasnya.

Dalam gambaran lain, seperti dikutip Moneysmart, UMP DKI Jakarta pada 2018 mencapai Rp3.648.035. Dari jumlah itu, pengeluaran makan harian tanpa membawa bekal atau masak sendiri ialah sekitar Rp10 ribu-Rp100 ribu sekali makan. Tentunya tergantung tempat makan kamu ya.

Kalikan saja angka itu dengan 25 hari. Total sekitar Rp250 ribu-Rp2.500.00. Lumayan ya? Jumlah itu belum ditambah ongkos kirim jika pesan antar atau biaya transpor kalau kamu makan siang cukup jauh dari kantor.

Nah, terbayangkan kan berapa penghematan yang bisa kamu dapat dari membawa bekal itu. Terus, untuk apa sih idealnya penghematan itu? Prita memberi saran untuk melakukan investasi. "Bisa potong di awal minimal 10% dari gaji. Kamu bisa berinvestasi dalam bentuk reksa dana dan tabungan emas," sarannya.

Dengan punya investasi, masa depan kamu terjamin. Bahkan dana untuk traveling bisa banget kamu wujudkan dengan skema itu. Cukup bisa bikin kamu eksis di masa depan kan?


2. Membawa Bekal Ramah Lingkungan

lunch box
Membawa kotak bekal makan berarti mengurangi pemakaian plastik sekali pakai. (foto: pixabay/jelly)

Saat membawa bekal, secara enggak langsung kamu sudah ikut andil dalam mengurangi sampah plastik sekali pakai. Pernah dong membeli makan yang dibungkus kemasan plastik atau styrofoam. Ih, betapa kemasan itu akan jadi sampah yang melukai Bumi.

Dengan bawa bekal, kamu mengemas makanan dalam kotak makan yang bisa dipakai ulang. Jadi penggunaan plastik sekali pakai pun berkurang. Asalkan ingat bawa pulang Tupperware kamu ya.

3. Membawa Bekal Mengingatkan pada Rumah


Sesekali jajan sih boleh karena itu akan memperkaya pengetahuan rasa kamu. "Kadang jajan buat aku untuk memperkaya lidah kita. Pengin tahu aja, makan di tempat itu kayak apa sih, masakannya apa aja sih," ujar Chef Santhi Serad saat ditemui Merahputih.com di Ramurasa Cooking Studio, Kemang, Jumat (5/4).

Ia lalu bercerita bahwa baru beberapa hari sebelumnya ia khusus memasak makanan rumahan berupa tumis kulit melinjo dan ikan asin untuk bekal. "Aku kan beberapa waktu lalu kan ke London 10 hari ya. Sampai di sini langsung kangen makanan rumahan. Jadi ya langsung bikin menu sayur asem, ikan asin, dan sambal terasi," kisah chef yang baru saja berpartisipasi di London Book Fair ini.

4. Bawa Bekal Memastikan Asupan Nutrisi Kamu Terjaga

lunch box
Nutrisi dijamin terjaga denngan membawa bekal. (foto: pixabay/jyleen21)


Nutrisi yang baik berarti kesehatan yang prima. Kandungan nutrisi yang pas enggak selalu bisa kamu dapat saat jajan. Porsi sayur dan buah, misalnya. "Sebaiknya harus lebih sayur dalam bekal. Kan ada beberapa profesi yang membuat orang jarang bergerak, duduk lebih lama. Nah, itu bisa diseimbangkan dengan konsumsi protein yang seimbang, sayuran, dan pilihan karbohidrat yang sehat. Semisal, beras diganti beras merah, sorgum, atau beras cokelat yang lebih sehat," sarannya.

Founder ACMI ini juga menyarankan beberapa jenis sayuran khas Indonesia yang enak dijadikan bekal. "Ada pohpohan, kenikir, atau pegagan. Oalahannya bisa lalap, bisa juga tumis," sarannya.

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH