Batu Satam, Batu Langka yang Hanya Ada di Belitung Replika batu satam di pusat kota Tanjung Pandan (Foto: MP/Muchammad Yani)

BELITUNG bukan hanya terkenal dengan keindahannya saja. Sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatera ini juga memiliki batu yang hanya ada di sana. Hingga kini, batu berwarna hitam pekat tersebut diburu oleh para kolektor batu di seluruh dunia.

Bernama batu satam, batu ini terbentuk dari proses alam karena tabrakan meteor jutaan tahun lalu dengan lapisan bumi di Belitung yang menghasilkan kandungan timah tinggi.

MasyarakatBelitung mencari batu ini di sela-sela pasir bekas tambang. Karena merupakan pecahan meteor. Batu ini tidak memiliki bongkahan melainkan seperti kerikil atau batu kecil.

Batu Satam, ciri khas Belitung (Instagram/rezmal_ljc)
Batu Satam, ciri khas Belitung (Foto: instagram@rezmal_ljc)

Karena hanya terbentuk di Belitung, batu satam tidak akan ditemukan di belahan dunia manapun kecuali di Pulau Laskar Pelangi ini. Bahkan Batu Satam dijadikan ikon dari ibu kota Belitung yakni Tanjung Pandan. Kamu akan melihat replika batu satam di pusat kota.

Mengetahui kualitas batu satam berbeda dengan batu akik yang biasa menggunakan senter. Batu satam semakin berkualitas jika ada banyak urat atau garis di batu.

Biasanya batu satam digunakan sebagai mata cincin, giwang atau liontin. Menariknya, batu hanya dipoles hingga mengkilat tanpa dibentuk.

Batu satam ditemukan secara tidak sengaja di tahun 1978 di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit. Saat itu ada penambang timah etnis Tonghoa melihat batu hitam di kedalaman 50 meter.

Batu satam memiliki ciri hitam legam (Instagram/rezmal_ljc)
Batu satam memiliki ciri hitam legam (Foto: instagram@rezmal_ljc)

Berdasarkan penelitian Billitonit nama lain batu satam terbentuk sekitar 700 ribu tahun yang lalu saat asteroid menabrak bumi. Bentuk batu satam bervariasi yakni bulat, lonjong hingga tak beraturan.

Ciri khas batu asli Indonesia ini adalah guratan yang terukir alami di permukaannya. Guratan ini terjadi karena aliran air di lapisan tanah kedalaman sekitar 50 meter.

Nama batu satam diberikan oleh warga keturunan Tionghoa. 'Sa' artinya 'Pasir' dan 'Tam' artinya 'Empedu'. Sehingga batu Satam memiliki arti empedu pasir.

Tak mudah menemukan batu satam. Karena batu ini hanya bisa dicari di bekas penambangan, itupun tidak semua tempat memiliki kandungan batu tersebut.

Berbeda dengan akik, batu satam tidak mengenal musim. Harganya akan tetap tinggi dibandingkan dengan batu lain.

Batu satam biasa dibanderol ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung ukuran batu. Selain menjadi aksesoris, beberapa orang percaya kalau batu satam memiliki kekuatan yakni penangkal racun dan penolak jin. (yani)

Kredit : yani


Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH