Merayakan Hari Museum Nasional, Menanti Kepulangan Batu Minto Prasasti Pucangan di salah satu gudang museum di India. (Professor Arlo Griffiths, EFFEO)

AKUN Instagram resmi Museum Nasional Republik Indonesia atau dikenal Museum Gajah, mengunggah foto anak-anak sedang berjejal melihat koleksi khusus museum, sementara di kiri atas foto terdapat tulisan peringatan Hari Museum Indonesia, bertautan dengan momentum Musyawarah Museum Pertama di Yogyakarta, 12 Oktober 1962.

Pesan serupa pun diunggah akun media sosial lembaga resmi pemerintah dan warganet. Mereka nampak sedang merayakan kejayaan permuseuman Indonesia. Di sisi lain, di ruang-ruang sunyi museum, ada kerinduan terselubung mengenai penambahan koleksi, terutama pemulangan Benda Cagar Budaya Indonesia di luar negeri.

Dari sekian banyak Benda Cagar Budaya, ada dua bongkah Batu Minto menunggu pemulangan agar bisa dinikmati secara luas oleh masyarakat Indonesia.

Sebongkah batu bertulis dengan bagian atas melengkung berdiri menua di pekarangan rumah keluarga Lord Minto VII, Gilbert Timothy George Lariston Elliot-Murray-Kynynmound, Hawick, Roxburghshire, Skotlandia. Batu terpancang telanjang. Tak ada atap terlebih pelindung. Balok batu berukuran 160 x 122 sentimeter, bertebal 32,5 sentimeter itu, seakan asing dari pemeliharaan. Permukaan kepala batu penuh lumut. Berpupur jamur. Melapuk. Sementara kedua sisinya banyak terkelupas. Aus. Beberapa deret guratan aksara Jawa Kuna di bagian depan (recto) pun tersamar jamur dan lumut.

Meski tampak lusuh, batu bertulis atau tersohor dengan sebutan Batu Minto memiliki koneksi kuat dengan sang empunya kediaman, khususnya sang moyang, Lord Minto I atau Sir Gilbert Elliot Murray-Kynynmound, Gubernur Jendral Inggris untuk India (1807—1813).

Batu bertulis di pelataran rumah keluarga Lord Minto merupakan prasasti Sangguran bertarikh 50 Çaka atau 928 Masehi, tercanang atas perintah Raja Mataram Kuna, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga.

Selain Sangguran, Lord Minto pun beroleh satu batu bertuis lain, Prasasti Pucangan bertarikh 963 Çaka atau 1041 Masehi, merupakan sumber dokumen penting berkait Raja Airlangga (1019—1049). Prasasti berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuna ini acap disebut sebagai Batu Kolkata (Calcutta).

Dua prasasti tersebut merupakan hadiah pemberian Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jendral Inggris untuk Jawa (1811—1816). Raffles memerintahkan Kolonel Colin Mackenzie, Kepala Zeni Pasukan Inggris (1811—1813), untuk mengumpulkan segala benda budaya, manuskrip kuno, serta spesies tumbuhan dan hewan. Mackenzie beroleh beragam benda budaya, termasuk dua buah prasasti; Sangguran (928 M) dan Pucangan (1041 M).

Prasasti tersebut berpindah tangan melalui jalur laut, bertolak dari pelabuhan Surabaya pada 1813, berlayar menumpang kapal HMS Matilda menuju pelabuhan Kolkata, India. Lord Minto I terkesan dengan hadiah Prasasti Sangguran. “Saya sangat berterima kasih atas kiriman batu besar dari pedalaman pulau anda (Jawa),” tulis Lord Minto I dalam suratnya kepada Raffles, tertanggal 23 Juni 1813, termuat dalam The History of Java. “Beratnya, setidaknya, tampak cukup menyaingi patung Peter Yang Agung, St. Petersburg (Rusia)”.

Prasasti Sangguran atau Batu Minto hingga kini terasing dari tempat asalnya. Menua di negeri orang. Menjadi barang usang. “Batu Minto, telah berkurang statusnya, hanya menjadi ornamen taman di daerah perbatasan terpencil dan hampir tidak dapat diakses dari Skotlandia,” tulis Nigel Bullough dkk, termuat “The Kolkata (Calcutta) Stone and The Bicentennial of The British Interregnum in Java, 1811—1816”.

Setali tiga uang. Prasasti Pucangan atau Batu kolkata pun bernasib nahas. Batu Kolkata terjebak di gudang nan lembab, hanya bermandi semilir angin dari kipas angin yang berdiri beberapa meter di hadapannya, bersama onggokan barang-barang pada Museum India di Kolkata. Batu Kolkata memang tak pernah pergi dari India sejak Raffles menghadiahkannya kepada Lord Minto I. Sebagai dokumen penting berkait Raja Airlangga, Batu Kolkata, teramat sia-sia dapat perlakuan sebatas itu.

Usaha pemulangan prasasti bukannya tak pernah terjadi. Hari Untoro Drajat, Dirjen Sejarah dan Purbakala (2005—2009), sempat membentuk tim pemulangan Prasasti Sangguran (Batu mito) untuk berangkat ke London, menjalin koordinasi dengan KBRI London guna bertemu Lord Minto VII. Dalam pertemuan di KBRI, siang 21 Februari 2006, “Lord Minto VII menyatakan tak berkeberatan melepas prasasti tersebut,” tulis Tempo, 4 Mei 2014.

Lord Minto VII ternyata tak bisa seorang diri memutuskan. Dia harus meminta persetujuan dewan pengawas (trustees), pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan aset. Selepas berkonsultasi dengan pelbagai pihak, Lord Minto VII lantas berubah pendirian. Dia menghendaki kompensasi.

Di sebrang sisi, Hari Untoro menegaskan bahwa sejak awal tim yang berangkat ke London tidak beroleh wewenang untuk membayar atau memberi kompensasi atas pemulangan Batu Minto. Jika membayar kompensasi, lanjutnya, itu berarti mengakui prasasti tersebut milik si pemegang.

Beragam skenario telah berlaku, namun tak jua mencapai kata sepakat. Usaha pemulangan Prasasti Sangguran pun tutup buku. Lembar baru usaha pengembalian prasasti akhir-akhir ini perlahan mulai menggeliat. Tak hanya Prasasti Sangguran (Batu Minto), juga Prasasti Pucangan (Batu Kolkata). Para akademikus berikut penggiat sejarah lebih awal mengambil inisiatif melakukan kajian terhadap dua prasasti guna pemulangan memori di atas kertas.(*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH