Bangun Ikatan Emosional dan Komunikasi antara Anak Berkebutuhan Khusus dan Saudara lewat Aktivitas Ilustrasi. (foto: pixabay)

AUTISME atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. ASD tak hanya mencakup autisme, tapi juga melingkupi sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).

Salah satu gangguan yang terdapat dalam gejala autis ialah gangguan komunikasi sehingga membuat anak berkebutuhan khusus memiliki kesulitan yang tinggi dalam berkomunikasi. Kesulitan mereka dalam berkomunikasi biasanya sesuai dengan tingkat keparahannya. Tingkatan autisme pada anak berkebutuhan khusus, yakni mild, severe (rendah), medium, dan hard (berat). Hal tersebut membuat anak autis sulit untuk berkomunikasi dengan adik atau kakaknya.

Meski anak berkebutuhan khusus sulit dalam berkomunikasi, bukan berarti mereka tak bisa membangun ikatan emosional dengan saudara kandung mereka. Mereka tetap dapat berinteraksi dengan saudara mereka. Namun, tentunya usaha dan waktu dibutuhkan.

Menurut psikolog Rena Masri, untuk melancarkan kemampuan komunikasi, anak-anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan terapi okupasi dan terapi wicara sedini mungkin. Orangtua juga harus terbuka dengan gangguan anaknya sehingga upaya penyembuhan bisa dilakukan secara optimal.

Terapi okupasi adalah proses penyembuhan atau pemulihan kembali melalui aktivitas, kegiatan atau pekerjaan. Tujuan terapi itu ialah melatih kekuatan otot dan saraf serta fungsi gerak. Sementara itu, terapi wicara dilakukan untuk menangani gangguan penyebab ketidakmampuan dalam bicara. Tujuannya, membantu anak berkebutuhan khusus sehingga mereka dapat berinteraksi dengan lingkungan secara wajar.

Untuk dapat membangun ikatan emosional antara anak berkebutuhan khusus dan saudaranya, perlu adanya partisipasi aktif dari saudaranya.

"Saudara dapat dilibatkan dalam sesi terapi jika sudah cukup umur dan kemampuannya oke," terangnya.

main lego
Bermain Lego bisa membangun ikatan emosional.(foto: Lego.com)

Mereka yang ingin mendampingi sesi terapi saudaranya minimal berusia delapan tahun. Anak usia delapan tahun dianggap sudah memiliki kemampuan kognitif yang baik dan emosional yang lebih stabil.

Bentuk partisipasi yang bisa dilakukan ialah dengan mengajak saudaranya ke tempat terapi anak berkebutuhan khusus dan berbincang-bincang dengan terapis. Sang terapis dapat mencontohkan ke saudara mereka bagaimana cara untuk membantu meningkatkan kemampuan mereka. Dengan demikian, saudaranya dapat membantu dan mengajari anak berkebutuhan khusus tersebut ketika di rumah. Ketika anak berkebutuhan khusus diajari oleh saudaranya, komunikasi dan ikatan persaudaraan akan terjalin.

"Bagi anak berkebutuhan khusus tingkat rendah atau ringan, mereka bisa dilibatkan untuk membantu orangtua dalam mengurus adiknya untuk hal hal yang sederhana," ucap Rena.

Kegiatan sederhana yang bisa mereka lakukan misalnya mengambilkan popok atau menyisir rambut. Ketika anak berkebutuhan khusus ingin membantu mengurus adiknya yang masih bayi harus tetap dipantau dan didampingi orang yang lebih dewasa. Hal tersebut dilakukan agar mereka tak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan adik mereka.

Anak-anak berkebutuhan khusus dengan tingkat autisme ringan juga dapat dilibatkan dalam berbagai aktivitas bersama saudara mereka. Interaksi yang bisa mereka lakukan antara lain bermain bola dan bermain lego bersama. Aktivitas yang dilakukan haruslah hal-hal yang disukai sang anak.

"Kalau misalnya anak berkebutuhan khusus tidak suka bernyanyi, ia takkan mau bernyanyi bersama saudaranya. Mereka bahkan bisa berteriak-teriak jika mendengar nyanyian," jelas Rena.(Avi)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH