Bali, Perwujudan Sejati Bhinneka Tunggal Ika Warga Bali tunjukkan toleransi tinggi antarsesama. (foto: beritabali)

SEMANGAT Bhinneka Tunggal Ika terasa mulai memudar di Indonesia. Hal tersebut terbukti dari berbagai konflik yang mengatasnamakan agama yang terjadi beberapa tahun belakangan. Ironisnya, konflik tersebut bukan murni disebabkan perbedaan paham keagamaan, melainkan akibat faktor nonagama, seperti politik, ekonomi, dan hukum.

Jika ingin belajar makna sesungguhnya dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, kamu bisa belajar dari Bali. Bermukim di salah satu destinasi pariwisata kelas internasional, masyarakat Bali telah belajar makna toleransi selama puluhan tahun. Kontak sosial yang intens dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia membuat masyarakatnya berpikiran terbuka. Hal itu membuat Bali menjadi pulau paling damai di Indonesia.

Kebinekaan yang terdapat di Bali tecermin di Puja Mandala. Puja Mandala merupakan kompleks peribadahan yang terdapat di Nusa Dua. Kompleks itu dibangun Bali Tourism Development Center (BTDC) pada 1994. Di sana, kamu bisa melihat keharmonisan antarumat beragama. Di atas lahan seluas 2 hektare tersebut, kamu tak hanya menemukan satu rumah ibadah, tapi lima rumah ibadah, yakni masjid, gereja Katolik, wihara, gereja Protestan, dan pura.

masjid ibnu batuttah
Masjid Ibnu Batuttah. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Selain dijadikan sebagai tempat beribadah, kelima bangunan tersebut juga kerap dijadikan destinasi pariwisata. Dalam pembangunan areal itu, pihak BTDC memperhatikan unsur estetika pada kelima rumah ibadah tersebut. Keindahan alam di sekeliling Masjid Ibnu Batutah menjadi daya tarik umat muslim yang ingin beribadah di sana. Bangunan yang terdiri atas dua lantai tersebut dibangun di dekat laut. Perpaduan laut dan matahari terbenam menambah suasana syahdu saat menjalankan salat magrib. Masjid tersebut bahkan pernah masuk 10 besar masjid terindah di Indonesia.

gereja katolik maria bunda segala bangsa
Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Di sisi kanan bangunan masjid terdapat Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa. Gereja tersebut tak kalah indah. Arsitektur gereja tersebut mengadaptasi gaya Rennaisance Eropa. Terdapat empat lampu yang menyoroti bagian salib yang terdapat di bagian tengah.

Wihara Buddha guna
Wihara Buddha Guna bergaya Thailand. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Di sebelah Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa terdapat Wihara Buddha Guna. Bangunan tersebut diapit dua patung gajah. Desain eksterior wihara tersebut mengadaptasi wihara Thailand. Di bagian tengah wihara terdapat patung Buddha.

GKPB Jemaat Bukit Doa
GKBP Jemaat Bukit Doa. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Tepat di samping wihara Buddha Guna terdapat gereja umat Protestan, GKBP Jemaat Bukit Doa. Terdapat anak tangga untuk menaiki gereja tersebut. Gereja tersebut kental dengan nuansa Bali. Hal tersebut terlihat dari ornamen yang terdapat di bangunan tersebut. Selain itu, GKBP Jemaat Bukit Doa juga dilengkapi bunga-bunga.

Bagian ujung kompleks ibadah tersebut ialah Pura Jagatnatha. Nuansa di Pura Jagatnatha sangat asri. Begitu memasuki kompleks pura, kamu akan disambut hamparan rumput hijau yang sangat luas.

Pura Jagatnatha
Pura Jagatnatha. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Jika di sejumlah wilayah di Indonesia kamu sering mendengar berita mengenai konflik antarumat beragama yang dipicu karena pembangunan rumah ibadah, di Bali justru sebaliknya. Kelima tempat ibadah tersebut dibangun berdampingan tanpa ada pertikaian. Keberadaan rumah ibadah yang berdiri bersebelahan tersebut justru meningkatkan kerukunan mereka.

Ketika umat muslim beribadah salat Jumat dan umat kristiani merayakan Jumat Agung, mereka bisa berbagi lahan parkir dan menjalankan ibadah masing-masing dengan khusyuk dan khidmat. Ketika berpapasan, mereka bahkan berinteraksi, saling sapa.

Toleransi yang tinggi serta tenggang rasa yang ditunjukkan di tempat tersebut harusnya dijadikan pelajaran bagi semua umat beragama di Indonesia.(Avi)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH