Bahaya Melihat Konten Bunuh Diri di Sosial Media Ada dampak negatif melihat konten berisikan bunuh diri. (Foto: Pexels/Mikoto Raw)

PLATFORM sosial media bermacam-macam. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram hingga aplikasi Tik-Tok. Konten yang bermunculan pun kian hari kian beragam. Tak hanya konten menarik dan informatif, konten negatif yang berbau pornografi atau kekerasan pun bermunculan. Tak terkecuali dengan tindakan bunuh diri.

Kini banyak orang yang menuliskan kalimat depresifnya di akun sosial media miliknya. Beberapa di antaranya bahkan nekat melakukan siaran langsung saat ia bunuh diri. Selain itu, ada pula pihak-pihak yang memviralkan kronologis bunuh diri atau foto-foto mayat mereka yang melakukan bunuh diri.

Baca Juga:

Bukan Tindakan Egois, Bunuh Diri Bukanlah Sebuah Pilihan

diri
Konten bunuh diri di sosial media picu copycat suicide. (Foto: Pexels/Andrea Piacquadio)

"Mereka yang menyaksikan konten baik dalam kondisi kejiwaan yang sehat maupun tidak rentan mengalami trauma sekunder karena menyaksikan adegan yang terlalu eksplisit," ujar psikolog dan suicidologist Indonesia, Benny Prawira M.Psi.

Efek pada mereka dengan jiwa yang sehat misalnya timbul rasa jijik, mual, ngeri dan takut. Beberapa bahkan terus terbayang-bayang foto pelaku bunuh diri. Sementara efek yang timbul pada mereka yang memiliki kondisi mental lebih rentan bisa lebih parah.

"Penyebaran konten semacam itu dapat memicu bunuh diri tiruan (copycat suicide) atau dikenal pula dengan efek Werther," tutur Benny. Menurut jurnal ilmiah "Age and Sex Subgroup Vulnerable to Copycat Suicide: Evaluation of Nationwide data in South Korea" oleh Hwang Jeong-eun menyebutkan paparan media tentang bunuh diri seorang selebriti memberi efek peniru yang cukup besar pada individu yang berisiko.

"Orang depresi rentan meniru karena masalahnya dianggap bisa selesai dengan metode yg sama, mati di saat terblokir depresi," tutur Benny.

Baca Juga:

3 Kata yang Kerap Diucapkan Orang yang Ingin Bunuh Diri

diri
Tindakan yang dilakukan adalah melaporkan pada admin sosmed. (Foto: Pexels/Magnus Mueller)

Orang-orang yang kenal dekat dengan orang yang bunuh diri bisa saja terganggu kenyamanannya. Hal ini dapat terjadi karena berbagai penyebab, seperti munculnya komentar yang tidak sopan di media sosial.

Selain itu, orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi yang butuh pertolongan dapat membaca komentar negatif dari video bunuh diri orang lain. Mereka akan menjadi enggan mencari bantuan karena takut terkena stigma dan penghakiman dari orang banyak.

"Stop normalisasi komentar jahat ke kasus bunuh diri yg ada dimanapun. Hati-hati komentar kita bs jadi stigma juga," himbau Benny.

Lalu upaya apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan konten tentang bunuh diri di sosial media? "Paling bener ya udah report aja sih. Seluruh platform medsos mainstream juga tidak ada yang perbolehkan konten bunuh diri," ujarnya.

Sementara itu, tindakan yang bisa kita lakukan kalau kesal dengan komentar buruk atau stigma yg menempel yakni dengan tidak memghiraukan semua itu. "Enggak usah balesin, enggak usah share/Retweet. Nanti makin ramai. Langsung report aja yes," tukas Benny. (avia)

*Depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca Juga:

7 Langkah Bijak Jauhkan Pikiran Bunuh Diri

Kredit : iftinavia


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH