Jenis Program dan Iuran BPJS Ketenagakerjaan 2018 Pekerja menggarap proyek pembangunan konstruksi saluran air di Progo Pistan, Jumo, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (28/3). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Banyak yang masih belum tahu sebenarnya seberapa besar iuran BPJS Ketenagakerjaan yang harus dibayarnya setiap bulan. Hal ini disebabkan rata-rata iuran ini langsung dipotong dari gaji bulanan.

Terhitung mulai 1 Januari 2014, PT Jamsostek sudah bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Perubahan yang sama ternyata juga dilakukan oleh PT Akses yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau yang sering disingkat dengan BPJS.

Adanya perubahan-perubahan semacam itu secara otomatis ikut serta mengubah berberapa kebijakan di dalam penerapan jaminan sosial yang ada di Indonesia. Yang semuanya sudah sangat jelas diatur dalam UU No 40 Tahun 2004 terkait dengan Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apa saja jenis programnya dan berapa besar iuran BPJS Ketenaga kerjaan yang harus dibayarkan setiap bulannya?

Jenis Program Serta Besaran Iuran BPJS Ketenegakerjaan

Bersamaan dengan adanya peralihan yang dilakukan oleh pemerintah terkait dengan BPJS Ketenegakerjaan, membuat sejumlah kebijakan secara otomatis juga ikut berubah. Salah satunya adalah jenis layanan dan juga besaran iuran yang akan dikenakan bagi para peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Bagi Anda yang ikut dalam program ini, penting kiranya untuk memahami sejak awal. Tujuannya adalah supaya Anda tahu dengan jelas apa saja kewajiban dan hak ketika menjadi perserta BPJS Ketenagakerjaan tersebut.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah progam BPJS Ketenagakerjaan lengkap dengan besaran iuran yang harus Anda bayarkan setiap bulannya:

1. Program JHT (Jaminan Hari Tua)

Program JHT ini bisa dibilang sebagai program dasar yang bertujuan untuk menjamin para pekerja atas berbagai risiko sosial dan juga ekonomi yang bisa datang sewaktu-waktu. Utamanya ketika para peserta JHT sudah memasuki masa tuanya.

Pertanyaannya sekarang adalah siapa saja yang bisa menjadi peserta dari JHT ini? Pesertanya adalah seluruh pekerja yang menerima upah di luar penyelenggara negara. Bahkan mereka ini bisa dibilang wajib menjadi peserta dari JHT.

Lalu siapa sajakah mereka? Mereka ini antara lain seluruh pekerja yang bekerja pada sebuah perusahaan (termasuk perseorangan). Selain itu, WAN yang bekerja di Indonesia dan sudah bekerja selama 6 bulan juga masuk sebagai peserta JHT ini.

Lalu bagaimana dengan yang berada di luar kategori tersebut? Yang berada di luar kategori tersebut akan masuk ke dalam peserta yang tidak menerima upah, di antaranya adalah seperti para pengusaha serta para pekerja yang bekerja secara mandiri.

Kemudian seiring dengan tujuan dari pengadaannya, manfaat JHT ini bisa diterima dalam bentuk tunai dengan besaran jumlahnya terdiri dari akumulasi iuran serta akan ditambah juga dengan hasil pengembangannya.

Lalu kapan dana ini bisa dicairkan? Dana ini nantinya akan dicairkan sekaligus pada saat peserta JHT ini mencapai usia 56 tahun, atau mengalamai cacat permanen lalu berhenti bekerja, atau karena meninggal dunia.

Namun yang perlu Anda pahami juga adalah selain beberapa kondisi yang sudah disebutkan di atas, usia pensiun juga meliputi beberapa kondisi seperti PHK dan tidak lagi bekerja, atau peserta akan pergi dan memutuskan untuk menetap di luar negeri selamanya, atau mengundurkan diri dari pekerjaan dan tidak lagi bekerja.

Pertanyaan penting selanjutnya adalah berapa iuran yang harus dibayarkan oleh para peserta JHT ini? Terkait dengan iuran JHT ini, sebenarnya masing-masing pekerja dan pemberi kerja memiliki porsi tersendiri dalam hal ini.
Jadi besaran iuran JHT untuk peserta yang menerima upah adalah sebesar 5,7% dari upah yang diterima, dengan porsi 2% dari pekerja dan yang 3,7% bersal dari pemberi kerja.

Lalu bagaimana dengan peserta JHT yang tidak menerima upah? Besaran iurannya bisa dipilih sesuai dengan daftar yang sudah ditetapkan BPJS Ketenegakerjaan. Dan keterlambatan dalam pembayaran iuran bisa dikenakan denda sebesar 2% dari jumlah iuran. Pembayarannya sendiri paling lambat tanggal 15 setiap bulannya.

Pekerja membersihkan gedung bertingkat di salah satu universitas swasta di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (23/3). Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat angka kecelakaan kerja di Indonesia cenderung terus meningkat sebanyak 123 ribu kasus kecelakaan kerja sepanjang 2017 atau meningkat 20 persen dibandingkan tahun 2016. ANTARA FOTO/Maulana Surya/aww/18.
Pekerja membersihkan gedung bertingkat di salah satu universitas swasta di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (23/3). Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat angka kecelakaan kerja di Indonesia cenderung terus meningkat sebanyak 123 ribu kasus kecelakaan kerja sepanjang 2017 atau meningkat 20 persen dibandingkan tahun 2016. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

2. Progam JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja)

Sebelum mengulas lebih jauh lagi mengenai progam JKK ini, sebenarnya apa tujuan dari progam JKK ini? Progam JKK dimaksudkan untuk melindungi para pekerja dari berbagai risiko-risiko kecelakaan dalam hubungan kerja.

Risiko tersebut meliputi risiko kecelakaan selama dalam perjalanan pulang pergi menuju dan dari tempat kerja. Selain itu, risiko yang dimaksud di sini juga meliputi risiko terhadap penyakit yang diakibatkan oleh pengaruh tertentu dari lingkungan tempat kerja.

Yang perlu Anda pahami di sini adalah iuran program JKK ini menjadi kewajiban dari para pemberi kerja. Sedangkan untuk melakukan klaim program JKK ini hanya berlaku maksimal 2 tahun pasca terjadinya kecelakaan.

Lalu berapa iuran yang harus dibayarkan untuk progam JKK ini? Dalam praktiknya, besaran iuran dari JKK ini akan dihitung berdasarkan dari tingkat risiko lingkungan kerja, di mana nilai tersebut biasanya akan dievaluasi setidaknya setiap 2 tahun sekali.

Untuk lebih memudahkanya, berikut ini merupakan besaran iuran dari JKK untuk para peserta penerima upah:

· Untuk tingkat risiko paling rendah, besaran iuran JKK adalah 0,24% dari upah sebulan

· Untuk tingkat risiko rendah, besaran iuran JKK adalah 0,54% dari upah sebulan

· Untuk tingkat risiko sedang, besaran iuran JKK adalah 0,89% dari upah sebulan

· Untuk tingkat risiko tinggi, besaran iuran JKK adalah 1,27% dari upah sebulan
· Untuk tingkat risiko sangat tinggi, besaran iuran JKK adalah 0,74% dari upah sebulan

3. Program JKM (Jaminan Kematian)

Yang perlu Anda pahami adalah program JKM ini hanya berlaku untuk peserta yang meninggal dunia bukan disebabkan kecelakaan kerja. Jadi seperti halnya jaminan kematian pada umumnya, program JKM ini diperuntukkan untuk ahli waris serta akan diberikan dalam bentuk tunai ketika peserta JKM meninggal dunai dan masih aktif bekerja.

Lalu berapa iuran yang harus dibayarkan untuk para peserta program JKM ini? Untuk peserta penerima upah, besaran iuran yang harus dibayarkan adalah 0,30% dari gaji/upah bulanannya.

Kemudian untuk para peserta yang tidak menerima upah, iuran JKM yang harus dibayarkan setiap bulannya sebesar Rp 6.800. Besaran iuran ini biasanya akan dievaluasi secara berkala paling maksimal per 2 tahun.

4. Program Jaminan Pensiun

Program ini dibuat oleh pemerintah dengan tujuan untuk menjamin kehidupan layak bagi para peserta BPJS Ketenagakerjaan saat sudah memasuki masa pensiunnya. Termasuk jika para peserta mengalami cacat total atau bahkan sampai meninggal dunia.

Ketika risiko seperti di atas terjadi, maka manfaat dari program ini akan diberikan dalam bentuk sejumlah danan yang nantinya akan diberikan setiap bulan kepada peserta atau ahli warisnya (ketika resiko kematian terjadi).

Tidak jauh berbeda dengan JHT, peserta dari program Jaminan Pensiun ini adalah pekerja yang menerima upan dan pekerja yang tidak menerima upah. Lalu berapa iuran wajib yang harus dibayarkan?

Bagi peserta penerima upah, diwajibkan untuk membayar 3% dari upah bulanan (yang 2% dibayarkan oleh pemberi kerja dan 1% oleh pekerja). Lalu bagi pekerja yang tidak menerima upah, besaran iurannya diatur berdasarkan dari kemampuan keuangan serta kebutuhan yang bersangkutan terkait dengan jaminan pensiun itu sendiri.

Jadi sekarang Anda pastinya sudah paham mengenai program apa saja yang ada pada BPJS Ketenagakerjaan serta berapa besar iuran BPJS Ketenagakerjaan yang dibebankan kepada Anda setiap bulannya. (*)

Artikel ini dioleh merahputih.com dari berbagai sumber. Baca juga artikel lainnya tentang BPJS di: Pencairan BPJS Ketenagakerjaan Jadi 10 Tahun, Masyarakat Resah


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH