Pengamat Intelijen: Gimana Mau 'People Power', Kubu Prabowo-Sandi Saja Tidak Akur Capres Prabowo Subianto mengepalkan tanganya didampingi Amien Rais dalam simposium kecurangan Pilpres 2019 di Hotel Sahid, Jakarta (Divisi Komunikasi dan Media BPN Prabowo-Sandi)

Merahputih.com - Isu bakal terjadinya kerusuhan dan pengerahan aksi massa saat penetapan pemenang pemilu 22 Mei mendatang sepertinya tak semenakutkan apa yang dibayangkan. Salah satu alasannya karena kubu Prabowo-Sandi sudah tak sekuat dulu.

Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta mengatakan, koalisi partai yang tergabung di dalamnya sudah tidak lagi akur. Misalnya Demokrat dan PAN yang terlihat enggan untuk bersana-sama 02 lagi.

"Mereka saja tidak akur. People power tidak akan terjadi," jelas Stanislaus di Jakarta, Jumat (17/5).

BACA JUGA: Pengamat Terorisme: Isu People Power Berpotensi Undang Para Pelaku Teror

Stanislaus tetap berharap para elite politik di Indonesia, terutama para barisan sakit hati bisa berlapang dada dan menerima bila hasil Pemilu.

Ia justru mensinyalir para penumpang gelap seperti teroris atau kelompok radikal ini memanfaatkan situasi dan mencari momentum Pemilu.

"Terkait teroris, mereka tidak peduli politik tetapi mereka mencari momentum. Yang banyak mereka di manfaatkan dan membangkitkan emosional nya," kata Stanislaus.

Prabowo dan Sandiaga Uno
Prabowo dan Sandiaga Uno dalam simposium kecurangan Pilpres 2019 (Divisi Komunikasi dan Media BPN Prabowo-Sandi)

Stanislaus justru menyebut penumpang gelap yang paling berbahaya adalah barisan sakit hati.

"Ketika yang di dukung itu kalah dan dia sudah habis-habisan mengeluarkan materi, pikiran malahan tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya seperti jabatan Menteri atau jabatan lainnya," jelas dia.

"Barisan sakit hati ini sangat berbahaya. Maka kita jangan membuatkan momentum dan arena kepada mereka," ucapnya. (Knu)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH