Bachtiar Nasir Puji Kampanye Akbar Prabowo-Sandi Sesuai Kearifan Lokal Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir. (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.Com - Ketua Majelis Pelayan Indonesia (MPI) Ustaz Bachtiar Nasir menampik bahwa kampanye akbar Prabowo-Sandi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), merupakan kampanye identitas. Menurutnya kampanye tersebut sarat dengan kearifan lokal dan tidak melenceng dari tradisi orang Indonesia.

Pimpinan AQL Islamic Center ini, mengatakan kampanye presiden dan wakil presiden selama ini selalu identik dengan hura-hura, joget-joget, bukan sesuatu yang menyangkut kearifan Indonesia yang terdiri dari heterogenitas agama, suku, budaya, dan golongan.

"Saya merasakan atmosfer ketika peserta kampanye yang datang ke GBK tidak hanya muslim, tapi juga non muslim," kata Bachtiar di Jakarta, Senin (8/4).

Ustaz Bachtiar Nasir eks HTI
Pimpinan AQL Islamic Center Bachtiar Nasir. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Ia menyebutkan, diantara kearifan lokal yang terjadi di Senayan yaitu berkibarnya bendera merah putih terbesar dibanding alat peraga lain, orasi kebangsaan dari tokoh lintas agama dan menyanyikan Indonesia Raya secara khidmat.

Selain itu, kedua capres-cawapres juga kerap melakukan politik identitas seperti penyematan gelar adat oleh suatu suku, mendapatkan dukungan ulama, menggelar istighasah dan munajat kubra bahkan sampai kepada meralat doa seorang kyai yang dianggap salah mendoakan.

"Namun, atmosfer yang terjadi di Senayan sulit ditangkap oleh mereka yang melihat dari kacamata sekuler dari benaknya. Padahal, kegiatan di Senayan seperti kegiatan yang biasa banyak dilakukan seluruh umat," kata Ketua Ikatan Alumni Universitas Islam Madinah ini.

Kampanye Akbar Prabowo-Sandi
Kampanye akbar "Indonesia Menang" yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (7/4). Foto: MP/Rizki Fitrianto

Pengurus Dewan Pertimbangan MUI ini juga melihat kampanye kearifan lokal dari banyaknya bendera partai politik, organisasi masyarakat, komunitas, bahkan setiap individu yang datang semuanya berkumpul dalam satu balutan semangat perubahan dan semangat kebangsaan.

"Meskipun kampanye tersebut didominasi oleh para aktivis dan muslimah yang telah berhijrah dengan mengenakan cadarnya, tapi tidak ada diskriminasi terhadap mereka yang tidak menggunakan jilbab serta cadar. Sehingga, suasana Indonesia bangetlah," ujar Bachtiar.

Dewan Tarjih PP Muhammadiyah ini menyebutkan kearifan lainnya yaitu semua elemen masyarakat bagi membahu dengan semangat kerelawanannya membenahi kembali sampah yang ada di sekitar, membagikan makanan dan minuman bahkan berani merogoh kantongnya untuk dana kemenangan Prabowo-Sandi.

"Ketertiban setelah itu juga terjaga. Nah, ini yang saya sebut sebagai kampanye kearifan lokal. Semua berjalan sesuai dengan tradisi, adat dan istiadat orang-orang Indonesia," kata Bachtiar.

Massa kampanye Prabowo-Sandi
Kampanye akbar Prabowo-Sandiaga di SUGBK, Jakarta, Minggu (7/4). Foto: Twitter

Bachtiar Nasir berharap, tidak ada lagi pihak-pihak yang cepat memberi stigma negatif terhadap umat Islam seolah-olah identitas itu terlarang. Sebab, tidak mungkin mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam menjauhkan diri dari nilai-nilai tradisi Islam.

"Ini yang saya sebut sebagai kampanye kearifan lokal bukan politik identitas dalam kampanyenya. Semua berjalan dengan natural. Semua sesuai adat istiadat dan tradisi orang Indonesia. Ke depan, jika ada identik dengan Islam janganlah terlalu cepat distigma dengan sebuah identitas seakan akan melarang. Bagaimana mungkin kita menjauhkan umat Islam dari tradisi keislaman padahal umat Islam mayoritas di Indonesia," katanya.

Lebih lanjut Bachtiar mengatakan, apa yang terjadi selama ini sering dilakukan oleh semua partai. Misalnya, memberikan gelar adat istiadat kepada calon presiden atau calon wakil presiden, juga pernah dialami oleh presiden sebelumnya. Tradisi masuk pesantren, silaturrahmi antara tokoh, istigasah, shalawatan semuanya masuk kearifan lokal dalam tradisi keagamaan.

"Bahkan sempat terjadi kemarin deklarasi atas nama ulama, dari paslon lain. Atau ada kesan silaturrahmi sampai meralat doa. Itu semua hal-hal yang pernah terjadi tetapi kenapa kemudian jika dilakukan oleh mayoritas umat Islam bersama 02 diartikan sebagai politik identitas," pungkas Bachtiar Nasir.(Pon)

Kredit : ponco


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH