Ayatollah Ali Khamenei Kecam Keras Serangan Sekutu Terhadap Suriah Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei (Foto: NBCNews.com)

MerahPutih.Com - Amerika Serikat bersama sekutunya baru saja melancarkan serangan terhadap Suriah pada Sabtu (14/4). Dalam serangan yang diklaim AS sebagai pukulan efektif dan tertarget terhadap kantong-kantong persenjataan kimia itu mendapat kecaman dan protes dari sejumlah pihak termasuk pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat Dana W White dalam keterangannya kepada BBC, Sabtu (14/4) di Washington menyatakan tujuan serangan tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk melanggar kedaulatan negara Suriah atau menyulut perang sipil, melainkan untuk membasmi kelompok teroris yang berada di belakang kaum pemberontak.

Pernyataan Dana White itu langsung mendapat kecaman keras dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia menyebutkan serangan terhadap Suriah yang dilancarkan Amerika Serikat bersama sekutu merupakan kejahatan dan tidak akan memberi dampak positif apa pun.

"Serangan fajar hari ini terhadap Suriah adalah kejahatan. Saya dengan tegas menyatakan bahwa Presiden AS, Presiden Prancis dan Perdana Menteri Inggris adalah penjahat," kata Khamenei di Twitter-nya.

"Mereka tidak akan mendapat manfaat saat mereka pergi ke Irak, Suriah dan Afghanistan dalam beberapa tahun belakangan dan melakukan kejahatan seperti itu serta tidak akan memperoleh keuntungan apa pun," kata Khamenei.

Pesawat Tempur Inggris RAF

Pesawat tempur RAF Typhoon mengudara dari pangkalan RAF Lossiemouth di Skotlandia (ANTARA FOTO/REUTERS/Russell Cheyne)

Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan mengatakan, "Rakyat Suriah pasti akan menjawab serangan itu dan orang di dunia harus mengutuk serangan itu," kata kantor berita Fars.

Pejabat Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC), senjata terkuat Republik Islam itu, mengatakan bahwa kerugian dari serangan tersebut akan menjadi beban Washington.

"Dengan serangan ini ... situasinya akan menjadi lebih kompleks, dan ini pasti akan mengorbankan AS, yang akan bertanggung jawab untuk akibat dari peristiwa regional mendatang yang pasti tidak akan menarik minat mereka," kata Yadollah Javani, wakil kepala Garda untuk urusan politik kepada kantor berita Fars.

"Garda perlawanan akan diperkuat dan akan memiliki lebih banyak kapasitas untuk bertindak melawan tindakan intervensi (AS). Amerika harus memperkirakan konsekuensi dari tindakan mereka," kata Javani sebagaimana dilansir Antara dari Reuters.

Iran sering menyebut negara-negara regional dan pasukan yang menentang Israel dan AS sebagai "garda perlawanan." "Tidak diragukan lagi, AS dan sekutunya, yang menempuh langkah militer terhadap Suriah meskipun kurang bukti ... akan memikul tanggung jawab atas konsekuensi regional dan trans-regional dari sikap sembrono ini," kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah.

"Iran menentang penggunaan senjata kimia atas dasar standar agama, hukum dan etika, sementara pada saat yang sama ... sangat mengutuk (menggunakan ini) sebagai alasan untuk melakukan agresi terhadap negara berdaulat," katanya.

Iran telah menjadi sekutu pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad yang paling berpengaruh terhadap pemberontak sepanjang konflik. Milisi yang didukung Iran membantu pasukannya menghentikan perkembangan pemberontakan dan, setelah masuknya Rusia ke dalam perang pada 2015, mengubah arus secara meyakinkan dalam kehendak Assad.

Analis Hossein Sheikholeslam, mantan duta besar Iran untuk Damaskus, mengatakan kepada televisi pemerintah, serangan itu akan membantu menyatukan warga Suriah di balik pemerintahan.

Presiden Iran, Rusia dan Turki saat di Ankara

Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin berfoto bersama (ANTARA FOTO/Bozoglu/Pool via Reuters)

"Serangan itu akan memantapkan pemerintah Suriah dan menyatukan suku berbeda di Suriah ketika Suriah sadar akan kehormatan mereka dan datang untuk membela kemerdekaan, keutuhan wilayah dan pemerintahan negara mereka," kata Sheikholeslam.

Sementara itu, Rusia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar rapat darurat menyusul serangan koalisi internasional terhadap Suriah.

Moskow juga mengaku tengah mempertimbangkan pilihan untuk mengirim sistem pertahanan rudal S-300 untuk Suriah dalam mempertahankan diri dari serangan rudal Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

"Rusia meminta Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat untuk membahas aksi agresif dari Amerika Serikat dan sekutunya," kata Presiden Vladimir Putin dalam pernyataan tertulis yang disiarkan oleh Kremlin.

Pasukan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis pada Sabtu menembakkan lebih dari 100 rudal sebagai balasan atas serangan gas beracun yang menewaskan puluhan orang pada pekan lalu. Tindakan ini adalah intervensi terbesar dari negara-negara Barat terhadap Presiden Suriah Bashar al Assad.

Putin mengatakan bahwa aksi Amerika Serikat di Suriah semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di negara itu dan sangat merugikan warga sipil.

"Rusia sangat mengecam serangan terhadap Suriah, di mana banyak terdapat anggota militer Rusia yang membantu pemerintah sah di sana memberantas terorisme," kata Putin.

Moskow juga tengah mempertimbangkan untuk mengirim sistem pertahanan rudal S-300 kepada Suriah dan "sejumlah negara-negara lain," kata Kolonel Jenderal Sergei Rudskoi, pada Sabtu.

Sistem pertahanan udara Rusia, yang sebagian besar merupakan buatan dari Uni Soviet, telah berhasil mencegat 71 dari rudal-rudal yang ditembakkan oleh pasukan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH