Awas, Merokok Bisa Sebabkan Kebutaan Merokok menimbulkan oftalmopati graves. (foto: pexels/pixabay)

SUDAH tak terhitung banyaknya bahaya merokok yang disampaikan. Gara-gara merokok, kamu berisiko terkena berbagai macam penyakit, di antaranya penyakit jantung, paru-paru, kanker hingga impotensi. Bahkan mata kamu bisa buta jika kamu aktif merokok.

Merokok bisa menyebabkan penyakit graves. Kondisi itu merupakan gangguan pada sistem kekebalan tubuh penyebab umum hipertiroidisme atau produksi hormon tiroid berlebih. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh malah menyerang kelenjar tiroid atau disebut juga autoimun.

BACA JUGA: Sama-Sama Bikin Gatal, Ini Bedanya Ketombe dan Kutu pada Kulit Kepala

Yang paling berbahaya pada penyakit ini ialah timbulnya gejala pada mata bernama oftalmopati graves (OG). Nah, tidak hanya berisiko mengidap graves, tapi perokok juga punya kemungkinan terkena OG sangat besar. Penyebab OG ialah kandungan nikotin pada rokok.

Hal tersebut diungkapkan oleh Prof Dr dr Imam Subekti,SpPD-KEMD saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Senin (14/10). "Pasien graves yang tidak merokok, 51,7% mengalami oftalmopati, pada pasien perokok aktif, 68,2% mengalami oftalmopati," bebernya.

merokok
Merokok sebabkan oftalmopati graves. (foto: pexels/spencer Selover)

Gejala OG bermacam-macam. Mata akan terasa kering dan seperti ada pasir yang masuk. Mata juga akan memerah karena peradangan dan membengkak. Bahkan mata bisa kehilangan penglihatan alias buta. "Ya, mata bisa jadi buta karena korneanya rusak," papar Imam.

Mata pasien OG akan terbuka terus. Begitu juga ketika tidur. Sehingga akan ada banyak kotoran yang bisa masuk dan merusak mata. Pasien juga akan mengalami penglihatan ganda pada satu objek atau diplopia.

Selain itu, Imam menambahkan OG bisa berdampak negatif dan jangka panjang pada pekerjaan. Sebab hobi dan fungsi psikososial pasien juga turut terganggu. "Menurut studi di Jerman, pasien OG melaporkan cacat pekerjaan yang signifikan, cuti sakit 36%, dinonaktifkan, 28%, pensiun dini 5%, dan kehilangan pekerjaan 3%," tegas dokter yang berpraktik di RSCM itu.

prof Imam
Prof Dr dr Imam Subekti,SpPD-KEMD dan istri. (foto: MP/Ikhsan Digdo)

Menurut Imam, pencegahan OG dapat dilakukan dengan tiga klasifikasi tingkatan, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Merokok merupakan faktor risiko terpenting timbulnya OG. Bukti kuat menunjukkan berhenti merokok merupakan intervensi yang fundamental dalam pencegahan ketiga klasifikasi tingkatan itu. "Oleh karena itu, pasien graves, terlepas dari ada atau tidaknya OG, harus dimotivasi untuk berhenti merokok," ujar profesor yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar tetap Universitas Indonesia bersama sang istri Prof DR dr Valina Singka Subekti, MSi pada 12 Oktober 2019.

Bagaimana sahabat Merah Putih, saatnya nih berhenti dari kebiasaan merokok.(ikh)

BACA JUGA: Hindari Memboroskan Bahan Makanan, Sayuran Layu masih Layak Konsumsi Loh

Kredit : digdo


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH