Awal Kecintaan Mikael Jasin Pada Kebun Kopi Mikael Jasin, Sang Juara IBC 2020 yang gemar menghabiskan waktu di perkebunan kopi (Foto: side.id/prassso)

DIBALIK kepiawaiannnya menjadi barista profesional dengan sejumlah gelar bergengsi, tak banyak yang tahu kegiatan lain Mikael ini. Ia kerap menghabiskan banyak waktunya di perkebunan kopi.

Semua berawal dari sekitar tahun 2017. Saat itu, Mikael Jasin pertama kalinya pergi ke kebun kopi. Dia diajak oleh rekannya Yoshua Tanu, Juara Indonesia Barista Championship (IBC) di tahun 2014, 2016, dan 2017.

"Pertama kali waktu itu di Gayo, Aceh tengah, ikut sama Yoshua Tanu, sebagai asisten aja, pengen lihat-lihat kebun kopi kayak gimana sih. Nah sejak saat itu saya mulai tertarik banget sama kebun kopi," jelas Mikael Jasin kepada merahputih.com pada acara Breakfast di a Tale of Two Coffee Beans, Gading Serpong, Tangerang, Minggu (1/3).

Baca Juga:

Kisah Mikael Jasin, Dari Tukang Cuci Piring Hingga Panggung Barista Dunia

Setelah itu, pemenang IBC 2020 itu pun terus menggali ilmu lebih dalam di perkebunan kopi dan terus mengulik dan mencari tahu tentang proses kopi sejak awal penanaman di kebun.

Sepanjang perjalanannya di dunia kopi, pria dengan tato di lengan itu telah mengunjungi berbagai kebun kopi di Indonesia, seperti di Aceh, Sumatera Utara, Bali, Jawa Barat, dan Indonesia Timur. Menariknya, ia juga mengaku pernah ke perkebunan kopi di Brasil dan belajar banyak tentang kopi di sana.

Ketika di kebun kopi, peringkat 4 di World Barista Championship (WBC) 2019 itu tak hanya sekedar melihat-lihat saja. Dirinya ikut memantau saat panen kopi, dan beberapa proses pasca panen.

"Biasanya kalau lagi panen saya sekitar semingguan di kebun kopi, paling lama 10 hari lah, karena kan kita liat pas panen terus harus ngontrol proses kopinya, di sana," jelas Mikael.

Mikael Jasin terus memahami lebih jauh tentang proses ada di perkebunan kopi (Foto: side.id/prassso)

Mikael tidak ikut dalam proses panen seperti yang dilakukan para petani. Namun, ia tetap terlibat dalam tahap proses kopi lainnya, mulai dari sortir, fermentasi, pengeringan dan seterusnya.

"Tiap harinya ngurusin proses itu aja, walaupun banyak nunggunya tetep harus ditunggui, ditongkrongin biar enggak terlalu over fermentasinya, jadi enggak perlu ngulang," tambah Mikael.

Menghabiskan banyak waktu di kebun kopi dan di coffee shop tentunya berbeda. Bagi Mikael, selain bisa mendapat ilmu dan pengalaman berharga, dirinya juga bisa sekaligus liburan untuk melepas penat dari keramaian dan kemacetan ibu kota.

Baca Juga:

Tak Cuma Bikin Kopi, Seorang Barista Juga Harus Punya 4 Skill Ini

Mikael Jasin mendapatkan banyak pengalaman berharga di perkebunan kopi (Foto: side.id/prasso)

Selain itu, Mikael juga mendapat kesempatan untuk berbincang santai tentang kopi dengan para petani kopi dan penduduk setempat. Pengalaman tersebut tentunya tak semua orang bisa mendapatkannya.

"Interaksi ke petani-petani kopi itu sih yang menarik, kalau di coffee shop kan paling kita ketemunya customer dan kopi yang ada di situ, tapi begitu ke kebun ngobrol sama petani, itu baru sadar itu susah banget. Kayak untuk dapetin 1 kg kopi roasted itu awalnya dari sekitar 40kg kopi cherry gitu, prosesnya panjang, susah banget," kata Mikael dengan antusias

Seringnya ke perkebunan kopi dan melihat proses pembuatan biji kopi, Mikael Jasin pun mengaku semakin mengapresiasi pekerjaan para petani.

Untuk rencana kedepannya, dia akan terus mengunjungi perkebunan-perkebunan kopi lainnya yang ada di Indonesia. Tak lupa, ia juga memiliki misi untuk terus memajukan industri kopi Indonesia dari hulu (Kerja sama dengan petani agar kualitasnya naik) ke hilir (melatih para barista lewat training center). (ryn)

Baca Juga:

Mikael Jasin Raih Gelar Juara Indonesia Barista Championship 2020

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH