Australia, Amerika, Jepang, dan India Berkoalisi Saingi OBOR China Model berfoto di samping miniatur kereta cepat dalam Pameran Kereta Cepat Dari Tiongkok di Jakarta, Kamis (13/8). (Foto Antara/Rivan Awal Lingga)

MerahPutih.com - Australia, Amerika Serikat, India, dan Jepang bergabung untuk melawan pengaruh China. Keempat negara tersebut membicarakan pembentukan skema infrastruktur regional bersama sebagai alternatif dari inisiatif One Belt One Road (OBOR) China.

Mengutip Reuters dari Australian Financial Review, Senin (19/2), seorang pejabat senior AS menyatakan rencana yang melibatkan empat mitra regional tersebut baru muncul saat kunjungan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull ke AS untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump akhir pekan ini. Ia juga mengatakan rencana itu belum cukup matang untuk diumumkan. Dikatakan, rencana tersebut sebagai alternatif OBOR China, bukan saingan.

"Tidak ada yang mengatakan China seharusnya tidak membangun infrastruktur. China mungkin membangun pelabuhan yang, dengan sendirinya tidak layak secara ekonomi. Kita bisa membuatnya layak secara ekonomi dengan membangun jalur jalan atau rel yang menghubungkan pelabuhan itu," jelas sumber.

Perwakilan Turnbull, Menteri Luar Negeri Julie Bishop dan Menteri Perdagangan Steven Ciobo tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Sementara Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga menyebutkan Jepang, AS, Autralia dan India secara teratur selalu bertukar pikiran mengenai berbagai hal yang menarik bagi mereka.

"Ini bukan masalah untuk menghadang OBOR China," kata Suga.

Presiden China Xi Jinping menyampaikan proyek One Belt One Road pertama kali di hadapan mahasiswa di Kazakhstan pada 2013.

OBOR merupakan sebuah kendaraan bagi negara Asia untuk berperan lebih besar di forum internasional dengan memberikan bantuan pendanaan dan membangun transportasi global untuk menghubungkan kegiatan di lebih dari 60 negara.

Xi secara gencar terus mempromosikan rencana tersebut dengan mengundang pemimpin dunia ke Beijing pada Mei 2017 lalu dan menjanjikan bantuan sebesar US$ 124 miliar (Rp 1.600 triliun) untuk proyek tersebut.

Pemerintah lokal China, perusahaan negara maupun swasta, juga gencar memberikan tawaran untuk berinvestasi dan pinjaman di luar negeri. (*)



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH