Auman Fahri di Tengah Keriuhan Politik Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. (Instagram/@fahrihamzah)

Merahputih.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo mengundang mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah di channel youtube pribadinya. Fahri diundang untuk berbicara terkait persoalan bangsa dan perpolitikan nasional.

"Siapa tidak mengenal Fahri Hamzah. Politisi kawakan yang penuh 'kontroversi' dengan pemikiran 'out of the box' ini adalah salah satu singa parlemen. Aumannya menggetarkan banyak pihak, di mana ada keriuhan politik, di sana ada Fahri Hamzah," kata Bamsoet usai berbincang dengan Fahri Hamzah di studio Podcast NGOMPOL di Jakarta, Rabu (14/10).

Baca Juga

Tuntut Gagalkan UU Ciptaker, KSBSI Bakal Demo 5 Hari Berturut-turut

Menurut Bamsoet, saat ini setelah Fahri tidak lagi mengemban jabatan publik, Fahri mengaku lebih santai, lebih ringan, dan bisa menjadi lebih apa adanya.

Menurut Fahri Hamzah, saat ini ada tiga penyakit umum yang masih menghinggapi perpolitikan Indonesia, pertama, kurang pandai berencana, sehingga tiba masa hilang akal.

Kedua, dalam pelaksanaan terhadap apapun, terkadang lebih sibuk ingin dianggap sukses, sehingga tak peduli proses. Ketiga, citra bisa mengalahkan kinerja.

"Ketiga penyakit tersebut, menurut Fahri, berakar dari feodalisme. Karena itulah, bangsa Indonesia masih memerlukan sosok Fahri Hamzah untuk mengaum, memberikan berbagai pemikiran yang 'liar', yang tidak hanya enak di dengar, melainkan pemikiran tajam yang berguna bagi kebaikan bangsa dan negara," ujarnya.

Bamsoet mengatakan, dalam manajemen pemerintahan, Fahri Hamzah menekankan ada tiga masalah utama yang perlu diperbaiki, pertama, masalah internal. Kedua, operator, dan ketiga, penasehat.

"Ketiga masalah tersebut semakin terlihat dalam cara pemerintah menangani pandemi COVID-19," jelas dia.

Politikus Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengkritisi Erick Thohir saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen RI Senayan Jakarta, Selasa (19/11/2019). (ANTARA/Abdu Faisal)
Politikus Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengkritisi Erick Thohir saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen RI Senayan Jakarta, Selasa (19/11/2019). (ANTARA/Abdu Faisal)

Secara kolektif kabinet perlu melakukan "switch mindset" yaitu harus ada kekompakan dan totalitas dari setiap anggota kabinet dalam menghadapi pandemi COVID-19 agar tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri.

Dalam kesempatan itu, Fahri juga mendorong pemerintah menggerakkan rakyat untuk menghidupkan desa karena perdagangan antar-negara semakin jatuh dan Indonesia harus mengintensifkan perdagangan antar pulau, semua barang yang dulu di impor, saat ini harus bisa diproduksi sendiri.

"Fahri Hamzah menilai saat ini merupakan momentum yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk hidup mandiri, sesuai konsep revolusi mental yang digagas Presiden Joko Widodo. Saatnya kita berlari cepat, mumpung seluruh negara dunia sedang melambat," katanya.

Bamsoet mengaku, dirinya pernah melihat Fahri Hamzah berbincang akrab dengan Presiden Joko Widodo di acara penganugerahan Bintang Mahaputera, saat itu "gesture" Presiden Joko Widodo terlihat sangat mengapresiasi Fahri Hamzah.

Menurut dia, hal itu menandakan walaupun kritik "pedas" seringkali terlontar dari ucapan Fahri, bukan berarti hubungan personalnya dengan Presiden Joko Widodo tidak baik.

Baca Juga

Mahfud Tegaskan Pengumuman Paslon Pilkada 2020 Lewat Website

"Justru sebagaimana diakui Presiden Joko Widodo di berbagai kesempatan, dirinya merindukan sosok kritis seperti Fahri Hamzah, menjadi teladan bahwa dalam berpolitik, tidak boleh sampai terbawa ke masalah pribadi. Tidak boleh personal, karena kita tidak sedang bercinta, tapi mengurus negara," ujarnya.

Karena itu, sebagaimana dikutip Antara, dalam berpolitik tidak boleh terbawa perasaan (baper) karena kritik maupun apresiasi semata bukan tentang sosok pribadi seseorang, melainkan demi kebaikan bangsa dan negara. (*)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Sumatera
Indonesia
Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Sumatera

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menangkap 6 orang diduga termasuk dalam kelompok teroris.

Ketua MPR Nilai Pemerintah Terlalu Lambat Lakukan Pemeriksaan Pasien COVID-19
Indonesia
Ketua MPR Nilai Pemerintah Terlalu Lambat Lakukan Pemeriksaan Pasien COVID-19

Hal ini menyebabkan pelaporan kasus infeksi di Indonesia mengalami keterlambatan, sehingga menyulitkan untuk menilai tingkat penyebaran yang riil di lapangan.

Rapat Persiapan Tempat Penyakit Menular, Menkes: Bukan untuk Sekarang
Indonesia
Rapat Persiapan Tempat Penyakit Menular, Menkes: Bukan untuk Sekarang

100 pulau dipetakan dan memungkinkan disiapkan sebagai tempat khusus itu

8 Bidang Usaha di Jakarta Ditindak Anak Buah Anies, Mayoritas Berada di PIK
Indonesia
8 Bidang Usaha di Jakarta Ditindak Anak Buah Anies, Mayoritas Berada di PIK

Semua sektor itu ditutup oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja

Berangkat ke DPD PDIP Jateng, Gibran dan Teguh Kompak Satu Mobil
Indonesia
Berangkat ke DPD PDIP Jateng, Gibran dan Teguh Kompak Satu Mobil

"Saya tidak ada persiapan khusus, bismillah aja kita tunggu saja nanti acaranya di Semarang," ujar Gibran

Muhammadiyah Minta Polisi Bertanggung Jawab atas Kekerasan Tim Kesehatan MDMC
Indonesia
Muhammadiyah Minta Polisi Bertanggung Jawab atas Kekerasan Tim Kesehatan MDMC

Muhammadiyah menyayangkan tindakan pemukulan aparat keamanan terhadap sejumlah relawan kesehatannya saat demo tolak UU Cipta Kerja.

Pemda Tidak Boleh Paksakan Sekolah Tatap Muka
Indonesia
Pemda Tidak Boleh Paksakan Sekolah Tatap Muka

Para orang tua/komite sekolah termasuk organisasi guru dan komunitas untuk bersama-sama mengawasi dan memantau rencana pembukaan sekolah.

MA Tolak Kasasi Bupati Cianjur Nonaktif Irvan Muchtar
Indonesia
MA Tolak Kasasi Bupati Cianjur Nonaktif Irvan Muchtar

Kasus itu berawal dari pengajuan proposal DAK ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan anggaran sebesar Rp945 miliar

 KPK Tahan Bupati Bengkalis Amril Mukminin
Indonesia
KPK Tahan Bupati Bengkalis Amril Mukminin

"Penyidik melakukan penahanan selama 20 hari terhitung sejak 6 Februari 2020 sampai dengan 25 Februari 2020 untuk tersangka AM (Amril Mukminin).

 Sekda DKI Beberkan Revitalisasi Monas Agar Terlihat Seperti Kawasan Menara Eiffel
Indonesia
Sekda DKI Beberkan Revitalisasi Monas Agar Terlihat Seperti Kawasan Menara Eiffel

Jadi kalau datang ke Medan Merdeka Selatan berujar 'Mana sih Monas? Eh itu, kayak Menara Eiffel' gitu," ujar Saefullah