Atasi Krisis Lagu Anak, Bekraf Gelar Lomba Cipta Lagu Anak Bekraf gandeng sejumlah musisi gelar lomba cipta lagu anak. (foto: MP/Albi)

MUSIK memiliki manfaat besar dalam kehidupan. Tak hanya berfungsi sebagai hiburan, ternyata musik juga memberi stimulasi terhadap otak. Musik yang didengarkan memberi efek berbeda-beda.
"Musik bisa menenangkan atau memicu ketakutan," ucap psikolog Adityana Kasandra Putranto atau yang kerap disapa Adit.

Pengaruh musik terhadap stimulasi otak tak hanya penting bagi orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Masyarakat memiliki peran dalam memilih lagu yang baik untuk kognitif anak.

“Peran masyarakat ialah memastikan lingkungan ramah anak dan menjaga stimulasi positif,” terang Adit.

Tak hanya masyarakat, ia menilai bahwa media dan industri musik juga memiliki peran penting dalam menyediakan musik yang sesuai untuk anak-anak. Sayangnya, kebutuhan anak-anak akan lagu anak-anak saat ini tak terpenuhi dengan baik.

Di era 1990-an sejumlah lagu anak-anak karangan Ibu Soed atau Pak Kasur amatlah dikenal. Di era 2000-an ada Sherina, Joshua, Tina Toon, juga Tasya sebagai penyanyi anak-anak. Namun di era millenial seperti saat ini, industri hiburan di Indonesia krisis lagu anak-anak.

Begitu krisisnya hingga anak-anak lebih suka menyanyikan lagu-lagu dengan lirik tak sesuai usia mereka. Hal serupa diamini personel RAN, Nino. Ia cukup sedih ketika anak-anak masa kini lebih suka lagu untuk orang dewasa.

"Bayangkan saja, keponakan gua lebih suka nyanyi lagu tentang perselingkuhan. Jujur gua kaget banget pas dengar," tuturnya saat ditemui Merahputih.com di Galeri Indonesia Kaya, Senin (16/4).

Keprihatinan serupa juga disampaikan rekan Nino di RAN, Rayi. Sebagai orangtua baru, ia berharap putranya mendengarkan lagu yang sesuai usianya.

“Gua pengin kelak anak gua punya koleksi lagu anak-anak yang cukup ,” ujar Rayi.

Namun, para produser pun seolah enggan memproduksi lagu anak-anak karena dinilai tidak menjual. Keresahan tak hanya dialami para orangtua atau pekerja seni. Presiden Indonesia Joko Widodo juga memiliki kepedulian yang sama akan krisis lagu anak-anak tersebut.

Ia pun menghubungi Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf untuk bersama-sama menggalakkan lagu anak-anak. Kala pertama kali dihubungi Jokowi, Triawan cukup bingung karena selama satu dekade ini tak ada satu pun lagu atau film anak-anak yang booming dan bisa menjadi role model bagi anak-anak. Untuk menggugah kesadaran masyarakat akan lagu dan film anak, Triawan menilai imbauan saja tak cukup.

"Untuk mendorong gerakan lagu anak tidak bisa hanya sebuah kampanye, tetapi harus sebuah kegiatan yang dikaitkan dengan produk yang bisa menjadi champion dari gerakan ini," ucap Triawan.

RAN
RAN ikut ambil bagian dalam Lomba Cipta Lagu Anak 2018. (foto: MP/Albi)

Demi mewujudkan gagasan tersebut, Bekraf pun mengadakan Lomba Cipta Lagu Anak 2018 yang bisa diikuti umum. Lomba tersebut diselenggarakan mulai Senin (16/4) dan berakhir pada Selasa (15/5). Ada lima tema yang bisa dipilih calon peserta, yakni keindahan alam, keluarga, liburan, petualangan, dan persahabatan.

Supaya kegiatan tersebut dapat tersosialisasi secara massif, Bekraf menggandeng duo sineas yang peduli terhadap dunia anak-anak, Mira Lesmana dan Riri Riza, International Design School, RAN, dan musisi Aksan Sjuman.

Untuk menarik minat masyarakat, mereka terlebih dahulu memproduksi sebuah film anak berjudul Kulari ke Pantai. Lagu-lagu yang memenangi lomba tersebut akan dimasukkan ke album soundtrack Kulari ke Pantai.

Para personel RAN bahkan bersedia memproduseri lagu-lagu yang masuk sebagai finalis lima besar jika lagu-lagu tersebut berkualitas.

“Tujuan kami bukan hanya mencari pemenang, tetapi memperbanyak lagu anak-anak,” tukas Nino.(Avi)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH