Atas Nama Demokrasi, Taiwan Ajarkan Bahaya China kepada Generasi Muda President of the All-China Federation of Taiwan Compatriots (ACFTC) Huang Zhixian (tengah) berbicara dalam diskusi grup Taiwan di Beijing (ANTARA FOTO/REUTERS/Jason Lee)

MerahPutih.Com - Pemerintah Taiwan mulai merancang sebuah gerakan sosial untuk menjaga generasi mudanya dari pengaruh China.

Sebuah lembaga pemerintah Taiwan yang bertanggung jawab terhadap kebijakan dengan China menyatakan, negara itu harus memberikan pengetahuan kepada generasi muda akan risiko yang ditimbulkan jika mereka berada dibawah pengaruh China. Salah satu bahaya yang paling nyata yakni tidak adanya kebebasan atau demokrasi.

Menariknya, kebijakan itu dikeluarkan pada saat hubungan Taipei dan Beijing tengah memburuk. China telah meningkatkan upayanya merebut demografi kunci Taiwan atau generasi muda misalnya menawarkan insentif untuk mendirikan bisnis di China.

China mengklaim Taiwan sebagai wilayah kedaulatannya dan menganggap orang-orang dari pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu sebagai warga negara China.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan membahas opsi parlementer yang baru-baru ini berakhir di China, Dewan Urusan Daratan Taiwan mengatakan pemerintah harus melakukan upaya untuk melawan China yang mencoba untuk menarik bakat personal, seperti siswa dan guru.

"Beberapa anggota dewan mengatakan bahwa pemuda di Taiwan memiliki perasaan besar pada demokrasi dan kebebasan, berbeda dengan lingkungan di masyarakat China daratan yang tidak memiliki perasaan tersebut," katanya, Sabtu (24/3).

"Pemerintah dapat memperkuat dan memamerkan keunggulan Taiwan, dan membantu kaum muda memahami risiko yang mungkin terjadi." Pemerintah Taiwan saat ini bergerak ke dalam kekuasaan dengan bantuan Gerakan Bunga Matahari yang didorong oleh pemuda yang memprotes pakta perdagangan dengan China, sesuatu yang pemerintah Taiwan katakan menarik perhatian China dan mengapa China sekarang berfokus pada pemuda Taiwan.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, Taiwan adalah salah satu isu yang paling sensitif di China, dan permusuhan keduanya telah meningkat sejak Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokrat yang pro-kemerdekaan memenangkan kursi kepresidenan pada tahun 2016.

China khawatir dia ingin mendorong kemerdekaan formal, meskipun Tsai mengatakan dia ingin mempertahankan status quo dan perdamaian.

Presiden China Xi Jinping pada hari Selasa memperingatkan Taiwan akan menghadapi "hukuman sejarah" untuk setiap upaya separatisme yang dilakukan, sebuah peringatan keras ke pulau itu.

China juga marah dengan undang-undang baru Amerika Serikat yang mendorong kontak dan pertukaran antara pejabat AS dan Taiwan meskipun mereka tidak memiliki ikatan formal.

Komitmen AS untuk Taiwan tidak pernah lebih kuat dan pulau ini menjadi inspirasi bagi kawasan Indo-Pasifik lainnya, kata seorang diplomat senior AS di Taipei pekan ini.

Dewan Urusan Daratan mengatakan telah mencatat bahwa para pejabat China telah menggunakan istilah yang "parah" akhir-akhir ini untuk merujuk hubungan di selat Taiwan.

"Perkembangan hubungan masa depan di Selat Taiwan masih penuh tantangan, dan tidak mudah untuk menuju arah yang positif," tambahnya.(*)


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH