Asal Muasal Tradisi Halalbihalal Halalbihalal ada sejarah hingga menjadi tradisi di Indonesia. (Foto: Pexels/Cytonn Photography)

UMAT muslim tak sabar menantikan hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal 1439 Hijriyah atau tanggal 15 Juni 2018. Salah satu tradisi yang lekat di tengah masyarakat adalah tradisi halalbihalal. Halalbihalal yakni bersilaturahmi dengan menyambangi sanak keluarga atau teman-teman. Namun, tahukah kalian asal muasal halalbihalal?

Meski tradisi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun, namun tak banyak yang mengetahui asal muasal munculnya istilah halalbihalal. Kata halalbihalal telah ada sejak tahun 1935. Hal tersebut diungkapkan Drs Sunarto Prawitosujanto dalam biografinya yang berjudul 70 Tahun Drs. Sunarto Prawirosujanto: Rintisan Pembangunan Farmasi Indonesia.

kiai wahab
Kiai Wahab mengusulkan cara silaturahim yang menyelesaikan persoalan politik. (Foto: NU)

Dalam biografi yang disusun oleh Abdil Mun'im tahun 1997 tersebut Sunarto menceritakan bahwa istilah tersebut muncul di Taman Sriwedari kota Solo. Pada bulan Ramadhan menjelang Lebaran, seorang penjual martabak asal India menjajakan dagangannya di luar taman Sriwedari. Dirinya tak bekerja sendiri, ia dibantu oleh pribumi yang bertugas mendorong gerobak dan mengurus api penggorengan.

Pada masa itu, martabak merupakan panganan baru. Untuk menarik pembeli Muslim disebutlah bahwa martabak adalah halal. Asisten tersebut pun berteriak 'martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal' terus-menerus sehingga setiap penonton yang melalui gerbang Sriwedari pasti mendengarnya.

Mendengar hal tersebut, anak-anak yang baru pulang dari Sriwedari menirukan teriakan asisten penjual martabak tersebut. Sepanjang jalan, anak-anak itu berteriak, 'martabak, martabak, halalbihalal'.

Sejak saat itu, kata halalbehalal lekat kaitannya dengan Sriwedari menjelang Lebaran. Istilah halalbihalal pun menjadi populer di kalangan masyarakat Solo. Pergi ke Sriwedari di hari Lebaran disebut berhalalbihalal, pergi keluar berpakaian rapi di hari Lebaran disebut berhalalbihalal, dan pergi silaturahmi pada hari Lebaran dengan berpakaian rapi juga disebut berhalalbihalal.

sukarno
Sukarno menyetujui usulan Kiai Wahab untuk rekonsiliasi politik. (Foto: sulindo)

Kata halalbihalal semakin meluas setelah digunakan oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Adapun penggagas istilah 'halalbihalal' adalah KH Wahab Chasbullah.

Pada suatu hari Presiden Sukarno memanggil Kiai Wahab. Ia meminta nasihat kepada Kiai Wahab cara mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Situasi Indonesia kala itu memang memprihatinkan. Para elite politik tidak mau bersatu dan saling menyalahkan.

Sang kiai pun menyarankan Soekarno untuk mengadakan silaturahmi menjelang atau bertepatan dengan hari Lebaran.

"Itu kan dosa, haram," cetus Kiai Wahab kala itu. Agar para politikus terbebas dari dosa (haram) maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan.

"Pada momen silaturahmi nanti kita pakai istilah 'halalbihalal," jelas Kiai Wahab.

Setelah mendengar saran tersebut, Soekarno mengundang para tokoh politik untuk datang ke Istana pada saat Idul. Segala macam perselisihan pun sirna kala mereka duduk dalam satu meja. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH