Asal Ada Kemauan Berantas Match Fixing, Engga Sampai Seminggu Selesai Ilustrasi (shutterstock)

Merahputih.com - Direktur Utama Persija Jakarta, Gede Widiade menyebut jika PSSI maupun aparat penegak hukum serius ingin memberantas praktik pengaturan skor atau match fixing tak ada yang sulit.

"Sebentar itu, paling nggak sampai seminggu ketahuan pemainnya, baik dalam liga, PSSI siapa. Asal ada kemauan," ujar Gede Widiade dalam diskusi PSSI Pers bertajuk Citra Negatif Sepakbola Nasional di Kemang, Jakarta, Jumat (30/11) sore.

Namun, jika tak serius, akan sulit memberantasnya. "Tapi biasa di Indonesia, teriak-teriak, sepuluh menit hilang. Dulu saya juga dituduh menerima suap ketika menjadi manajer SEA Games," beber Gede.

"Saya dituduh seseorang yang bersembunyi di balik benteng kuat. Lucunya lagi suapnya 100 juta, sementara saya mengeluarkan miliaran untuk pembiayaan timnas. Saya harus tuntut? Saya tahu kredibilitas yang bikin isu, sama-sama saja," sambungnya.

ilustrasi match fixing
Ilustrasi Match Fixing (Shutterstock)

Baginya, isu match fixing sudah menjadi hal yang biasa. Hanya saja, kerap lenyap karena tidak ada tindakan nyata.

"Match fixing di Indonesia sudah biasa, tapi apakah ada buktinya? Saya mantan lawyer. Ada orang mengaku maling, tapi didiamkan saja. Buat apa membicarakan, kalau maling mengaku tapi tidak ditangkap," jelasnya.

Gede Widiade meyakini match fixing akan terus berlanjut apabila tak diselesaikan secara tuntas. "Ya, begini-begini saja," singkat Gede.

"Match fixing dan pengaturan skor itu pidana. Kalau bukan delik aduan harusnya polisi tangkap. Kalau delik aduan siapa yang merasa dirugikan. Kalau federasi tidak berani harusnya masyarakat melakukan class action, sangat mudah," tutup Gede. (*/bolaskor.com)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH