Sains

Artificial Intelligence Dapat Deteksi Tanda Awal Kanker Paru-Paru

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Kamis, 13 April 2023
Artificial Intelligence Dapat Deteksi Tanda Awal Kanker Paru-Paru
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan agar orang dewasa yang berisiko terkena kanker paru-paru mendapatkan CT scan dosis rendah. (Foto: Unsplash/Robina Weermeijer)

PARA peneliti di Boston berada di ambang kemajuan besar. Prosedur skrining kanker paru-paru selangkah demi selangkah menuju era baru lewat kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang dapat mendeteksi tanda-tanda awal kanker paru. Sebelumnya, dokter bisa menemukannya lewat CT scan.

Alat AI baru itu disebut Sybil. Dikembangkan oleh para ilmuwan di Mass General Cancer Center dan Massachusetts Institute of Technology di Cambridge, alat itu terbukti dapat memprediksi secara akurat apakah seseorang akan terkena kanker paru-paru pada tahun berikutnya. Peluang keakuratannya cukup besar, yakni 86% hingga 94%.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini merekomendasikan agar orang dewasa yang berisiko terkena kanker paru-paru mendapatkan CT scan dosis rendah setiap tahun untuk mendeteksi penyakit ini.

Baca juga:

Memanfaatkan Kecerdasan Buatan Tanpa Melanggar Privasi

sybil
Mata ahli radiologi yang paling tajam sekalipun, tidak dapat melihat semuanya. (Foto: Unsplash/National Cancer Institute)

Namun, bahkan dengan pemeriksaan rutin, mata ahli radiologi yang paling tajam sekalipun, tidak dapat melihat semuanya. Dan di sinilah peran Sybil.

“Mata telanjang tidak bisa melihat semuanya,” kata Dr. Lecia Sequist, seorang ahli onkologi dan direktur program Klinik Deteksi Dini dan Diagnostik Kanker di Rumah Sakit Umum Massachusetts seperti disiarkan NBC.

“AI yang kami kembangkan melihat pemindaian dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang dilihat oleh ahli radiologi manusia,” lanjutnya.

Alat itu, kata para ahli, bisa menjadi lompatan jauh ke depan dalam deteksi dini kanker paru-paru, kanker paling umum ketiga di Amerika Serikat, menurut CDC.

Penyakit tersebut merupakan penyebab utama kematian akibat kanker, menurut American Cancer Society. Mereka memperkirakan akan ada lebih dari 238.000 kasus baru kanker paru-paru dan lebih dari 127.000 kematian.

Baca juga:

Pentingnya Pengujian Biomarker untuk Kanker Paru-Paru



Sementara itu, untuk memprediksi risiko kanker, Sybil mengandalkan satu CT scan, lalu menganalisis gambar tiga dimensi.

Selanjutnya, "Sybil mencari tidak hanya tanda-tanda pertumbuhan abnormal di paru-paru, tetapi juga pola atau gangguan lain yang belum sepenuhnya dipahami para ilmuwan," jelas Dr. Florian Fintelmann, ahli radiologi di Mass General Cancer Center.

Meski begitu, Sybil belum disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk digunakan di luar keperluan uji klinis.

Jika kelak disetujui, Sybil bisa memainkan peran unik dan membantu lebih banyak orang untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin. (dsh)

Baca juga:

Cara Tepat Perawatan Pasien Kanker Paru-Paru di Masa Pandemi

#Sains #Kesehatan #Teknologi
Bagikan
Bagikan