Aroma Politik di Pesta Akbar Olahraga Asia Suasana saat burung-burung dilepaskan pada Pembukaan Asian Games 1970 di Bangkok, Thailand. (Foto/TAKHTEJAMSHIDCUP)

KALA Perang Dunia II sedang panas-panasnya, beberapa negara di Asia masih sempat menyelenggarakan sebuah ajang sepak bola untuk mempererat hubugan antarnegara.

Kerajaan Jepang, Kepulauan Filipina, dan Republik Tiongkok menggelar sebuah ajang olahraga bernama Far Eastern Championship Games.

 Tim sepak bola Cina yang memenangkan kejuaraan di Far East Games. (Foto/bannedbook.org)
Tim sepak bola Cina yang memenangkan kejuaraan di Far East Games. (Foto/bannedbook.org)

Kompetisi tersebut pertama diadakan di Manila pada tahun 1913. Sejak itu, lantas kesuksesannya, banyak negara Asia lainnya ikut berpartisipasi.

Di saat bersamaan, Jepang semakin moncer di Perang Dunia II. Ambisi memperluas kekuasaan membawa mereka ke pertarungan dan aneksasi beberapa negara Asia, semisal Tiongkok dan Filipina.

Akibatnya, gelaran olahraga tersebut terhenti pada 1938 lantaran pertikaian politik dan terus berlangsung hingga wilayah Asia perbatasan Timur Tengah.

Aroma Politik Palestina-Israel

Presiden Soekarno memotong pita saat pembukaan Asian Games 1962. (Foto/Majalah Mimbar Penerangan Tahun ke XIII No. 6/7, Juni/Juli 1962)
Presiden Soekarno memotong pita saat pembukaan Asian Games 1962. (Foto/Majalah Mimbar Penerangan Tahun ke XIII No. 6/7, Juni/Juli 1962

Pada Agustus 1948, pada saat Olimpiade di London, perwakilan India, Guru Dutt Sondhi mengusulkan kepada para pemimpin kontingen dari negara-negara Asia untuk mengadakan Asian Games. Seluruh perwakilan tersebut menyetujui dan Asian Games lahir.

Awal mulanya, memang olimpiade ini berjalan lancar dan penuh sportifitas. Namun, pada helatan keempat unsur politik mulai membengkak. Benar saja, pada 1962 kasus politik pecah dalam tubuh Asian Games. Indonesia yang menjadi tuan rumah kala itu tak memberikan visa kepada atlet Israel.

Hal ini diduga karena Indonesia yang sejak 1948 mengecam perbuatan Israel yang menyerang Palestina. Indonesia memang jelas sudah berdiri di samping Palestina.

Akibat perbuatannya, Indonesia diskorsing dari IOC (Komite Olimpiade Internasional) pasca-perhelatan Asian Games keempat. Isu politik mulai meredup.

Namun, 12 tahun berjalan tepatnya pada 1974. Politik kembali timbul di Asian Games. Israel kembali menjadi korban. Beberapa atlet negara arab menolah untuk bermain melawan atlet-atlet Israel dengan mengatasnamakan solidaritas terhadap Palestina yang sejak 1948 dirongrong Israel.

Boikot terus terulang. Empat tahun berselang, tepatnya pada Asian Games 1978 di Bangkok, Israel diboikot langsung oleh Asian Games Federation (AGF). AGF mengganjar sanksi sementara buat Israel untuk tampil di Asian Games dengan alasan keamanan.

Hal itu membuat Presiden Komite Olimpiade Israel Joseph Inbar ngamuk. “Alasan utamanya karena federasi (OCA) memiliki (dewan) tujuh negara Arab serta China dan mereka ingin mendepak kami,” ujarnya seperti dilansir suratkabar St Petersburg Times, 26 Juli 1976.

Persekusi terhadap Israel makin parah dengan keluarnya keputusan rapat Dewan AGF, 26-27 November 1981. Pada olimpiade yang berlangsung di New Delhi, India, Israel dilarang ikut serta oleh Dewan Olimpiade Asia (OCA) yang baru dibentuk menggantikan Federasi Asian Games (AGF).

"Israel akan dilarang oleh organisasi olahraga Asia yang akan diresmikan pada bulan desember 1982," ujar salah satu pejabat komite Olimpiade Jepang dilansir Ottawa Citizen pada 10 desember 1981.

Kebijakan itu makin kokoh setelah Federasi Atletik Amatir Internasional memvotting Israel boleh ikut atau tidak. Hasilnya, sebanyak 374 suara menolak dan hanya 10 suara yang mepersilahkannya ikut serta. (*)



Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH