Arian 13: Artworker Indonesia Butuh Eksistensi Arian 13 optimistis artworker Indonesia bisa go international. (foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)

CASIO secara resmi mengumkan proyek kolaborasi terbaru mereka dengan sebuah brand asal Singapura spesialis costumizer sepatu Sneakers, SABOTAGE atau yang disingkat SBTG, Kamis (12/4). Kolaborasi apik itu menelurkan sebuah jam tangan limited edition G-Shock X SBTG DW-5600.

Terkait dengan kolaborasi antara artworker asal Singapura Mark Ong, pendiri dari Sabotage, dan Casio, vokalis grup band Seringai, Arian 13, angkat bicara. Ia menyebut langkah kolaborasi tersebut merupakan pilihan yang tepat. Ia beralasan di zaman sekarang ini dibutuhkan sesuatu yang baru dan orisinal.

“Kalau menurut gua sih sekarang tuh eranya sudah kolaborasi. Jadi untuk mencari sesuatu yang orisinal itu sekarang, misal kan kayak tren 70, 80, dan 90-an balik lagi. Jadi kayak sekarang itu untuk membuat sesuatu yang baru bisa dengan ide-ide fresh yang terus dikolaborasikan,” tutur Arian saat ditemui Merahputih.com di Our Daily Dose, Pondok Indah Mall 2, Jakarta Selatan, Kamis (12/4).

Sementara itu, untuk kolaborasi pembuatan jam tangan yang dilakukan G-Shock dan Sabotage, bagi pemilik nama lengkap Arian Arifin tersebut diniai cukup cermat. Hal itu disebabkan keduanya memiliki pandangan sama.

“Kalau ini G-Shock dengan Sabotage, mereka identik dengan street style dan urban art jadi ya cocok lah,” tambah Arian.

Jika melihat kesuksesan yang berhasil dikukuhkan artworker dari luar negeri itu tentunya para artworker Indonesia juga tak boleh kalah bersaing. Indonesia pun memiliki banyak anak muda kreatif dan berbakat yang bukan tidak mungkin dapat merajai kancah internasional.

Namun, Arian 13 sendri tak menampik bahwa para artworker Tanah Air bisa go international layaknya Mark Oong dari Sabotage, tapi mungkin terkendala beberapa hal yang menghambat langkah mereka.

“Setahu gua sih kalau sekarang, ya paling susahnya kadang di birokrasinya. Namun, menurut gua untuk di masa depan sih udah oke ya,” ujar Arian.

“Maksudnya, di sini juga sudah banyak, terutama untuk yang muda-muda kaya seniman-seniman urban art atau street art. Itu udah banyak kolaborasi kok dengan brand-brand terkenal,” lanjutnya.

Selain beberapa hambatan, bagi Arian, masih ada beberapa PR untuk para artworker Indonesia agar dapat berjaya di kancah internasional. Salah satunya, eksistensi.

“PR-nya eksistensi aja sih sekarang. Soalnya justru gua lihat juga udah banyak yang punya nama di internasional, tapi dikenal sama internasional masih belum. Masih kalah sama yang lebih established,” tuturnya.

Sebagai contoh, Arian menyebut scene komik. Di Indonesia sendiri telah banyak colorized komikus atau ilustrator.

"Karya mereka tak bisa dianggap enteng karena beberapa ada yang menggambar untuk Marvel dan sebagainya, hanya saja masih dibelakang layar," tutupnya.(Ryn)

Kredit : raden_yusuf


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH