Argentina Tanggapi Peringatan Amerika Serikat Terkait Hubungan dengan China Presiden China Xi Jinping dan istri Peng Liyuan (ANTARA Foto/Reuters)

MerahPutih.Com - Negara-negara Amerika Latin sama sekali tidak terusik dengan kecemburuan Amerika Serikat terhadap mesranya hubungan negara di kawasan itu dengan China.

Sebagai salah satu negara yang disebut Donald Trump, Argentina justru makin meningkatkan kerja sama dengan China dan Rusia. Otoritas Argentina pada Kamis (8/2) waktu setempat menyatakan hubungan dagang dengan Rusia dan China tidak menimbulkan masalah sebagaimana dituding Amerika Serikat.

Sebelum memulai kunjungan ke wilayah tersebut, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson pada pekan lalu mengatakan bahwa kehadiran Rusia di Amerika Latin mengkhawatirkan.

Tillerson sebagaimana dilansir Antara dari Reuters mengatakan bahwa wilayah tersebut tidak membutuhkan kekuatan baru, yang mengacu pada hubungan niaga, yang makin menguat dengan Rusia dan China.

"Ada peningkatan minat (di China dan Rusia) dan kami mendorongnya karena tampaknya sangat bagus, tidak menimbulkan masalah," kata Sekretaris Hubungan Ekonomi Argentina Horacio Reyser kepada Reuters.

China adalah mitra dagang Argentina nomor dua setelah Brasil, dan merupakan pembeli utama dari tanaman komoditas utama Argentina yaitu kedelai.

Reyser pun meminta lebih banyak arus perdagangan dengan Rusia.

"Hari ini kita menjalin perdagangan dengan Rusia senilai sekitar Rp11,9 triliun, yang mana angka ini sangat rendah. Kami percaya bahwa jumlahnya bisa berlipat ganda," katanya saat diwawancarai melalui telepon.

"Mungkin ada beberapa kesempatan untuk bertransaksi dengan Rusia, sama seperti kita dapat memperbaiki perdagangan kita dengan China dan juga menerima investasi dari Rusia dan China," kata Reyser.

Dia mengatakan ini tidak akan menyiratkan konsentrasi perdagangan dengan kedua negara.

"Sebaliknya, kami mencari diversifikasi," katanya menambahkan.

Tillerson menunjukan ketidaksetujuannya pada minggu lalu saat ia mengatakan Doktrin Monroe 1823, yang telah dikaitkan dengan intervensi bersenjata AS di Amerika Latin masih relevan hingga hari ini seperti saat hari dokumen tersebut ditulis.

Menteri Perdagangan Peru Eduardo Ferreyros membela China sebagai mitra dagang yang baik pada hari Selasa.

] Dia mengatakan bahwa kesepakatan liberalisasi perdagangan Peru tahun 2010 dengan China telah memungkinkan negara Andean tersebut memiliki sekitar 30 juta orang menghasilkan surplus perdagangan sebesar Rp36,4 triliun dengan Beijing tahun lalu.

"Kami senang dengan hasil kesepakatan dagang itu," katanya.(*)


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH