Arek Surabaya Salah Duga, Pasukan India Disangka Gurkha Pasukan Gurkha. (wsj.com)

PASUKAN musuh terdesak di gedung Internatio. Di luar, massa pemuda mengepung. Tembak-menembak terus terjadi. Mereka belum beroleh info persetujuan penghentian pertempuran kedua pemimpin tertinggi di gedung Gubernuran pada hari itu, 30 Oktober 1945.

Rombongan Kontak Biro, termasuk wakil Indonesia Roeslan Abdulgani, Residen Soedirman, TD Kundan, dan wakil Inggris Kapten Shaw, RC Smith, serta Brigadir Mallaby, menuju lokasi untuk meredakan pertempuran sesuai butir kesepakatan.

Di tengah usaha perdamaian, insiden baku tembak kembali pecah hingga menewaskan Brigadir Mallaby. Seluruh rombongan kontak biro tercerai-berai. Roeslan, Cak Dul Arnowo, melompat ke Kali Mas menghindari tembakan. Pertempuran sengit. Suara tembakan baru reda pada pukul 22.00 WIB.

“Keesokan harinya, sekitar pukul 13.00 siang, seluruh pasukan Gurkah yang bermarkas di Gedung Internatio, mengosongkan gedung tersebut dengan diangkut oleh truk-truk TKR ke Markas Besar Inggris di Jalan Westerbuitenwerg,” ungkap Muhammad, salah satu Biro Kontak, dikutip Roeslan Abdulgani pada Seratus Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia.

Seluruh Biro Kontak asal Indonesia, bahkan semua arek Suroboyo menganggap tentara di dalam gedung Internatio merupakan serdadu Gurkha. Mereka tak bisa membedakan mana Gurkha, mana India, mana resimen Punjab beragama Islam.

Dengan keliru, surat kabar Warta Indonesia, terbit 29 Oktober 1945, mengabarkan pendaratan pasukan Inggris di Pelabuan Ujung pada tanggal (25/10), disertai pasukan Gurkha. Mereka bermuka India. Tubuhnya tinggi besar. Bercambang dan bersorban. Senjata mereka tommy gun dan mitraliur.

Arek Surabaya memiliki pandangan sendiri mengenai pasukan Gurka. Mereka mengenal kemahiran Gurkha pada perang di Burma memalui surat kabar. Gurkha diangap serdadu paling mengerikan.

Seorang penerjemah bahasa pihak republikan, TD Kundan, sempat limbung karena para pejuang memukul rata musuh seluruh pasukan India, Punjab bergama Islam (Pakistan kini), semua Gurkha, semua musuh.

TD Kundan sempat menjalin hubungan baik dengan para pasukan India melalui jalur kultural. Sebab, tak semua pasukan India sependapat untuk melakukan serangan di Surabaya.

Usaha Kundan gagal. Pertempuran 3 Hari, 28-30 Oktober 1945, menghancurkan segalanya. Para pejuang Surabaya bahkan mencurigai orang-orang India telah menetap lama di Surabaya.

Setelah Komandan Pasukan India Brigade ke-49, Brigadir AWS Mallaby pada baku-tembak di sekitar gedung Internatio, pada 30 Oktober 1945, Militer Kerajaan Inggris sontak mengencam keras dan berniat membalas seacara sporadis.

Jendral BC Mansergh ditunjuk menggantikan Hawthorn, menjadi Komandan Tentara Sekutu Jawa Timur dan mewakili Panglima Tentara Sekutu Hindia-Belanda. Diam-diam, tanpa sepengetahuan pemimpin nasional, Pasukan Divisi ke-5 mendarat di Pelabuhan Ujung.

Pendaratan pasukan tersebut sesunggunya sudah terendus pejuang Surabaya. Mereka mengabarkan Roeslan Abdulgani, Kustur, dan Mudiantoro. Mereka kemudian meneruskan kepada Gubernur Suryo dan langsung diteruskan kepada Menteri Penerangan, Amir Syarifuddin, kala itu sedang berada di Surabaya.

“Maka Bung Amir agak marah kepada kita. Beliau meminta dengan sangat kepada kita jangan sampai kita mudah terjebak berita-berita provokasi,” ungkap Abdulgani.

Di antara Pasukan Divisi ke-5, terdapat dua batalyon Gurkha, 3/9th Gurhka Rifles dan ¾ Gurkha Rifles. Pada pendaratan tanggal 6 November 1945 itulah kali pertama pasukan Gurkha menginjaka kaki di Surabaya. “Dalam beberapa catatan tentang pertempuran Surabaya, Brigade ke-49 sering disebut sebagai pasukan Gurkha,” tulis JGA Parot pada “Who Killed Brigadier Mallaby”. “Padahal tak ada pasukan Gurkha dalam Brigade ke-49,”.

Kedatangan Pasukan Gurkha dan tambahan artileri berat dan pesawat tempur pasukan Inggris membuat laju pertempuran pada bulan November menjadi berbeda dengan Pertempuran 3 Hari, pada 28-30 Oktober 1945.

Para pejuang Surabaya justru kewalahan menghadapi serbuan udara ditambah rangsekan tank pasukan Inggris. Arek Surabaya sampai memindahkan markas komando hingga ke luar Surabaya. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH