Arek Surabaya Bertempur Kesetanan, Pasukan Inggris Pontang-Panting Kewalahan (4)

KABAR ultimatum Panglima Divisi ke-23 Jendral Mayor DC Hawthorn lewat pamflet-pamflet sampai di telinga Pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya, Moestopo. Ia bersama Residen Soedirman lantas mengontak Komandan Pasukan Brigade ke-49 Brigjen Mallaby untuk mengonfirmasi isi pemaflet.

Hawthorn, pada pamfletnya, memerintahkan rakyat Surabaya agar menyerahkan kembali senjata dan peralatan Jepang kepada Sekutu. Perintah itu disertai ancaman bila ada orang terlihat membawa senjata dan tidak bersedia menyerahkan kepada Sekutu, maka tembak di tembak di tempat.

Kedua pihak lantas bertemu. “Rupanya Mallaby agak terperanjat juga dengan adanya pamflet-pamflet itu,” ungkap Roeslan Abdulgani pada Seratus Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia. Sesuai garis komando, mau tak mau Mallaby harus menerima perintah Hawthorn.

Isi pamflet membuat marah pejuang-pejuang Surabaya. “Jelas pamflet-pamflet ini melanggar jiwa dan aksara persetujuan tanggal 26 Oktober 1945,” ungkap Abdulgani.

Keadaan Surabaya menjadi tak menentu. Para pemuda mulai memasang barikade. Sementara Kolonel Pugh memerintahkan menyita setiap kendaraan. Kondisi memanas. Badan-badan perjuangan, BKR, Polisi Istimewa menggangap tindakan Pugh melanggar kesepakatan.

Pertempuran Surabaya
Rudal pasukan Inggris. Sumber; Imperial War Museum.

Seluruh badan perjuangan berkonsolidasi. BKR, TKR, Pemuda Rakyat Indonesia (PRI), Barisan Hizbullah, API, BPRI, BKR Pelajar, PTKR, Perisai, PAL, MKL, TRIP, Pasukan L, TGP, AMS, PRI Maluku, PRI Kalimantan, dan pasukan polisi istimewa semua menyatakan menolak ultimatum Sekutu dan siap bertempur mempertahankan Surabaya.

Tembak-menembak pertama, menurut Barlan Setiadijaya pada 10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia, terjadi ketika kepulangan para anggota PRI Sulawesi (Perisai) seusai rapat konsolidasi menyenggol barikade Sekutu di muka Rumah Sakit Darmo. “Tembak-menembak ini merembet ke seluruh kota di Kayoon, Simpang, Ketabang, Jembatan Merah, dan Bentengmiring di Ujung,” tulis Barlan Setiadijaya pada 10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia.

Konvoi kendaraan Inggris mandek karena barikade. Truk pengangkut logistik dicegat laskar. Pos-pos kecil di seluruh kota digempur badan-badan perjuangan. “Mereka diserang dengan senjata apa adanya. Aliran listrik, telepon, dan saluran air diputus, sehingga pasukan Inggris sangat menderita karena tidak menerima pasokan logistik dari luar” tulis Barlan.

Mayat-mayat pasukan India terombang-ambing di Kali Mas. Pasukan India Brigade ke-49 sebanyak 6.000 personel hancur lebur dan diambang kekalahan. Markas mereka di Darmo, Gubeng, Ketabang, Sawahan, Bubutan, dan daerah pelabuhan serta lapangan terbang Morokrembangan dikepung arek-arek Suroboyo.

Pertempuran 3 hari, 28-30 Oktober 1945, seturut Letkol Doulton pada The Fighting Cock, sangat menguras tenaga pasukan Inggris. Tiap pos Inggris terkepung. Pertempuran berlangsung hingga tengah malam. “Waktu sangat lamban, dan setiap jam, posisi pertahanan kita terus memburuk,” ungkapnya.

Doulton terheran-heran dengan semangat juang arek-arek Suroboyo. Mereka, lanjut Doulton, tak memperhitungkan nyawa. “Bila seorang gugur, lainnya tampil ke depan, seperti orang mabuk dan menggila melihat darah,” imbuh Doulton.

Kondisi pertempuran semakin kritis bagi Inggris. Komandan Pasukan India Brigade ke-49 AWS Mallaby kemudian mengambil jalan perundingan untuk keluar dari pertempuran. Mallaby mengirim kawat SOS kepada atasannya di Jakarta. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH