Aquafest 2020 Jadi Ajang Temu Kangen Virtual Penggemar Ikan Hias Se-Indonesia Betta FIsh. (Foto Fishkeeping World)


FESTIVAL tahunan akuakultur terbesar di Indonesia, Aquafest 2020, akan menjadi ajang temu kangen virtual bagi penggemar ikan hias di masa pandemi COVID-19.

Acara Himpunan Mahasiswa Akuakultur (Himakua) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB tersebut merupakan kegiatan festival tahunan akuakultur terbesar di Indonesia.

Meski pandemi mengharuskan setiap orang mematuhi protokol kesehatan, termasuk jaga jarak dan menghindari kerumunan, panitia tak menyerah dan melangsungkang Aquafest 2020 secara virtual.

Baca juga: Lengkapi Koleksi dengan Lelang Cupang di Media Sosial


"Utamanya, kegiatan ini diselenggarakan untuk mengangkat pamor ikan-ikan hias Indonesia serta memperkenalkan akuakultur kepada masyarakat," kata Ketua Pelaksana Aquafest 2020 Muhammad Ikhsan dikutip ANTARA, Jakarta, Minggu.

Ikhsan menegaskan pandemi COVID-19 tidak menyurutkan keinginan menggelar kegiatan dimulai pada 26 September 2020 dan akan berlangsung sampai 18 Oktober 2020.

Cupang
Black cooper dragon size S+ ikan hias yang berwarna hitam laku pada saat lelang (Foto: Doc. Alamsyah Pratama)

Dalam kegiatan itu, terdapat dua kategori besar; e-conference dan perlombaan. E-conference berbentuk seminar virtual dan lokakarya, sedangkan perlombaan berupa kontes infografis, videografis, hingga kontes video dan foto.

Dalam pembukaan festival, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Luky Adrianto mengatakan kegiatan Aquafest sebagai branding dan ikon serta role model menggabungkan kreativitas serta ilmu pengetahuan dan bisnis di bidang perikanan dan kelautan.

"Saya berharap akuakultur dapat dijadikan sektor yang dapat memulihkan perekonomian Indonesia pascapandemi, tentunya dengan melibatkan multiscale farmer dari skala kecil hingga industri serta menjadi lokomotif utama perekonomian Indonesia," tutur Luky.

Pembukaan festival disertai dengan seminar virtual series pertama dengan topik utama "Transformasi Akuakultur dalam Menghadapi Tantangan serta Peluang di Era Disruptif". Seminar virtual (webinar) itu diadakan untuk menanggapi fenomena industri akuakultur namun kekurangan sumber daya manusia serta lemahnya penanganan penyakit ikan.

Cupang
Kisah pebisnis ikan cupang yang mulai berjualan dengan gerobak hingga ekspor ke luar negeri (Foto: Instagram @anang_masberto_betta_cupang)

Dalam paparannya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan terdapat potensi luar biasa harus dikelola untuk pembangunan akuakultur ke depannya.

Komoditas unggulan baru terus bermunculan perlu dikelola lebih lanjut, misalnya ikan-ikan asli daerah perlu dikembangkan, seperti gabus, belida, hingga udang galah.

Baca juga: Pemain Pemula, ini nih Kisi-Kisi Perawatan Ikan Cupang

Dia menuturkan akuakultur di era pandemi ini sangat signifikan menyerap tenaga kerja dikarenakan beberapa tren sedang bermunculan, hanya perlu diperhatikan area budidayanya.

Adapun tantangan di era pandemi COVID-19 pada sektor budidaya perikanan terutama kondisi sarana dan prasarana kurang memadai, penurunan harga komoditas, hingga penyesuaian sistem logistik.

Sementara program utama pemerintah saat ini peningkatan ekspor udang di 2024 sebagai komoditas dengan nilai terbesar di sektor perikanan budidaya.

Akuakultur berkelanjutan juga terus diupayakan, tak hanya di aspek produktivitas, tetapi juga perekonomian sosial karena di tahun 2024, pemerintah akan mengusahakan minimal pendapatan warga di sektor tersebut di atas 4,6 juta rupiah per bulan. (*)

Baca juga: Kisah Anang Buchori Pengusaha Ikan Cupang yang Punya Omset Puluhan Juta


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH