Antartika Punya Hutan Hujan Tropis, 90 Juta Tahun Lalu Karena cuaca yang lebih hangat, dulu Antartika tidak ada es dan penuh dengan hutan. (unsplash @mandddysweettt)

MENGEJUTKAN. Tak ada yang menyangka tempat sedingin antartika pernah ditumbuhi rimbunnya hutan hujan tropis. Saat zaman dinosaurus, Antartika punya cuaca yang hangat. Jadi hutan hujan yang tropis tumbuh di sana.

Temuan itu diketahui berkat fosil dari hasil pengeboran. Fosil itu menunjukkan pernah adanya sebuah hutan di Antartika. Melansir The Guardian, penelitian yang dipublikasi di jurnal Nature menyebutkan pada 2017, penulis utama Johann Klages dan timnya mengebor lubang sempit ke dasar laut dekat gletser Pulau Pine di Antartika Barat.

BACA JUGA:

Ambisius, Uber akan Gunakan Mobil Listrik

Lokasi itu berada sekitar 2.000 km dari kutub selatan saat ini. Namun, sekitar 90 juta tahun yang lalu, jarak itu setara dengan sekitar 900 km dari kutub. "Kami segera melihat bahwa sesuatu yang istimewa sedang terjad. Kami melihat jaringan akar fosil yang luar biasa, murni, lengkap, dan padat di inti yang terhubung ke dasar inti," ucap Klages dalam penelitian, dikutip VICE.

Berbeda dengan batu pasir berwarna terang, Klages mengatakan kepada VICE bahwa inti itu berwarna gelap. Hal itu menunjukkan kayanya bahan organik. The Guardian melaporkan tim peneliti melihat materi yang ditutup dengan bahan seperti batu bara dan dikemas tanah dari hutan purba, lengkap dengan akar, spora, dan serbuk sari. Hal itu diidentifikasi berasal dari tumbuhan termasuk pohon konifer dan pakis.

antartika
Antartika saat ini dikelilingi dengan es dan binatang ikoniknya, penguin. (Foto:unsplash @eadesstudio)

"Ini seperti jika kamu pergi ke hutan dekat rumahmu di suatu tempat dan mengebor sebuah lubang ke tanah hutan. Ini benar-benar murni dan luar biasa," kata Klages dalam penelitiannya.

Para peneliti menemukan bukti lebih dari 65 jenis tanaman berbeda di dalam material, mengungkapkan bahwa lanskap di dekat kutub selatan sempat tertutupi hutan hujan konifer rawa yang mirip dengan yang ditemukan saat ini di bagian barat laut Selandia Baru. Materi tersebut bertanggal antara 92 juta dan 83 juta tahun yang lalu.

Fosil-fosil yang diawetkan dalam inti yang sangat langka itu merupakan gambaran pertama dari ekosistem periode kapur di garis lintang selatan, hanya 500 mil dari Kutub Selatan. "Ini jelas bukti periode kapur paling selatan yang pernah ditemukan di planet ini. Kami orang pertama yang mengebor di lingkungan itu," kata penulis utama Johann Klages, ahli geologi di Alfred Wegener Institute Helmholtz Center for Polar and Marine Research kepada VICE.

hutan
Peneliti menemukan bukti 65 jenis tanaman dari fosil-fosil. (Foto: unsplash @chrisabney)

Kapur, 145 juta hingga 66 juta tahun yang lalu, merupakan periode hangat saat Bumi memiliki iklim rumah kaca dan tumbuh-tumbuhan tumbuh di Antartika.

Para ilmuwan mengatakan penemuan itu tidak hanya mengungkapkan bahwa hutan hujan rawa tumbuh subur di dekat Kutub Selatan sekitar 90 juta tahun yang lalu, tetapi juga suhu lebih tinggi daripada yang diperkirakan.

Kondisi seperti itu, tambah mereka, hanya dapat terjadi jika tingkat karbondioksida jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya dan tidak ada gletser di wilayah tersebut. "Kami tidak tahu bahwa iklim rumah kaca Cretaceous ini ekstrem. Ini menunjukkan apa yang mampu dilakukan karbondioksida," kata Klages kepada The Guardian.

antartika
Ilustrasi Antartika 90 tahun yang lalu. (Foto: Facebook Alfred Wegener Institute, James McKay)

VICE menyebut peneliti juga mengatakan mereka cukup yakin sekarang untuk mengatakan bahwa pada saat itu tidak ada es, Antartika benar-benar bervegetasi dan memiliki konsentrasi CO2 yang sangat tinggi.

Dr James Bendle, seorang ahli geokimia organik dari Universitas Birmingham, mengatakan kepada The Guardian bahwa mempelajari ekosistem Antartika sangat penting dalam memahami perubahan iklim di masa lalu dan masa depan.

Ia juga menambahkan, penggunaan bahan bakar fosil yang terus-menerus dapat mendorong konsentrasi karbondioksida ke tingkat yang serupa dengan 90 juta tahun yang lalu pada awal abad berikutnya.

"Pada akhirnya, jika kita memiliki atmosfer lebih dari 1.000 bagian per juta karbondioksida, kita berkomitmen pada planet masa depan yang memiliki sedikit atau tanpa es. Pada akhirnya sebuah benua Antartika yang akan ditumbuhi tumbuhan dan tidak akan memiliki tutupan es," katanya kepada The Guardian.(lev)

BACA JUGA:

Ilmuwan Harvard Menang Nyaris Rp45 Miliar untuk Karya Tentang Naluri Mengasuh


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH