Antara Busana, Gaya dan Dunia Maya Ma’ruf Amin dan Sandiaga Sandiaga Uno dan Ma'ruf Amin. (Ilustrasi: MP/Nita)

MerahPutih.com - Minggu (17/3) malam nanti, dua calon wakil presiden Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno bakal berada dalam satu panggung di Hotel Sultan, Jakarta. Di atas panggung tersebut keduanya akan berdebat dalam tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya. Saat disandingkan, Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno memang sangat kontras. Tak hanya dari sisi usia, latar belakang keduanya pun sangat berbeda. Amin pemuka agama, sementara Sandi merupakan pebisnis muda.

Dalam debat nanti, mereka tak ditemani pasangan masing-masing. Nah, sebelum menyaksikan keseruan debat, yuk kita simak apa saja sih yang membuat kedua orang ini begitu kontras.

1. Busana

Jokowi Amin
Pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin saat acara debat. (Antarafoto)

Dalam kesehariannya, Sandi begitu memperhatikan penampilannya. Terutama saat menjalani debat pertama dan kedua bersama Prabowo pasangannya. Di tampil begitu rapi dan elegan dalam setelan jas. “Dalam debat sebelumnya, Sandi sangat menjaga penampilannya,” kata pengamat mode Sonny Muchlison seperti dilansir antara.

Tapi di sisi lain, Ma'ruf punya tampilan yang tidak kalah berkarakter: selalu menggunakan sarung. Sarung itu, dipadukan dengan kemeja sebagai atasan. Pada acara-acara formal, pria yang selalu mengenakan peci itu kerap memakai jas yang membuat tampilannya terlihat lebih resmi. Sesekali, sorban menghiasi lehernya. "Itu pakaian santri," ujar perancang Deden Siswanto, Sabtu (16/3).

Tradisi bersarung awalnya dimulai dari kebiasaan kaum sarungan di wilayah Pulau Jawa. Menurut antropolog Cliffort Geertz dalam buku "Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa", kaum santri identik dengan pelaksanaan ritual pokok agama Islam. Nah, sekarang, sarung juga jadi objek karya para perancang-perancang Indonesia, salah satunya Deden.

Lalu, apakah gaya busana Ma'ruf Amin juga berkontribusi secara signifikan dalam misi memopulerkan penggunaan sarung di luar untuk beribadah? Deden berpendapat, dampaknya tidak begitu signifikan untuk kampanye Sarung is My New Denim, dimana masyarakat diajak memperlakukan sarung seperti celana-celana jins yang tak lepas dari keseharian untuk acara formal dan informal.

2. Gaya komunikasi

Sandiaga AHY
Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono saat bermain basket bersama, Minggu (17/3). Foto: Tim Media Prabowo-Sandiaga

Untuk gaya komunikasi, peneliti komunkasi vokasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rachmawati menjabarkan tiga perbedaan antara Ma’ruf dan Sandi. Yakni: isi, gaya dan target khalayak.

"Value yang ditawarkan keduanya sama. Yaitu positif dan optimistis," ujar Devie. Hanya saja, bedanya Ma'ruf menyampaikan pesan dengan tema-tema yang lebih umum, sementara Sandi lebih spesifik. Tema yang identik dengan sosok Sandi berkisar pada kewirausahaan, ekonomi, serta kesehatan olahraga.

Dari sisi gaya, Ma'ruf Amin dinilai jauh lebih formal ketimbang Sandi yang kasual. Ma'ruf identik dengan balutan keagamaan, sementara Sandi lekat dengan gaya-gaya kontemporer yang kerap diperbincangkan di media sosial. Sebut saja guyonan "rambut petai" saat berkampanye di pasar Subang, juga komentarnya mengenai tempe setipis kartu ATM.

Perbedaan gaya ini berhubungan dengan karakter masyarakat yang jadi sasaran mereka. Segmentasinya Ma'ruf Amin menyasar usia senior dan old milenial. Sandi betul-betul menyasar kalangan muda, younger milenial. Itu adalah bagian dari strategi masing-masing kubu untuk menjangkau sebanyak mungkin lapisan masyarakat.

Dari segi gaya, Sandi sebenarnya lebih pas jika dibandingkan Joko Widodo. Mereka sama-sama lebih aktif menyajikan konten-konten kekinian yang menarik perhatian generasi muda. "Ini upaya saling melengkapi sehingga kemampuan komunikasi mereka paripurna."

3. Dunia Maya

Atta
Atta Halilintar saat berfoto dengan Ma'ruf Amin. (IG Atta Halilintar)

Sementara itu, di dunia maya, Sandi lebih unggu dibanding dengan Ma’ruf. Buktinya, akun @sandiuno, yang sudah bercentang biru sebagai tanda akun itu terverifikasi Twitter untuk pesohor yang punya banyak pengikut. Jumlah pengikut @sandiuno sudah mencapai 1,25 juta. Di instagram jumlahnya tiga kali lipat.

Jumlah pengikut akun media sosial Ma'ruf kalah jauh. Pengikutnya di twitter masih belasan ribu, sedangkan di Instagram jumlahnya hanya mencapai 40.000an.

Menurut peneliti Komunikasi Digital Dwi Aini Bestari, ketimpangan di dunia maya tidak mengherankan karena Sandi memang sudah lebih lama mengelola akun-akunnya dibandingkan Ma'ruf. "Ma'ruf Amin terlihat baru aktif di sosial media setelah mencalonkan diri, dia baru join 2018," kata lulusan Universitas Utrecht, Belanda, saat dihubungi Antara, Sabtu (16/3). "Tak cuma itu, Sandi juga sudah lebih aktif sejak kampanye sebelumnya ketika jadi calon wakil gubernur."

Sesuai segmen yang disasar, Sandi dinilai lebih interaktif dengan para pengikutnya. Topik-topiknya tak jauh-jauh dari kewirausahaan.

Beda dengan Ma'ruf, meski berusaha menyasar isu yang sama, bahasa dan pendekatannya lebih informatif ketimbang interaktif. Itu membuat Sandi lebih tenar di media sosial.

Konten-konten yang disajikan di media sosial Sandi terlihat dipersiapkan matang oleh tim di belakangnya. "Dia banyak memakai konten video, di lanskap media sosial Indonesia, itu yang paling mudah menggaet perhatian pengguna."

Video punya keunggulan dalam menyampaikan pesan karena lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan konten dalam bentuk tulisan. Nilai tambah dari video-video itu adalah penampilan Sandi yang penuh percaya diri di depan kamera. Dia kerap memegang sendiri kameranya, seperti membuat vlog.

"Walau Sandi juga tidak mungkin membuat sendirian, tapi ada rasa percaya bahwa ini keluar dari pikirannya sendiri karena masih ada rasa kedekatan."

Kolaborasi atau interaksi dengan para pesohor dunia maya, misalnya YouTuber, juga diterapkan kedua kandidat.

Selebgram dan YouTuber Ria Ricis pernah membuat video bersama Jokowi. Di kubu sebelah, komika Pandji Pragiwaksono mengunggah video bersama Sandi dengan judul "Sandiaga Uno Menjawab Semuanya". Dalam video berdurasi 38 menit dalam format ngobrol santai, Sandi menjawab berbagai pertanyaan.

Format vlog adalah salah satu cara yang marak dipakai untuk mencuri hati orang-orang yang sering berselancar di dunia maya. "Ketika ada di vlog, mereka enggak hardselling."

Sandi juga punya ciri khas dalam membuat konten. Tak melulu soal program kerja. Tapi dia berusaha mencampurkannya dengan kehidupan pribadi sehingga tidak membosankan.

Nah, meski Ma'ruf tidak seaktif Sandi dalam kolaborasi bersama YouTuber, tapi bukan berarti nihil. Beberapa hari lalu, YouTuber nomor wahid di Asia Tenggara Atta Halilintar mengunggah fotonya bersanding dengan Ma’ruf. Atta melengkapinya dengan ucapan selamat ulang tahun untuk Ma'ruf yang baru menginjak usia 76 tahun. Foto kedua orang beda generasi itu pun menggemparkan warganet.

"Kedua kubu sangat terlihat berusaha mencuri hati milenial," jelas dia. (*)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH