Angkie Yudistia, Meraih Sukses dengan Mensyukuri Keterbatasan Angkie Yudistia. (Foto: Instagram/@angkie.yudistia)

ANGKIE Yudistia ialah seorang anak perempuan biasa. Ia terlahir dengan panca indera sempurna. Tidak ada hal membatasi dirinya dalam berkarya. Namun, pada usia 10 tahun ia harus menerima kenyataan pahit.

Pendengarannya terganggu. Bahkan, dokter memvonisnya sebagai tunarungu. Sejak saat itu, ia kerap mengeluhkan kondisinya. Akan tetapi, dukungan orangtua berhasil membangkitkan semangat Angkie. Ia akhirnya dapat menerima kenyataan. Tidak ada keluhan lagi keluar dari mulutnya.

Angkie juga tumbuh menjadi perempuan dewasa bersemangat tinggi dan pantang menyerah. Dengan keterbatasannya, perempuan kelahiran 5 Juni 1987 itu malah berhasil meraih posisi puncak di Thisable Enterprise. Angkie ialah chief executive officer di pusat pemberdayaan ekonomi kreatif untuk disabilitas Indonesia itu.

Sebagai seorang difabel, ia amat peduli kepada para penyandang disabilitas. "Targetku yaitu bisa memberdayakan secara ekonomi lebih dari 1.000 database disabilitas di Thisable Enterprise," kata Angkie kepada Merahputih.com.

Angkie mengambil hikmah dibalik kekurangannya. (Foto: Instagram/@angkie.yudistia)

Mungkin beberapa orang menganggap disabilitas sebagai kekurangan. Akan tetapi, lulusan London School of Public Relations itu tidak pernah berpikir seperti itu. Kekurangan yang ia miliki justru menjadi pendongkrak rasa peduli terhadap orang lain.

Hikmah yang diambil penulis buku itu adalah tumbuhnya rasa empati untuk orang lain. "Bahagia itu tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga ditularkan kepada orang lain. Spread the love, ignite the hope," tambah Angkie.

Hadapi rintangan

Perjalanan Angkie meraih kesuksesan tentunya tidak mudah. Orang normal saja melewati berbagai rintangan untuk mencapai kesuksesan. Apalagi Angkie dengan keterbatasannya. Tidak jarang ia mengeluh dengan kondisinya yang sulit mendengar.

Rasa depresi pernah menghantuinya. Saat itu baginya adalah titik terendah dalam hidupnya. Tekanan dari berbagai arah lantaran keterbatasannya membuatnya sering minder.

Namun menyerah tidak pernah ada dalam kamusnya. Dengan selalu berpikir positif ia menghilangkan rasa tidak percaya diri itu. Pemikiran lamanya telah ia ubah. Kekurangan bukalah suatu batasan dalam berkarya. Angkie banyak terinspirasi dari buku-buku inspiratif.

Seperti misalnya melalui buku yang ditulis oleh penulis ternama Hellen Keller. Bagi ibu satu anak ini sosok Helen sebagai inspirasinya mengasilkan buku yang ia tulis. Hingga saat ini Angkie telah menulis beberapa buku semisal 'Perempuan Tunarungu Menembus Batas', dan 'Setinggi Langit'. "Hellen keller lah yang memotivasi saya untuk bisa menghasilkan buku," tuturnya.

Ia juga selalu termotivasi dengan para womanpreneur. Sebagai ibu dari Kayla Almahyra, kasih sayang kepada sang anak dan fokus pada pekerjaan harus berimbang. Terlebih kini ia tengah mengandung anak kedua. Kehadirannya harus terbagi untuk keluarga dan dunia profesional.

Percaya doa

Saat berada dalam kondisi paling bawah setiap orang tentunya akan berdoa kepada sang maha kuasa. Apalagi dengan kondisi Angkie yang sulit mendengar orang lain berbicara. Meskipun sulit membaca gerak bibir orang lain, Angkie tidak pernah mengeluhkan hal itu.

Angkie bersama putrinya. (Foto: Instagram/@angkie.yudistia)

Mata adalah panca indera yang digunakan untuk melihat dan 'berbicara' baginya. "Tantangan terberat adalah berusaha mengerti pembicaraan, informasi, instruksi yang ada di sekitar," ujar perempuan asal Medan itu.

Sebelumnya, rutinasnya adalah berdoa agar pendengarannya bisa dikembalikan. Tentu bersamaan dengan itu ialah permintaan agar mendapat kelancaran rezeki. Terus menerus ia memanjatkan doa itu. Hingga akhirnya ia mengubah doanya.

Bukan meminta kesembuhan, tetapi berdoa agar dapat berguna bagi siapapun. Dengan kondisinya yang tunarungu, ia ingin melakukan hal berguna untuk siapa pun.

Ia teringat doanya saat umrah. Dengan kerendahan hati, untuk pertama kalinya ia mengubah doanya. "Jika memang saya diciptakan seperti ini, tolong tunjukkan lah apa yang harus saya lakukan?" kisah Angkie menirukan doanya kala itu.

Benar saja. Kegelisahan Angkie segera sirna. Ia juga tidak pernah mengeluh lagi. Pada akhirnya Angkie mengerti arti rasa syukur dalam hidup.

Menurutnya, Tuhan menjawab doanya dengan beragam cara. Banyak orang yang meminta pertolongan kepada dirinya. Itulah salah satu alasannya ia membangun Thisable Enterprise. Untuk membantu mereka yang memiliki kekurangan. "Menolongnya adalah bentuk rasa bersyukur saya untuk bisa merasa cukup dengan kadaan yang dimiliki," terangnya.

Semangat Angkie pantas ditiru. Berbekal doa dan kerja keras, ia tumbuh menjadi perempuan sukses. (Ikh)

Baca juga artikel mengenai perempuan difabel yang menginspirasi di sini Rachmita Harahap, Kartini 'Zaman Now' Pendobrak Diskriminasi Tunarungu

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH