Angka Pernikahan di Indonesia Terus Menurun, BPS Catat Terendah dalam Satu Dekade

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Rabu, 21 Januari 2026
Angka Pernikahan di Indonesia Terus Menurun, BPS Catat Terendah dalam Satu Dekade

Politikus PKS, Eko Yuliarti. (Foto: dok. PKS)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa angka pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan dan telah mencapai titik terendah dalam satu dekade terakhir.

Pada 2024, jumlah pernikahan di Indonesia tercatat sebanyak 1.478.302. Angka ini menurun dibandingkan sekitar 1,4 juta pernikahan pada 2023, serta turun signifikan dari 1,577 juta pernikahan pada 2022.

Artinya, dalam kurun waktu satu tahun saja, Indonesia kehilangan sekitar 128 ribu pernikahan.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka), Eko Yuliarti, menilai tren penurunan pernikahan ini merupakan sinyal penting adanya perubahan sosial yang mendalam, sekaligus mencerminkan akumulasi persoalan struktural dan kultural yang dihadapi generasi muda.

Menurut Eko, tekanan ekonomi menjadi faktor dominan yang menghambat generasi muda untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

“Sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, harga hunian yang tidak terjangkau, serta biaya hidup yang terus meningkat telah menciptakan hambatan nyata bagi generasi muda untuk melangkah ke jenjang pernikahan,” jelas Eko dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/1).

Baca juga:

Gubernur Pramono Ungkap Alasan Anak Muda Ragu Menikah: Harga Rumah Semakin Mahal

Eko menambahkan bahwa persoalan ekonomi bukan satu-satunya penyebab menurunnya angka pernikahan. Perubahan nilai dan orientasi hidup juga turut berkontribusi terhadap fenomena ini.

“Sebagian generasi muda menghadapi kecemasan terhadap komitmen jangka panjang,” tutur Eko.

Kondisi tersebut diperparah oleh kekhawatiran akan konflik rumah tangga, minimnya keteladanan keluarga harmonis di ruang publik, serta lemahnya literasi pranikah dan pendampingan bagi keluarga muda.

“Kondisi ini diperparah oleh lemahnya literasi pranikah dan minimnya pendampingan bagi keluarga muda,” ungkapnya.

Baca juga:

Bukan Korea, Ini WNA yang Paling Sering Menikahi Perempuan Indonesia

Menurut Eko, apabila tren penurunan angka pernikahan tidak direspons secara serius, dampak lanjutan yang ditimbulkan dapat mengancam ketahanan sosial bangsa. Dampak tersebut mulai dari penurunan angka kelahiran hingga melemahnya ketahanan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan nasional.

Oleh karena itu, PKS mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dan terukur dalam mendukung generasi muda melaksanakan pernikahan.

Negara, menurutnya, harus menegaskan bahwa pernikahan merupakan fase kehidupan yang didukung dan difasilitasi, bukan menjadi beban sosial dan ekonomi yang harus ditanggung sendiri oleh generasi muda.

“Kebijakan ramah keluarga harus menjadi ruh dalam pembangunan nasional,” ujarnya. (Knu)

#Pernikahan #PKS #Badan Pusat Statistik (BPS)
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Berita
Perkembangan Kasus Ijazah Gibran Terkini: Dari Hak Angket hingga Laporan Bareskrim
Perkembangan kasus ijazah Gibran terkini mencakup putusan MK, wacana pansus dan hak angket DPR, respons Jokowi, hingga pengaduan ke Bareskrim.
ImanK - Minggu, 11 Oktober 2026
Perkembangan Kasus Ijazah Gibran Terkini: Dari Hak Angket hingga Laporan Bareskrim
Indonesia
Kabut Asap Ganggu Malaysia, PKS Desak Prabowo Ambil Langkah Besar di ASEAN
PKS mendesak Presiden Prabowo Subianto memimpin upaya ASEAN mengatasi kabut asap lintas batas akibat karhutla dan memperkuat kerja sama dengan Malaysia.
Frengky Aruan - Sabtu, 10 Oktober 2026
Kabut Asap Ganggu Malaysia, PKS Desak Prabowo Ambil Langkah Besar di ASEAN
Indonesia
BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar
BPS mencatat perdagangan Indonesia surplus USD 7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Ekspor USD 193,64 miliar dan impor USD 186,39 miliar.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar
Indonesia
PKS Tidak Ingin Buru-Buru Bahas RUU Perampasan Aset, Banyak Persoalan Harus Diperjelas
salah satu persoalan yang perlu diperjelas adalah siapa yang bertanggung jawab terhadap aset setelah dilakukan penyitaan maupun perampasan.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 27 September 2026
PKS Tidak Ingin Buru-Buru Bahas RUU Perampasan Aset, Banyak Persoalan Harus Diperjelas
Indonesia
Jamin Bantuan Pemerintah Tetap Diberikan, Data Desil Diperbaharui Tiap 3 Bulan
Guna memastikan validitas data secara berkelanjutan, pemerintah membuka luas akses partisipasi publik melalui berbagai kanal pemutakhiran mandiri.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Jamin Bantuan Pemerintah Tetap Diberikan, Data Desil Diperbaharui Tiap 3 Bulan
Indonesia
DTSEN Terus Dimutakhirkan, BPS Pastikan Keluarga Penerima Bansos Tercatat Akurat
BPS memperkuat DTSEN untuk memperbaiki akurasi data bantuan sosial. Warga dapat mengajukan perbaikan data melalui sejumlah kanal resmi.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 23 September 2026
DTSEN Terus Dimutakhirkan, BPS Pastikan Keluarga Penerima Bansos Tercatat Akurat
Indonesia
Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan
Komoditas yang turut memberikan tekanan di wilayah tersebut antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan daging sapi.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan
Indonesia
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia
BPS dan Bank Dunia menggunakan sumber data yang sama, yakni Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Namun, cara pengukuran kemiskinan yang digunakan berbeda karena memiliki tujuan yang berbeda.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 11 September 2026
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia
Indonesia
Data Desil Tak Sesuai Kondisi Warga, DPR Minta Kemensos dan BPS Bergerak Cepat
DPR menyoroti ketidaksesuaian data desil yang berpotensi membuat warga miskin kehilangan bansos, subsidi energi, hingga bantuan pendidikan.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 04 September 2026
Data Desil Tak Sesuai Kondisi Warga, DPR Minta Kemensos dan BPS Bergerak Cepat
Indonesia
Mendag Ingin Harga Minyak Terkendali, Neraca Perdagangan Bisa Tetap Surplus
Pemerintah tidak hanya mengandalkan kondisi harga minyak untuk menjaga surplus perdagangan, tetapi juga akan terus mendorong peningkatan ekspor.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 02 September 2026
Mendag Ingin Harga Minyak Terkendali, Neraca Perdagangan Bisa Tetap Surplus
Bagikan