berita-singlepost-banner-1
Cerita Anda Hakim Soal Perjuangan untuk Merayakan Tahun Baru Imlek Dr. HM. Anda Hakim , SH. MH. menjelaskan latar belakang perayaan Imlek di Indonesia (MP/Rizki Fitrianto)
berita-singlepost-banner-2
berita-singlepost-mobile-banner-7

MerahPutih.Com - Masyarakat etnis Tionghoa yang ada di Indonesia saat ini sudah bernafas lega dan bahagia, lantaran tahun baru Imlek bisa dirayakan secara bebas di Tanah Air.

Suasana saat ini berbeda dengan kondisi dulu, tepatnya pada kurun waktu 1966 sampai 1998. Boro-boro perayaan Imlek meriah yang disaksikan masyarakat umum, ornamen bernuansa Tionghoa saja dilarang.

Baca Juga:

Anies Hadiri Parade Barongsai di Thamrin 10

Tapi tak mudah perayaan Imlek bisa leluasa diadakan di Indonesia. Ada perjuangan sejumlah warga ernis Tionghoa agar Imlek menjadi hari besar dan hari libur nasional Indonesia.

Anda Hakim jelaskan perjuangan Gus Dur lawan Amien Rais dalam mengizinkan perayaan Tahun Baru Imlek di Tanah Air
Pelaku sejarah pejuang Imlek sebagai hari besar nasional Dr. HM. Anda Hakim , SH. MH. (tengah) (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

"Pada prinsipnya masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia sekarang sudah bebas merayakan imlek," kata Anda Hakim seorang pelaku sejarah pejuang Imlek sebagai hari besar nasional.

Anda bercerita sejarah perjalanan Imlek sebagai hari libur nasional dimulai dari Yayasan Lestari Kebudayaan Tionghoa Indonesia (YLKTI). Kala itu YLKTI diketuai oleh Suhu Acai dan dirinya didapuk sebagai Ketua Penasehat YLKTI.

Awal perjuangan, kata Anda, ratusan Organisasi Masyarakat (Ormas) berbasis Tionghoa atau bernama YLKTI dan ormas Islam, Kristen, Budha dan Agama kepercayaan di Indonesia membuat surat audiensi untuk ditunjukan kepada pemangku kepentingan, terutama DPR RI, agar pemerintah bisa menjadikan Imlek sebagai hari besar di Indonesia.

Lanjut Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DKI tahun 2000-an itu, dalam perjuangan tersebut ada beberapa rekannya yang harus meregang nyawa karena kelelahan, kepanasan, tanpa mengenal waktu memperjuangkan Tahun Baru Imlek sebagai hari besar di Indonesia.

"Dalam perjuangan itu kita keluarkan waktu, tenaga, pikiran, materil maupun nyawa. Ada beberapa rekan kita ini kecapean akhirnya ada yang meninggal," papar Tokoh Islam Tionghoa Indonesia itu.

Dalam perjuangannya tersebut ada sedikit menuju titik terang, di mana Ketua MPR kala itu, Prof. HM. Amien Rais bersama masyarakat Tionghoa dan ormas Islam serta ikut juga ormas FPAB (Forum Persaudaran Anak Bangsa) Ketua Umumnya Jerry Hermawan Lo dan semua ormas Agama bernaung di YLKTI merayakan Imlek besar-besaran di Hotel Sahid Jakarta Pusat.

Tokoh Tionghoa Indonesia Anda Hakim SH
Tokoh Tionghoa Indonesia Dr. HM. Anda Hakim , SH. MH. (Foto: Dok Pribadi)

"Tahun 1998 profesor HM. Amien Rais dan kita rayakan Imlek bersama secara terang-terangan di hotel Sahid, yang kebetulan saya didaulat ke atas mimbar untuk membacakan permohonan kepada pemerintah supaya Imlek segera diproses menjadi Libur Nasional, seperti Idul Fitri, Natal dan lain sebagainya," kata dia.

"Bahkan Prof HM Amien Rais di podium Hotel Sahid dengan berapi-api mengatakan, kalau pemerintah tidak mau liburkan pada tanggal jatuh hari Imlek kata Profesor HM. Amien Rais kita sendiri yang memeriahkan di kalender atau libur sendiri," ungkap pengacara ternama ini.

Baca Juga:

Pemprov DKI Gelar Jakarta Perayaan Imlek, Catat Nih Tanggal Kegiatannya

Setelah itu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres Nomor 14 tahun 1967. Di mana Masyarakat Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek, pada tahun 2000.

Selanjutnya pengganti Gus Dur, yakni Presiden Megawati Soekarnoputri, menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001, yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Dan mulai tahun 2002, Imlek telah resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.(Asp)

Baca Juga:

Sejarah Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia

Kredit : asropih

berita-singlepost-mobile-banner-3

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


berita-singlepost-banner-4
berita-singlepost-banner-5
berita-singlepost-banner-6