Analisa Pengamat Mengapa PDIP Selalu Keok di Sumbar Megawati Soekarnoputri dibantu Sekjen PDIP Hasto Kristianto di Kantor DPP PDIP, Jakarta. (MP/Dery Ridwansah)

Merahputih.com - Pengamat politik Karyono Wibowo menilai, pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang mempertanyakan mengapa rakyat Sumatera Barat belum suka PDIP mencerminkan ada perhatian khusus terhadap wilayah itu.

Pernyataan tersebut menunjukkan ada kesadaran untuk mengevaluasi kinerja partai di wilayah itu. Dimana PDIP tidak pernah menang di Bumi Minangkabau dalam sepanjang sejarah pemilu.

"Munculnya kesadaran untuk mengevaluasi merupakan langkah maju. Namun, akan lebih baik, jika proses evaluasi dilakukan secara serius dan sistematis. Salah satunya memerlukan riset dan kajian secara holistik," jelas Karyono kepada Merahputih.com di Jakarta, Sabtu (5/9).

Baca Juga

Megawati Heran Warga Sumbar tak Suka PDIP

Sejumlah pertanyaan kerap muncul. Mengapa PDIP selalu kalah pemilu di Sumbar. Pun dalam pertarungan pemilihan presiden tidak pernah menang. Kekalahan di pilpres 2019 lalu juga masih menyisakan pertanyaan. Padahal pemerintahan Joko Widodo sudah memberi perhatian cukup dengan membangun sejumlah fasilitas di wilayah ini.

Fenomena itu mengafirmasi bahwa pendekatan kebijakan pembangunan fisik tidak cukup efektif 'menjinakkan' masyarakat Sumbar.

"Mengapa ini terjadi? Mungkin faktor geanologi politik dan ideologi masih dominan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan," jelas Karyono.

Jika disimak, geanologi politik masyarakat sumbar saat ini belum lepas dari politik aliran di masa lalu. Partai Masyumi sangat kuat di wilayah ini. Dalam konteks ideologis pengaruhnya masih kuat hingga sekarang, meskipun dalam konstalasi politik pasca Pemilu 1955 dan sejak Masyumi dibubarkan ada pergeseran.

Salah satu faktor lemahnya dukungan PDIP di Sumbar disebabkan karena kurang mencermati pergeseran politik yang terjadi. Misalnya, dalam konfigurasi politik lokal tidak ada tokoh lokal, PDIP tidak memiliki tokoh berpengaruh yang dapat menarik pemilih.

Padahal, dalam marketing politik dibutuhkan strategi endorsements tokoh yang berpengaruh sebagai pengepul suara atau vote getter. "Hal ini penting di tengah budaya patronase politik yang masih kuat," jelas Karyono.

Tangkapan layar Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memberikan arahan pada pengumuman 75 pasangan calon kepala daerah di Pilkada serentak secara virtual, di Jakarta, Selasa (11/8/2020). (ANTARA/Syaiful Hakim)
Tangkapan layar Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memberikan arahan pada pengumuman 75 pasangan calon kepala daerah di Pilkada serentak secara virtual, di Jakarta, Selasa (11/8/2020). (ANTARA/Syaiful Hakim)

Ia menambahkan, kekalahan PDIP di Sumatera Barat jika ditarik lebih jauh juga disebabkan juga oleh faktor sejarah hubungan Sukarno dengan sejumlah tokoh Sumbar, terutama dengan tokoh yang saat itu terlibat dalam PRRI/PERMESATA.

Sosok Sukarno dipandang sebagai pihak yang mengerahkan militer untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat yang membuat sosok Sukarno kurang diterima di Bumi Minangkabau.

Namun demikian, sejak reformasi telah terjadi pergeseran kekuatan politik yang menunjukkan masyarakat Sumbar semakin cair.

Hal itu dubuktikan dengan peta perolehan suara partai dalam sejumlah pemilu dimenangi partai berhaluan nasionalis yaitu Golkar (2004), Demokrat (2009), Golkar (2014), dan Gerindra (2019). Hanya pada Pemilu 1999 yang dimenangi oleh partai yang cukup dekat dengan pemilih Islam, yakni Partai Amanat Nasional.

Dalam sejarah pemilu di Sumbar memang tergolong fenomenal, yakni partai yang dekat dengan sosok Sukarno baik PNI, PDI dan PDIP tidak pernah menang.

Fenomena politik tersebut, semestinya mendorong pdip melakukan evaluasi secara holistik dengan melakukan penelitian yang tersistematis untuk menggali dan mengetahui perilaku masyarakat (pemilih) di Sumbar.

"Dengan melakukan riset secara komprehensif maka dapat dipotret pelbagai fenomena yang ada di dalam masyarakat Sumbar," papar Karyono.

Ia menyebut, tentu ada cara agar masyarakat Sumbar bisa menerima, menyukai dan memilih PDIP.

"Untuk meluluhkan hati masyarakat Sumbar memerlukan pendekatan persuasif dan beradaptasi dengan budaya lokal. Tdak cukup dengan cara-cara parsial, seporadis dan instan," tutup Karyono.

Ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri merasa heran kenapa masih banyak masyarakat di Sumatera Barat yang tidak suka terhadap partainya. Putri Presiden Soekarno itu mengaku kesulitan untuk memenangkan provinsi dan merebut hati masyarakat Sumatera Barat.

“Kalau saya melihat Sumbar itu, saya pikir kenapa rakyat di Sumbar itu sepertinya belum menyukai PDIP,” ujar Megawati dalam pidato arahan di sela-sela pengumuman calon kepala daerah gelombang V menuju Pilkada Serentak 2020, melalui telekonferensi, Rabu (2/9).

Baca Juga

Megawati ke Whisnu Buana: Terima Kasih Sudah Bantu Risma Bangun Surabaya

Padahal, kata Mega sang Ayah sangat dekat dengan dekat dengan tokoh-tokoh nasionalis dari Tanah Minang tersebut. “Kalau kita ingat sejarah bangsa, banyak orang dari kalangan Sumbar yang menjadi nasionalis. Yang pada waktu itu kerja sama dengan Bung Karno, seperti Bung Hatta yang sebenarnya datang dari Sumbar,” tambahnya.

Megawati pun meminta kader-kadernya untuk mempelajari dan mencari tahu kenapa PDIP belum bisa menang di Sumatera Barat dan daerah lainnya itu. “Tugas kita untuk mempelajari mengapa ad‎a daerah-daerah yang belum bisa atau belum mau (PDIP untuk bisa menang). Jadi itulah salah satu bagian dari kerja keras kita (untuk mencari tahu),” katanya. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH