Anak Tetap Bahagia dan Sehat Setelah Perceraian Dalam perceraian jauhkan anak sebagai korban. (Foto: Pexels/Kat Jayne)

TIDAK ada pasangan di dunia ini berniat cerai, apalagi yang sudah memiliki anak. Perceraian adalah pilihan terakhir yang paling berat. Jika masih berdua saja bukan masalah. Akan menjadi masalah bila sudah ada dalam kehidupan pernikahan.

Harus disadari bahwa korban dari perceraian adalah anak. Anak selalu berada di tengah konflik orangtuanya. Akan mudah menjelaskan pada anak yang sudah beranjak dewasa, karena memiliki pola pikir yang sudah matang. Bagaimana dengan anak-anak yang masih kecil. Laman Lifehack mengungkapkan ada beberapa poin yang dapat membuat anak-anak tetap dapat tumbuh kembang dengan baik dan bahagia.

cerai
Jangan jadikan anak sebagai sandera akibat perceraian. (Foto: Pexels/Noelle Otto)

Jauhkan dari Konflik

Kalau orangtua bertengkar, sebaiknya anak-anak tidak pernah melihat dan mendengar. Mereka bukan bagian dari konflik orangtua. Dalam proses perceraian jangan pernah libatkan anak di dalamnya, meskipun nantinya memang anak akan menjadi salah satu bagian yang diproses pada sidang perceraian.

Tetap memperlihatkan orangtua yang bercerai selalu dapat hadir dikala anak-anak membutuhkan. Harus dipahami bahwa pasangan yang akan bercerai akan bertemu kembali dalam situasi tertentu. Seperti wisuda, pernikahan atau apapun yang membutuhkan kehadiran orangtua.

Hak Asuh

Anak-anak yang masih kecil membutuhkan kehadiran orangtua kandungnya termasuk kedekatan. Hal yang lumrah bila anak-anak ingin bertemu dengan ayah atau ibunya yang ter[pisah karena perceraian. Jika anak-anak ingin bertemu dengan salah satu orangtua, bawalah ke tempat yang cenderung ramai, misalnya di sebuah resto di mal.

Tujuannya adalah tidak ada emosi yang keluar atau saling memaki. Di tempat umum orang akan cenderung menahan diri untuk tidak meledakan kemarahan. Orang akan menonton bila ada orang yang marah-marah di tempat umum. Celakanya bila ada yang merekam dan mengunggah ke media sosial.

Kalau orangtua yang bercerai tidak mau bertatapan muka, bisa dilakukan dengan mentransfernya langsung dari mobil ke mobil. Yang jelas jangan pernah menunjukan konflik pada anak-anak. Tentunya jangan melakukannya pada anak-anak balita yang masih membutuhkan pendampingan. Dapat juga dengan pendampingan dinas sosial ketika melakukan pertukaran ini.

cerai
Anak berhak tahu fakta yang terjadi dalam perceraian. (Foto: Pexels/Pixabay)


Selalu Jujur tapi Sesuaikan dengan Umur


Jangan pernah berbohong pada anak-anak! Selalu ungkapkan kenyataan yang terjadi namun sesuaikan penyampaiannya dengan umur anak-anak. Namun tidak perlu menyampaikan keseluruhan fakta yang ada. Biarkan waktu yang menjawab sesuai dengan umur anak-anak. Yakinkan anak-anak bahwa meskipun orangtua berpisah tapi cinta pada mereka tidak pernah berkurang. Jangan pernah membuat anak-anak berpikir bahwa perpisahan karena mereka.


Biarkan Mereka Bersedih


Bersedih karena perpisahan adalah normal. Mereka memang harus menjalani proses seperti itu. Pasangan yang berpisah pasti mengalami kesedihan yang sama. Jadi biarkan kesedihan hadir dalam batas yang wajar.

Meskipun tingkat pada anak-anak berbeda, namun mereka akan mengalami proses yang sama. Seperti pengingkaran, kemarahan, pengharapan, kesedihan dan penerimaan. Polanya bisa beragam bahkan ada yang mengalami berulang. Ini wajar saja, namun yang terpenting adalah ada pendampingan dan bantulah mereka untuk menguras semua emosinya. Tapi jangan berusaha untuk menyelesaikannya, mereka masih membutuhkan proses pemahaman dan dapat menerima kenyataan yang ada.


Konseling


Ada anak yang mulus saja menerima kenyataan orangtuanya berpisah. Adapula yang mengingkari kalau orangtuanya berpisah. Untuk anak seperti itu, orangtua harus mencari bantuan pihak ketiga yang mampu menanganinya secara profesional. Orangtua harus mampu melihat anak bila sudah bertindak atau berprilaku di luar kebiasaannya.

Gejaa yang nampak, seperti:

Kemarahan yang meledak

Penurunan nilai di sekolah

Selalu berargumentasi

Bandel di sekolah

Pola makan yang kacau

Menyakiti diri sendiri

Gangguan tidur

Depresi, seperti tidak bersemangat

Dekat dengan narkoba dan alkohol


Bila anak-anak sudah memperlihatkan gejala seperti itu, orangtua sudah harus membawa ke konseling profesional. Apalagi bila sudah berhubungan dengan penyimpangan depresi atau penyimpangan pola makan.

Orangtua dapat pula membawa anak-anak itu ke kelompok konseling. Disini anak-anak akan melihat bahwa mereka tidak sendirian. Ada anak-anak lain yang memiliki problem yang sama. Mereka akan lebih menunjukan sisi empati untuk menolong diri sendiri.

cerai
Kenali bentuk-bentuk depresi pada anak pasca orangtua bercerai. (Foto: Pexels/mohamed Abdelgaffar)


Jangan Menjelekan Mantan

Orangtua yang bercerai jangan sekali-kali menjelakan mantan! Mantan adalah orangtua dari anak-anak juga. Anak-anak masih mencintai orangtuanya, jangan sampai melukai hati mereka. Selalu ingatkan diri, bahwa anak-anak memilik hak untuk tetap bahagia dan sehat dalam kehidupannya. Tahan untuk tidak berkata jelek dan memaki mantan di depan anak-anak. Jika saling memaki, anak-anak akan terjebak dalam kebingungan.


Konsitensi dan Rutinitas


Anak-anak memiliki rutinitas dan konsistensinya sendiri. Seperti istirahat, mengerjakan PR, belajar, bermain atau hal-hal lainnya. Orangtua yang berpisah harus menyadari hal itu dan tetap menjaga konsistensi dan rutinitas itu dengan baik. Perubahan dalam kehidupan anak-anak bisa saja terjadi tapi rutinitas tak boleh berubah. Jangan menganggap aturan satu dengan yang lainnya lebih baik dan bebas dilanggar. Hal ini akan memudahkan anak-anak untuk menjalani masa transisinya. Pun anak-anak masih melihat meskipun orangtuanya berpisah tapi masih kompak membesarkan mereka.


Referensi Buku


Carilah buku anak-anak yang mengungkapkan tentang perceraian dalam situasi dan kondisi positif. Atau carilah buku yang banyak direkomendasikan oleh orangtua bercerai untuk membesarkan anak-anak mereka.


Prioritas Anak


Selalu mengingat bahwa anak-anak adalah prioritas dalam kehidupan, meskipun sudah berpisah. Meskipun sudah bercerai namun membesarkan anak-anak merupakan tugas orangtua. Walaupun nantinya sudah memiliki keluarga masing-masing, namun anak-anak dari pernikahan terdahulu tak dapat diabaikan. Memang tidak mudah, namun bukan mustahil untuk dilakukan. Selalu selaraskan apapun aktivitas sekarang dengan kehidupan anak-anak. (psr)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH