Amnesty Internasional Desak Ombudsman Selidiki Dugaan Kekerasan di Aksi 21-22 Mei Sejumlah massa Aksi 22 Mei menghindari granat gas air mata yang dilontarkan aparat Kepolisian untuk membubarkan massa di jalan MH. Thamrin Jakarta, Kamis, (22/5/2019). Foto: Merahputih.com / Rizki Fit

MerahPutih.com - Amnesty Internasional Indonesia sempat mendatangi Kantor Ombudsman RI pada Rabu (10/7) untuk melaporkan dugaan penyiksaan oleh aparat kepolisian dalam aksi 21-22 Mei. Amnesty Internasional meminta Ombudsman menyelidiki dugaan kekerasan di aksi tersebut.

"Jadi kami menyampaikan laporan Amnesty ke Ombudsman terkait dengan peristiwa 21-22 Mei. Kita menyerahkan video khusus terkait dengan dugaan penyiksaan dan perilaku buruknya oleh kepolisian, di video itu sebenarnya ada di beberapa tempat," ujar Manajer Riset Amnesty International, Papang Hidayat dalam keterangannya.

Kericuhan massa Aksi 22 Mei di jalan MH. Thamrin di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU), Jakarta, Kamis, (22/5/2019). Aksi 22 Mei menuntut BAWASLU mengungkap dugaan kecurangan pada Pemilu 2019 setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat nasional Pemilu 2019. Hasilnya pasangan nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin unggul 55,50 persen. Merahputih.com / Rizki Fitrianto
Kericuhan massa Aksi 22 Mei di jalan MH. Thamrin di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU), Jakarta, Kamis, (22/5/2019). Aksi 22 Mei menuntut BAWASLU mengungkap dugaan kecurangan pada Pemilu 2019 setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat nasional Pemilu 2019. Hasilnya pasangan nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin unggul 55,50 persen. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Polisi menilai dirinya sudah terbuka dan transparan soal proses hukum terhadap 10 anggota Brimob di Kampung Bali saat rusuh 21-22 Mei lalu.

BACA JUGA: Berkas 180 Pelaku Kerusuhan 22 Mei Segera Dikirim ke Kejaksaan

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menilai, Amnesty Internasional Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Sehingga, apabila memiliki bukti terkait perkembangan kasus 21-22 Mei, dia menyarankan tiap LSM menyerahkan bukti-bukti kepada Propam Polri.

"Amnesty kan LSM aja, dia punya bukti, serahkan ke Propam, Propam akan tindak lanjuti," kata Dedi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (11/7).

Menjelang malam massa aksi 22 Mei mulai melakukan pembakaran di beberapa titik di jalan MH. Thamrin, Jakarta, Kamis, (22/5/2019). Aksi 22 Mei menuntut BAWASLU mengungkap dugaan kecurangan pada Pemilu 2019 setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat nasional Pemilu 2019. Hasilnya pasangan nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin unggul 55,50 persen. Merahputih.com / Rizki Fitrianto
Menjelang malam massa aksi 22 Mei mulai melakukan pembakaran di beberapa titik di jalan MH. Thamrin, Jakarta, Kamis, (22/5/2019). Aksi 22 Mei menuntut BAWASLU mengungkap dugaan kecurangan pada Pemilu 2019 setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat nasional Pemilu 2019. Hasilnya pasangan nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin unggul 55,50 persen. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

BACA JUGA: Polri Buka-bukaan Ruwetnya Kasus Kerusuhan 21-22 Mei

Dedi mengatakan polri sudah menindaklanjuti laporan terkait dugaan kekerasan yang dilakukan anggota Polri pada 21-22 Mei lalu.

"Sudah ditindak, anggotanya udah ditindak. Jadi Ombudsman sudah melaporkan juga nanti ditindaklanjuti Propam, yang di Kampung Bali udah ditindak," kata Dedi. (Knu)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH