Aman Melakukan Transaksi Cryptocurrency dengan Menggunakan Platform Baru Ini Platform Biido memudahkan pengguna melakukan transaksi (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

TEKNOLOGI blockchain dan crytocurrency memang tengah menjadi topik hangat di seluruh dunia belakangan ini. Meskipun belum ada regulasi satu suara di setiap negara. Terutama di Indonesia sendiri, cryptocurrency belum dijadikan alat pembayaran yang sah.

Kenapa begitu? Karena bank Indonesia sendiri masih menyatakan bahwa hanya rupiah yang bisa menjadi alat pembayaran. Bukan masalah tunai atau menggunakan uang elektronik. Yang diaku ialah mata uangnya.

"Satu hal yang pasti. Regulasi di dunia internasional belum ada satu suara ya," ujar Rahmat Dwi Putranto," founder & CEO LegalGo saat ditemui merahputih.com di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (11/10).

Menurut Rahmat Indonesia ialah salah satu negara yang belum menerima adanya kehadiran cryptocurrency. Tapi bukan berarti seluruh negara di belahan dunia lain sudah menerima teknologi itu. Yang sudah bisa menerima contohnya Swiss, Jepang dan Australia. Pun setiap negara juga memiliki regulasi yang berbeda.

"Ada beberapa negara secara murni melarang, secara implisit melarang. Tapi ada juga yang mengatur berdasarkan rezim perpajakannya," tambahnya.

Saat peluncuran BIIDO (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Namun, negara yang sekarang ini sudah sangat akrab dengan cryptocurrency ialah Jepang. Sementara di Indonesia masih cryptocurrency masih dijadikan sebagai investasi oleh para penggunanya yang hanya berjumlah 0,4% dari seluruh populasi di Indonesia. Kalau Indonesia mau mengikuti Jepang, masih sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Karena semua kembali lagi kepada peraturan pemerintah.

Cryptocurrency memang belum akrab di Indonesia. Tapi, marketplace untuk aset digital sudah ada di Indonesia. Contohnya perusahaan yang satu ini. BIIDO merupakan sebuah platform marketplace yang bergerak di bidang aset digital. Pengguna cryptocurrency dapat memanfaatkan platform ini untuk melakukan transaki dan berbagai hal lainnya untuk kepentingan uang digital tersebut.

Di saat yang sama, BIIDO juga baru saja meluncurkan platformnya dalam bentuk website, www.biido.id. Menurut CEO BIIDO, Aditia Mokoginta, platform tersebut sangat ramah dengan para pengguna. "Kami create something simple untuk user interface," ujarnya. Contohnya biaya transaksi di platform ini hanya 0,2%. Dibandingkan exchange lain yang ada di market.

Aditia Mokoginta, masyarakat Indonesia masih memerlukan banyak edukasi mengenai cryptocurrency (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Selain itu, menurut Aditia, dalam transaksi crytocurrency keamanan harus paling diperhatikan. Meskipun tidak ada pihak ketiga dalam transaksi cryptocurrency. Ia pun menjamin platform tersebut Keamanannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pengguna dapat melakukan transaksi dengan tenang. "Begitu banyak case crypto exchange yang kehilangan dana," tambahnya.

Namun, ia mengaku masih banyak tantangan yang harus dilakukan untuk memperkenalkan platform ini ke masyrakat. Karena pengguna cryptocurrency memang masih sedikit. Karena itu, Biido juga memiliki rencana untuk memberikan workshop ke daerah-daerah untuk mengedukasi masyarakat awam. "Yang diperlukan sekarang ini edukasi kepada masyrakat yang belum tahu," imbuhnya.

Selain itu, kelebihan dari platform ini ialah memiliki token sendiri bernama BIIDO coin. Setiap transaksi memang akan dipotong fee. Tapi, bersamaan dengan itu pengguna juga bisa mendapatkan BIIDO coin dengan jumlah yang nilainya sama dengan biaya transaksi. Jadi, pengguna akan merasa sama sekali tidak dirugikan setiap melakukan transaksi. (ikh)

Baca juga: Blockchain yang Membuat Data Tak Bisa Dimanipulasi

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH