Ali Mochtar Ngabalin Sebut Koalisi Keumatan Pecah Belah Bangsa Presiden Jokowi bersama Ali Mochtar Ngabalin (Foto: Biro Pers Setpres)

MerahPutih.Com - Pertemuan sejumlah tokoh politik dengan Habib Rizieq Shihab di Mekah beberapa waktu lalu memunculkan istilah koalisi keumatan sebagai nama gabungan beberapa Parpol.

Nama tersebut muncul setelah HRS menginginkan adanya konsolidasi Gerindra, PKS, PAN dan PBB untuk menentukan satu nama Capres di Pilpres 2019 mendatamg.

Menyikapi hal itu, Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin memprotes keras penamaan koalisi karena dinilai tidak santun dan cenderung memecah belah bangsa.

"Menggunakan pilihan kata yang kurang santun, memecah belah rakyat, umat. Itu tidak benar," kata Ali Mochtar Ngabalin saat ditemui awak media di Gedung Patra Jasa Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (6/6).

Ali Mochtar Ngabalin bersama Presiden Jokowi dan para staf KSP
Ali Mochtar Ngabalin (ketiga dari kanan) bersama Presiden Jokowi dan para staf KSP (Foto: Biro Pers Setpres)

Menurut Politisi Golkar itu dari sekian juta rakyat Indonesia yang memilih Jokowi sebagai Presiden adalah umat Islam. Jadi dipertanyakan koalisi seperti apa yang dimaksud oleh mereka.

"Jutan rakyat indonesia yang memilih presiden Jokowi. Umat mana yang dimaksudkan," katanya.

Ali Mochtar Ngabalin pun mengimbau agar pihak oposisi menggunakan cara yang santun dalam berpolitik, tidak memecah kebhinekaan yang sudah lama terawat.

"Marilah berpolitik santun dengan cara mengedepankan akhlak karimah," imbaunya.

Terpisah, Kuasa Hukum Gerakan Nasional Penjaga Fatwa MUI (GNPF MUI) Kapitra Ampera menilai, terbentuknya koalisi keumatan yang diinisiasi PA 212 menjadi ketakutan sendiri bagi kawan maupun lawan.

Terlebih lagi yang direkomendasikan menjadi Capres adalah Dewan Pembina GNPF MUI yang tak lain adalah Habib Rizieq Shihab.

Kapitra Ampera
Kuasa hukum GNPF MUI, Kapitra Ampera. (MP/Fadhli)

"Tentunya ini manjadi ketakutan bagi pihak kawan dan lawan atau pihak istana," ujarnya.

Karena jelas saat Habib Rizieq Shihab direkomendasikan menjadi Capres 2019 ada kekhawatiran suara umat Islam akan beralih.

"Kalau HRS mencalonkan tentunya umat Islam akan lebih memilih HRS karena Gerindra nasionalis. HRS ini sudah lama berjuang, jadi massa pendukungnya terbina," kata Kapitra.

Sementara dari pihak pemerintah, koalisi akan menjadi ancaman karena sosok HRS yang sangat kritis bahkan cenderung ingin menjatuhkan wibawa pemerintah.

"Massa habib Rizieq itu sudah mengakar, sudah puluhan tahun artinya kalau dia masuk ke pimpinan formil atau tidak dia tetap pemimpin, makanya dia disebut imam basar, apalagi dia masuk kepemimpinan formil lebih mengancam lagi," pungkasnya.(Fdi)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Para Ulama 212 Bakal Tentukan Dukungan Pilpres Usai Lebaran

Kredit : fadhli


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH