Ali Audah, Maestro Penerjemah Sastra Arab Tanpa Ijazah Sekolah Ali Audah. (Foto: islami.co)

BOCAH kampung berpakaian kumal dan sobek itu sedang asyik bermain gundu. Sambil menunggu giliran main, Ali Audah, si bocah itu, menggurat serangkaian tulisan di tanah menggunakan kayu. Ia lantas mengejanya perlahan. Kegiatan menulis di tanah tersebut menjadi kegemarannya.

Ia memang tak bisa berlama-lama di dalam suatu ruangan. Tak heran bila bangku sekolah bukan pilihannya. Ali lebih memilih bermain layang-layang, gundu, atau mandi di kali ketimbang sekolah di madrasah ibtidaiah, sekolah dasar Islam setingkat SD.

Meski gemar bermain, Ali tak pernah kenyang ilmu pengetahuan. Ia senantiasa mencari pengetahuan baru melalui media apapu. Suatu ketika sang ibu memberikannya uang, lalu menyuruhnya membeli baju baru untuknya di pasar. "Sampai di pasar, saya justru membeli buku," kenang Ali pada petikan wawancara di majalah Berita Buku, 1996.

Belajar formal di sekolah, menurutnya, hanya menganggu waktu bermainnya saja. Ia tak betah berlama-lama di sekolah karena keinginan kuat untuk bermain bersama teman-temannya.

Ali Audah dan Sapardi Djoko Damono. (Foto/salihara.org)
Sapardi Djoko Damono dan Ali Audah. (Foto/salihara.org)

Pada usia 15 tahun, Ali memantapkan niatnya untuk menjadi seorang penulis. Saat itu, secara otodidak, dirinya telah belajar bahasa Arab, Inggris, Perancis, dan Jerman, melalui berbagai bacaan, fiksi maupun non fiksi.

Ia lantas memberanikan diri mengirim cepennya ke berbagai majalah di Jakarta pada masa Pendudukan Jepang. Namun, tak satu pun karangannya dimuat. Ali tak patah arang. Ia terus berkarya dan rutin mengirim tulisannya. Alhasil, pada tahun 1946, Ali Audah memenangi lomba mengarang sandiwara di Jawa Timur.

Raihan itu menjadi titik balik perjalanan karirnya. Ia terus menulis, cerpen, sajak, maupun naskah drama. Ia mengatakan kemahirannya menulis di bidang sastra tak lepas dari jasa besar sahabatnya, Muhammad Dimyati.

Geliatnya di dunia sastra juga banyak meninggalkan bukti. semisal buku semacam Bimbang (1962), Icih (1972), Ibn Khaldun: Sebuah Pengantar (1983), dan Dari Khazanah Dunia Islam (1999). Di antara karya tersebut, justru Ali lebih tersohor sebagai maestro penerjemah karya-karya atau literatur Arab.

Bekerja Sebagai Penerjemah

Awal karir sebagai penerjemah, Ali Audah tidak mempunyai fokus dalah hal penerjemahan buku. Buku berbahasa Ingris, dan bahasa lain yang ia kuasai semuannya diterjemahkan. Hingga ia bertemu dengan penulis Asrul Sani. ”Mengapa tidak terjemahkan bahasa Arab saja yang masih jarang,” kenang Ali dikutip Kompas, Senin,18 Juli 2016.

Semenjak itu, Ali fokus dalam menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab. Namun, tak semua buku yang baru dan laku di pasaran yang ia terjemahkan. “Saya hanya menerjemahkan karya-karya besar yang saya nilai bermutu dan bermanfaat,” ujar Ali Audah kepada Budiman S. Hartoyo dari majalah Berita Buku.

Dalam dunia penerjemah, Ali sangat menentang prinsip yang menggolongkan seorang penerjemah sebagai karya kelas dua. Menurutnya, karya terjemahan yang baik sesungguhnya juga sebuah karya kreatif, tidak kurang berharganya dibanding karya asli.

"Seperti di Mesir, misalnya, masyarakat di sana lebih mengenal Habib Ibrahim sebagai pengarang Al-Buasa. Padahal itu terjemahan dari Les Miserables (1826) karya pengarang Prancis terkenal, Victor Hugo (1802-1885)," jelasnya menentang pendapat jelek terkait karya terjemahan.

Selama bekerja sebagai penerjemah, Ali Audah sudah menerjemahkan beberapa buku, di antaranya ”Lereng Bukit: Sebuah Kisah dari Palestina” (1960), ”Genta Daerah Wadi” (1967), ”Sejarah Hidup Muhammad” (1972), dan ”Kisah-Kisah Empat Negara” (1982).

Harapan Ali Audah untuk Masyarakat Indonesia

Sebagai tokoh yang tak terlalu menonjol di depan layar. Ali menyampaikan harapan besar bagi masyarakat Indonesia. Ia meminta penggunaan bahasa Indonesia di kalangan kaum muda semakin lebih baik. Saat ini, anak muda cenderung lebih bangga berbahasa asing, khususnya Inggris. ”Padahal, bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa kita,” ucap Ali.

Menurut dia, pengaruh globalisasi menyebabkan kebanggaan berbahasa Indonesia tergerus. ”Kalau kita salah berbahasa Indonesia, justru dibiarkan. Namun, kalau salah berbahasa Inggris, efek malunya besar. Seyogianya, kita lebih malu jika berbahasa Indonesia dengan buruk,” tutur Ali. (*)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH